Mengapa Menguap Bisa Menular?

    Raka Lestari - 14 November 2019 06:05 WIB
    Mengapa Menguap Bisa Menular?
    55 persen orang yang memikirkan tentang menguap akan langsung melakukannya dalam waktu 5 menit. (Ilustrasi-Physicalculturist)
    Jakarta: Menguap adalah respon tubuh yang terjadi ketika Anda sudah mulai merasakan kantuk. Dan mungkin Anda menyadari bahwa menguap bisa menular.

    Hal ini cukup sering terjadi jika teman Anda menguap, maka Anda atau teman lain pun akan ikut menguap juga. Namun apakah menguap benar-benar menular?

    Faktanya adalah menguap bisa menular. “Satu hal yang pasti adalah menguap jelas-jelas bisa menular. Begitu juga yang berkaitan dengan menguap, seperti dengan memikirkannya, mendengarnya, membacanya, atau melihat seseorang melakukannya dapat menular,” ujar Robert R. Provine, ahli saraf dan profesor psikologi di University of Maryland, Baltimore County.

    Menurut Provine, 55 persen orang yang memikirkan tentang menguap akan langsung melakukannya dalam waktu 5 menit. "Dan menguap yang menular juga bisa terjadi pada spesies lainnya, semua spesies vertebrata melakukannya," tambah Provine.

    “Menguap adalah salah satu perilaku yang dikembangkan. Pada janin, menguap akan muncul pada usia sekitar 11 minggu setelah pembuahan,” kata Provine.

    Meskipun manusia akan menguap saat dilahirkan, kemampuan menguap karena melihat orang lain melakukannya baru bisa dilakukan beberapa tahun setelahnya.

    Menurut Provine, meskipun melihat orang menguap merupakan hal yang menyenangkan tetapi hal itu juga bisa menjadi cara utama untuk menyamakan satu perilaku dalam kelompok, seperti waktu tidur.

    "Dan karena menguap terjadi selama transisi, seperti saat bangun tidur, sebelum tidur, atau ketika merasa bosan, menguap juga bisa membantu tubuh mengubah kemampuan fisiologis tubuh,” terangnya.

    Namun tidak semua orang setuju bahwa menguap bisa menular. Sebuah studi yang dilakukan pada tahun 2017 dalam Adaptive Human Behavior and Physiology, sebuah eksperimen yang dilakukan oleh Rohan Kapitány, seorang psikolog eksperimental di Universitas Oxford menemukan sebaliknya.

    Setelah meninjau literatur dan melakukan eksperimennya sendiri pada sekelompok mahasiswa, Kapitány menyimpulkan bahwa ketika satu orang menguap, belum tentu bisa membuat orang lain menguap.

    Dengan kata lain, tampaknya tidak ada hubungan kausal antara keduanya. Menurutnya, mungkin karena Anda melihat orang lain menguap juga dan itu merupakan hanya kebetulan saja.





    (YDH)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id