Jangan Menyepelekan Protokol Kesehatan Covid-19

    Kumara Anggita - 18 Mei 2020 09:43 WIB
    Jangan Menyepelekan Protokol Kesehatan Covid-19
    Ilustrasi-Pexels
    Jakarta: Kasus penyebaran covid-19 masih terjadi di mana pemerintah terus menegaskan tentang pemberlakuan protokol kesehatan.

    Sayangnya, imbauan itu tak selalu diindahkan, bahkan cenderung menyepelekan. Dr. Muhammad Yusuf. SpOG(K).Onk menekankan, tidak seorangpun berhak menyepelekan kasus new coronavirus ini.

    Dr. Yusuf, sapaannya, sangat memahami kondisi penyebaran covid-19 berdampak pada psikologis masyarakat. Bisa membuat masyarakat merasa putus asa, lantaran tak tahu kapan semua ini akan berakhir. Kapan kita harus terus berada di rumah, serta kapan kita bisa merasakan kehidupan yang seperti dulu lagi.

    "Saya pahami itu. Tapi jangan sampai beban yang luar biasa berat ini kita jadikan sebagai dasar untuk mengatakan bahwa virus korona ini adalah virus yang biasa-biasa saja (menyepelekan)," ujar dokter yang turut menangani pasien covid-19 itu, kepada Medcom.id.

    Semua pihak harus kembali melihat fakta yang ada. Yakni virus ini telah menginfeksi hampir 4 juta orang di seluruh dunia. Bahkan di Indonesia, kasus ini menginfeksi sebanyak 17.514 orang dan korban meninggal dunia mencapai 1148 jiwa, per Minggu, 17 Mei 2020.

    Dr. Yusuf menyatakan, bahwa perbandingan antara korban meninggal di Indonesia dengan jumlah keseluruhan kasus covid-19 itu hampir mencapai angka 7 dan 8 persen. Angka tersebut sangat tinggi. Sebab, terjadi hanya dalam tempo dua bulan.

    "Tadinya orangnya sehat-sehat, tiba-tiba kena virus corona (covid-19), meninggal. Jadi kalau mereka menanggap bahwa korona ini bukan virus yang berbahaya, mereka harus melakukan validasi terhadap data yang mereka miliki dengan mengunjungi rumah sakit rujukan covid-19 di Indonesia," paparnya.

    Apabila ingin melakukan validasi data tanpa mempercayai media masa, siapapun masyarakat bisa mengecek langsung ke rumah sakit rujukan yang tersebar banyak di Indonesia. Misalnya, di RS Persahabatan, RS Penyakit Infeksi Sulianti Saroso, dan lainnya.

    Bahkan, kata Dr. Yusuf, bisa juga datang ke Kementerian Kesehatan RI untuk bertanya. Cara lainnya, menghubungi dokter-dokter yang berkompeten untuk menjelaskan kondisi covid-19.

    "Jangan hanya mengambil data-data yang ada di google, kemudian menginterpretasikan sendiri. Kemudian dikeluarkan sebagai konten yang menurut pendapat mereka. Tanpa mereka pertimbangkan bagaimana dampaknya terhadap orang lain ataupun followers mereka," tandasnya.

    Setelah mengetahui tentang fakta covid-19 dari sumber yang valid, penyebaran informasi pun menjadi kredibel. Penekanan itu disampaikan Dr. Yusuf agar tidak terjadi lagi perspektif orang. Terlebih influencer, yang disebarluaskan ke khalayak luas, namun bertolak belakang dengan protokol kesehatan terkait covid-19.



    (FIR)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id