Jangan Abaikan Haid dengan Sedikit Pendarahan

    Torie Natalova - 30 Maret 2019 12:57 WIB
    Jangan Abaikan Haid dengan Sedikit Pendarahan
    Jangan Abaikan Haid dengan Sedikit Pendarahan (Foto: gettyimages)



    Jakarta: Periode haid yang berat terkadang memicu berbagai reaksi lainnya seperti kram perut, kembung dan lemas karena banyaknya darah yang keluar. Ketika periode ringan alias hipomenore terjadi, ini akan terasa lebih ringan untuk Anda.

    Meskipun darah yang keluar sedikit membuat Anda lebih nyaman, itu bisa menjadi pertanda ada sesuatu yang salah dalam tubuh Anda. Spesialis endokrinologi reproduksi Lina Akopians mengatakan bahwa haid yang ringan dapat disebabkan oleh masalah hormonal atau struktural, yang berarti sesuatu terjadi pada organ dalam tubuh Anda.

     



    Berikut adalah beberapa alasan yang mungkin dapat menjelaskan mengapa aliran darah Anda menjadi lebih sedikit daripada biasanya.

    1. Anda sedang hamil
    Meski sebagian besar kehamilan ditandai dengan hilangnya periode haid Anda, beberapa wanita masih terus mengalami pendarahan yang ringan. Haid yang tidak biasa atau bercak darah juga bisa menunjukkan kehamilan ektopik yang bisa sangat berbahaya.

    2. Berat badan turun atau naik
    Berat badan yang berfluktuasi dapat mengacaukan siklus haid Anda, membuat haid jauh lebih ringan atau pendek. Itu karena ketika Anda menambah berat badan, menyimpan lebih banyak lemak di tubuh Anda mempengaruhi kadar hormon dan membuatnya tidak seimbang.

    3. Stres
    Stres dapat mengacaukan tubuh Anda dalam banyak cara. Sementara gangguan sehari-hari yang biasa tidak cukup untuk membuang hormon Anda. Olahraga berlebihan juga dapat mengacaukan haid Anda karena stres yang terjadi pada tubuh Anda, secara fisik.

    4. Tiroid terlalu aktif
    Hipetiroidisme terjadi ketika hormon tiroid terlalu banyak diproduksi sehingga menyebabkan masalah bagi tekanan darah, jantung dan lainnya. Haid yang ringan dan berhentinya periode haid dapat merupakan gejala hipertiroidisme.

    5. Memiliki PCOS
    Ini adalah suatu kondisi di mana indung telur menghasilkan sejumlah besar androgen yang merupakan hormon seks pria. Perubahan hormon ini dapat mencegah wanita mengalami ovulasi secara normal sehingga menyebabkan sejumlah masalah seperti munculnya jerawat, kulit berminyak dan kenaikan berat badan termasuk haid yang tidak teratur dan normal.

    6. Memiliki stenosis serviks
    Ini terjadi ketika serviks menyempit atau menutup sepenuhnya. Ini dapat terjadi setelah pembedahan pada serviks atau uterus sebelumnya. Stenosis serviks juga dapat disebabkan oleh kadar estrogen yang rendah selama perimenopause. Akibatnya darah tetap terperangkap dalam rahim atau hanya bisa menetes perlahan.

    7. Memiliki jaringan parut di rahim
    Terkadang, jaringan parut yang parah menyebabkan dinding rahim saling menempel. Jika haid Anda ringan terutama setelah menjalani dilatasi dan kuretase, ini mungkin menjadi masalah dan terkadang diperlukan operasi untuk mengangkat jaringan parut.

    8. Pendarahan setelah melahirkan
    Kehilangan banyak darah membuat tubuh kekurangan oksigen yang pada akhirnya dapat merusak kelenjar hipofisis dan menyebabkan sindrom sheehan. Pada akhirnya ini dapat mengurangi produksi kelenjar dari semua jenis hormon termasuk hormon pengendali haid Anda.

     

    (ELG)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Komentar

    LOADING
    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id