Remaja Juga Punya Peran dalam Pencegahan Stunting

    Raka Lestari - 27 Agustus 2020 08:05 WIB
    Remaja Juga Punya Peran dalam Pencegahan Stunting
    Ilustrasi-Freepik
    Jakarta: Stunting masih menjadi isu besar di Indonesia. Peran dari berbagai lapisan masyarakat termasuk pemerintah juga merupakan hal yang sangat diperlukan.

    Salah satunya adalah kelompok remaja. Kelompok usia potensial yang bisa dilibatkan dalam berbagai program pencegahan stunting sejak dini.

    Pengamat kesehatan dr. Reisa Broto Asmoro setuju bahwa jika pada masa remaja tidak mendapatkan ilmu tentang gizi, akan sulit ke depannya dalam kehidupan berkeluarga. Dan tentunya hal tersebut bisa berpengaruh terhadap risiko anak yang dilahirkan mengalami stunting.

    “Indonesia darurat stunting. Kita butuh gerakan yang nyata, yang bisa mengubah kondisi ini. Kondisi anak yang terkena stunting tidak bisa diubah, yang penting adalah bagaimana kita harus menyelamatkan generasi setelahnya,” ujar dr. Reisa, dalam seri webinar: Saatnya Remaja Cegah Stunting, Rabu, 26 Agustus 2020.

    Menurut dr. Reisa, saat ini tidak ada ilmu parenting di sekolah. Biasanya di sekolah hanya diajarkan mengenai sistem reproduksi.

    "Oleh karena itu, sudah seharusnya pemerintah memasukkan ilmu parenting di masa remaja, dimana pada usia rasa ingin tahu mereka sangatlah besar. Kalau tidak punya pengetahuan, mereka bisa tidak siap jika harus merawat anak nantinya,” tutur dr. Reisa.

    “Edukasi di usia remaja, sejaka usia 10 – 19 tahun adalah masa krusial. Harus tepat informasinya, apalagi di Indonesia cukup banyak mitos yang belum tentu benar tetapi lebih dipercaya. Dan yang ditakutkan adalah info yang belum tentu benar ini, akan mereka bawa terus sampai nanti mereka punya anak,” tambah dr. Reisa.

    Sementara itu Indiana Basitha, Program Advocacy and Communication Manager Tanoto Foundation, mengungkapkan alasan remaja perlu dilibatkan dalam pencegahan stunting. Yaitu karena banyak yang masih menyangka bahwa isu stunting hanya untuk orang tua dan pasangan yang sudah menikah.

    “Padahal sebenarnya stunting adalah sebuah siklus. Jika calon ibu punya asupan gizi kurang sejak remaja, ia berisiko punya anak kurang gizi dan si anak akan mencontoh pola makan ibunya dan siklus tersebut akan terus berlanjut,” tutup Basitha.

    (FIR)


    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id