Alur Pemeriksaan Lab Balitbangkes Soal Virus Korona

    Sunnaholomi Halakrispen - 13 Februari 2020 06:00 WIB
    Alur Pemeriksaan Lab Balitbangkes Soal Virus Korona
    Prosedur pemeriksaan spesimen yang dilakukan di Lab. Badan Litbangkes Kemenkes sudah sesuai dengan standar Badan Kesehatan Dunia (WHO). (Foto: Dok. Medcom.id/Sunnaholomi Halakrispen)
    Jakarta: Novel coronavirus (2019-nCoV) atau yang biasa dikenal dengan virus korona telah resmi disebut WHO (World Health Organization) sebagai Covid-19. Dan merujuk pada pemberitaan dalam Medcom.id sebelumnya nama Covid-19 diambil dari kata "corona," "virus" dan "disease."

    Sementara angka 19 merepresentasikan tahun saat virus baru itu pertama kali muncul. WHO mencatat Covid-19 muncul pada 31 Desember 2019.

    Dan pemeriksaan di laboratorium Badan Litbangkes Kementerian Kesehatan RI dilakukan dengan alur yang tidak singkat.

    Hingga 10 Februari 2020 pukul 18.00 WIB ada 64 spesimen Covid-19 yang dikirim dari 16 Provinsi ke Laboratorium Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan (Litbangkes), Kementerian Kesehatan. Hasilnya, sebanyak 62 spesimen negatif nCoV dan dua spesimen dalam proses pemeriksaan.

    Sebanyak 16 Provinsi tersebut adalah DKI 14 spesimen, Bali 11 spesimen, Jawa Tengah 7 spesimen, Jawa Barat 6 spesimen, Jawa Timur 6 spesimen, Banten 4 spesimen, Sulawesi Utara 4 spesimen.

    Kemudian, DIY 3 spesimen, Kalimantan Barat 2 spesimen, Jambi 1 spesimen, Papua Barat 1 spesimen, NTB 1 spesimen, Kepulauan Riau 1 spesimen, Bengkulu 1 spesimen, Kalimantan Barat 1 spesimen, dan Sulawesi Tenggara 1 spesimen.

    Prosedur pemeriksaan spesimen yang dilakukan di Lab. Badan Litbangkes Kemenkes ini sudah sesuai dengan standar Badan Kesehatan Dunia (WHO).

    Kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan Biomedis dan Teknologi Dasar Kesehatan, Dr. dr. Vivi Setiawaty, M.Biomed mengatakan, pemeriksaan spesimen mengikuti standar WHO dan dikerjakan di Lab Biosafety Level (BSL) 2.

    “Itu sudah ada pedomannya dan semua negara menggunakan BSL 2. Kita tidak keluar dari alur minimal yang ditetapkan WHO,” ujar Vivi, di Kantor Badan Litbangkes, Jakarta Pusat.

    Fasilitas di Lab Litbangkes, lanjut dr. Vivi, terdapat fasilitas BSL 2, BSL 3 dan Lab Biorepository. Fungsinya, untuk penyimpanan materi genetik juga spesimen klinis dari pasien.

    “Setiap tahun WHO melakukan quality assurance atau akreditasi ke lab kami, dan tiap tahun memang ada orang dari WHO datang untuk akreditasi Lab,” paparnya.

    Prosedur pemeriksaan spesimen di Lab Badan Litbangkes mulai dari Penerimaan Spesimen, Pemeriksaan Spesimen, dan Pelaporan. Pada tahap Penerimaan Spesimen, spesimen diambil dari pasien di rumah sakit rujukan kemudian dikirim ke Lab Badan Litbangkes.

    Spesimen yang diterima Lab Badan Litbangkes tidak cuma 1 spesimen, tapi minimlal 3 spesimen dari 1 pasien. Kemudian, masuk pada tahap Pemeriksaan Spesimen.

    Pada tahapan ini, spesimen yang diterima Lab Badan Litbangkes diekstraksi untuk diambil RNA nya. Setelah RNA didapat lalu dicampurkan dengan Reagen untuk pemeriksaan dengan metode Reverse Transcriptase Polymerase Chain Reaction (PCR).

    PCR merupakan pemeriksaan dengan menggunakan teknologi amplifikasi asam nukleat virus, untuk mengetahui ada tidaknya virus / DNA virus, dan untuk mengetahui genotipe virus yang menginfeksi bisa dilakukan sekuensing. Setelah itu, dimasukkan ke mesin yang gunanya untuk memperbanyak RNA supaya bisa dibaca oleh spektrofotometer.

    Hasilnya, akan didapat positive control dengan gambaran kurva sigmoid, sedangkan negative control tidak terbentuk kurva (mendatar saja). Ini adalah satu quality assurance untuk memastikan apa yang diperiksa itu benar atau tidak, kemudian ada kontrol lainnya.

    Jadi, untuk mengerjakan pemeriksaan spesimen tersebut, banyak hal yang harus terpenuhi. Sebelum, menyatakan bahwa sampel yang diperiksa positif atau negatif.

    “Jadi kalau positif, dia (sampel) harus menyerupai dengan positive controlnya. Jadi selama ini spesimen yang diperiksa negatif karena semua datar menyerupai negative kontrolnya,” tuturnya.

    Setelah itu masuk pada tahap pelaporan, Vivi mengatakan memang ada alur yang harus dilakukan untuk sampai pada palaporan hasil.

    “Kita semua bekerja sesuai pedoman WHO bahwa pengambilan spesimen tidak dilakukan sekali tapi beberapa spesimen pada satu orang pasien,” pungkasnya.



    (TIN)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id