Dr. Syahrizal Syarif: Mutasi Virus Merupakan Hal yang Tak Perlu Dikhawatirkan

    Raka Lestari - 14 September 2020 16:01 WIB
    Dr. Syahrizal Syarif: Mutasi Virus Merupakan Hal yang Tak Perlu Dikhawatirkan
    Haruskah khawatir dengan mutasi covid-19 yang disebut dengan D614G? Berikut jawaban Epidemiolog UI. (Foto: Dok. Prasesh Shiwakoti (Lomash)/Unsplash.com)
    Jakarta: Beberapa waktu belakangan ini ditemukan virus korona jenis baru yang disebut dengan D614G. Jenis baru ini adalah variasi dari strain asli virus korona yang pertama kali dilaporkan di kota Wuhan, Tiongkok pada Desember lalu.

    Menanggapi hal tersebut, Epidemiolog Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia (FKM-UI), dr. Syahrizal Syarif, MPH. PhD, menjelaskan bahwa masyarakat sebaiknya tidak perlu khawatir mengenai hal tersebut. 

    “Mengenai mutasi covid-19 itu sebaiknya masyarakat tidak perlu khawatir dan mutasi pada virus merupakan hal yang biasa. Virus itu memang bisa shifting dan drifting. Kalau shifting itu antarvirus bisa terjadi pertukaran genetik, bahkan bisa hybrid atau kawin. Sedangkan drifting itu rantai basa perubahan protein permukaan virus,” ujar dr. Syahrizal saat dihubungi Medcom.id. 

    Ia juga mencontohkan bahwa mutasi virus juga pernah terjadi pada kasus H1N1 atau Flu Babi yang terjadi pada tahun 2009 lalu. Sehingga menurut dr. Syahrizal, permasalah mengenai mutasi dari covid-19 sebaiknya tidak perlu dibesar-besarkan. 

    “Ancaman mengenai virus atau pandemi lain yang akan terjadi di masa mendatang, itu soal lain. Sekarang lebih baik fokus saja terlebih dulu pada covid-19 yang memang sudah ada di depan mata,” tambah dr. Syahrizal. 

    Mengenai kapan pandemi covid-19 berakhir, dr. Syahrizal mengatakan bahwa itu semua tergantung dari kemampuan masing-masing negara.

    “Kalau negara-negara maju kemungkinan bisa lebih cepat. Bahkan mungkin di kuartal I 2021 mungkin vaksin sudah tersedia di negara-negara maju. Di Indonesia sendiri tentu akan lebih lama dari itu,” ujar dr. Syahrizal. 

    “Akan tetapi, meskipun vaksin ditemukan tidak menjamin. Kekebalan dari vaksin hanya sekitar dua tahun. Dan kita harus mendapatkan minimal dua dosis vaksin,” tutup dr. Syahrizal. 

    (TIN)


    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id