comscore

Mengenal Kanker Paru-paru yang Diderita oleh Sutopo Purwo Nugroho

Yatin Suleha, Dhaifurrakhman Abas - 08 Juli 2019 10:00 WIB
Mengenal Kanker Paru-paru yang Diderita oleh Sutopo Purwo Nugroho
Kepala Pusat Data dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Sutopo Purwo Nugroho. (Foto: MI/Rommy Pujianto)
Kanker paru-paru merupakan penyakit dengan ciri khas adanya pertumbuhan sel yang tidak terkontrol pada jaringan paru-paru. Sebagian besar kanker yang mulai di paru-paru, yang dikenal sebagai kanker paru primer, adalah karsinoma yang berasal dari sel epitelium. Dilansir dari Wikipedia, jenis kanker paru yang utama adalah SCLC (kanker paru sel kecil), atau disebut juga kanker sel gandum, dan NSCLC (kanker paru non-sel-kecil). Gejala paling umum adalah batuk (termasuk batuk darah), berat badan turun dan sesak napas.


Jakarta: Kepergian Dr. Sutopo Purwo Nugroho, M.Si., APU, Kepala Pusat Data, Informasi, dan Hubungan Masyarakat di BNPB karena kanker paru-paru stadium empat yang dideritanya membuat masyarakat merasa kehilangan. Sosoknya yang dikenal tak lelah dalam memberikan berbagai informasi telah berpulang kembali ke Tuhan YME. Dalam cuitan Twitter, Raisa juga ikut berbelangsukawa.
"Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un, turut berduka cita atas meninggalnya Bapak Sutopo PN. Semoga beliau diterima di sisi-Nya. Aamiin," ucap Raisa dalam Twitter-nya @raisa6690.

Tentang kanker paru-paru

Dr. Sita Andarini SpP(K), Ph.D, dari Departemen Pulmonologi dan Kedokteran Respirasi, Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia mengatakan kanker ini sangat pintar. Ia memiliki kemampuan untuk lari dari radar sistem imun tubuh kita, sehingga sering tidak terdeteksi oleh sistem imun.

Menurut American Cancer Society, sebanyak 20 persen pasien kanker paru-paru bukan perokok. Penyebabnya bisa dilihat dari beberapa faktor, seperti perokok pasif, faktor lingkungan, atau mutasi gen.

Gejala kanker paru

Seperti dilansir dari Kemenkes, gejala klinis kanker paru tidak khas tetapi batuk, sesak napas, atau nyeri dada (gejala respirasi) yang muncul lama atau tidak kunjung sembuh dengan pengobatan biasa pada “kelompok risiko” harus ditindak lanjuti untuk prosedur diagnosis kanker paru.

Gejala yang berkaitan dengan pertumbuhan tumor langsung, seperti

1. Batuk
2. Hemoptisis
3. Nyeri dada dan sesak napas/stridor. 

Batuk merupakan gejala tersering (60-70 persen) pada kanker paru. Gejala lain berkaitan dengan pertumbuhan regional, seperti efusi pleura, efusi perikard, sindorm vena kava superior, disfagia, Pancoast syndrome, paralisis diafragma. 

Mengenal Kanker Paru-paru yang Diderita oleh Sutopo Purwo Nugroho
(Kepala Departemen Patologi Klinik dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, dr. Lisnawati, SpPK. Foto: Dhaifurrakhman Abas /Medcom.id)

Pancoast syndrome merupakan kumpulan gejala dari kanker paru yang tumbuh di sulkus superior, yang menyebabkan invasi pleksus brakial sehingga menyebabkan nyeri pada lengan, sindrom Horner (ptosis, miosis, hemifacial anhidrosis).

Keluhan suara serak menandakan telah terjadi kelumpuhan saraf atau gangguan pada pita suara. Gejala klinis sistemik yang juga kadang menyertai adalah penurunan berat badan dalam waktu yang singkat, nafsu makan menurun, demam hilang timbul. 

Gejala yang berkaitan dengan gangguan neurologis (sakit kepala, lemah/parese) sering terjadi jika telah terjadi penyebaran ke otak atau tulang belakang. Nyeri tulang sering menjadi gejala awal pada kanker yang telah menyebar ke tulang. 

Deteksi kanker paru-paru

Dari laman Kemenkes juga memaparkan hingga saat ini belum ada metode skrining yang sesuai bagi kanker paru secara umum. Metode skrining yang telah direkomendasikan untuk deteksi kanker paru terbatas pada kelompok pasien risiko tinggi.

Kelompok pasien dengan risiko tinggi mencakup pasien usia >40 tahun dengan riwayat merokok ≥30 tahun dan berhenti merokok dalam kurun waktu 15 tahun sebelum pemeriksaan, atau pasien ≥50 tahun dengan riwayat merokok ≥20 tahun dan adanya minimal satu faktor risiko lainnya. 

Faktor risiko kanker paru lainnya adalah pajanan radiasi, paparan okupasi terhadap bahan kimia karsinogenik, riwayat kanker pada pasien atau keluarga pasien, dan riwayat penyakit paru seperti PPOK atau fibrosis paru.

Pada pasien berisiko tinggi, dengan anamnesa dan pemeriksaan fisik yang mendukung kecurigaan adanya keganasan pada paru-paru, dapat dilakukan pemeriksaan low-dose CT scan untuk skrining kanker paru setiap tahun, selama tiga tahun, namun tidak dilakukan pada pasien dengan komorbiditas berat lainnya. Pemeriksaan ini dapat mengurangi mortalitas akibat kanker paru hingga 20 persen.

Mengenal Kanker Paru-paru yang Diderita oleh Sutopo Purwo Nugroho
(Dr. Sita Andarini SpP(K), Ph.D, dari Departemen Pulmonologi dan Kedokteran Respirasi, Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Foto: Dhaifurrakhman Abas /Medcom.id)

Metode imunoterapi bagi kanker paru-paru

Dr. Sita Andarini SpP(K), Ph.D, mengatakan, ada beberapa cara medis dalam memberantas penyakit kanker paru-paru. Misalnya saja kemoterapi dan operasi. Meski begitu, teranyar, para ahli medis telah menemukan pengobatan yang baru untuk melawan kanker paru-paru, yaitu dengan metode imunoterapi.
 
“Beberapa penelitian menunjukkan, pasien kanker paru yang diberikan imunoterapi memiliki respons terapi yang lebih baik ketimbang kemoterapi. Perkembangan tumor yang bisa dihentikan dan memperpanjang harapan hidup,” ungkap dr. Sita. 

Dr. Sita bilang, konsep imunoterapi adalah memberdayakan sel-sel imun agar lebih aktif melawan sel kanker. Secara ringkas, imunoterapi merupakan cara “memperpintar” sel imun tubuh agar bisa mendeteksi sel-sel kanker paru, yang tadi mengelabui.

Sementara itu, Kepala Departemen Patologi Klinik dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, dr. Lisnawati, SpPK, menjelaskan, sel-sel imun dalam tubuh tersebut diaktifkan untuk melawan sel kanker, dengan menggunakan obat pembrolizumab atau anti PD-L1.
 
Pembrolizumab tersebut lantas akan bekerja dengan cara memutus ikatan antara reseptor PD1 yang ada di sel-sel limfosit T dengan PD-L1 yang ada di permukaan sel-sel kanker. Jika berhasil dipisah, sistem imun akan bisa memberantas sel kanker yang semula tak terdeteksi.
 
“Terapi anti PD-L1 dimaksudkan untuk memutus ikatan PD1 dengan PD-L1, sehingga sel T kembali aktif membunuh sel-sel tumor,” jelas dia.

Tetapi, imunoterapi tidak bisa langsung diterpakan pada pasien kanker paru-paru. Para pasien harus diperiksa dahulu oleh tim medis. Biasanya, imunoterapi hanya efektif jika diberikan pada pasien yang sudah mengalami ekspresi PD-L1 lebih dari 50 persen.
 
“PD-L1 ini sangat individual, artinya hanya efektif diberikan pada pasien kanker paru yang sel-sel tumornya menunjukkan ekspresi PD-L1 lebih dari 50 persen,” tambahnya.
 
Adapun dalam penelitian yang dilakukan, Anti PD-L1 pembrolizumab bisa membuat pasien kanker paru mengalami masa tumor tidak berkembang selama 10 bulan. Hasil ini didapatkan melalui pengamatan di Rumah Sakit Persahabatan pada pasien-pasien yang diberikan imunoterapi dengan metode pembrolizumab.



(TIN)

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

 

 

 

Komentar

LOADING
Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

  1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
  2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
  3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
  4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

Anda Selesai.

Powered by Medcom.id