Mengenal Meningitis, Penyakit yang Diderita Glenn Fredly

    Yatin Suleha, Sunnaholomi Halakrispen - 09 April 2020 00:40 WIB
    Mengenal Meningitis, Penyakit yang Diderita Glenn Fredly
    Glenn Fredly (Foto: MI/Sumaryanto Bronto)
    Jakarta: Kabar duka datang dari musisi Indonesia. Glenn Fredly tutup usia pada 8 April 2020. Dalam kabar pernyataan tertulis dari perwakilan keluarga atas nama Mozes Latuihamallo disebutkan bahwa Glenn telah tiada karena sakit meningitis.

    "Kami, pihak keluarga, menyampaikan kabar duka yang mendalam atas berpulangnya putra, saudara, kerabat, teman, dan sahabat bagi semua, Glenn Fredly yang bernama lengkap Glenn Fredly Deviano Latuihamallo pada Rabu, 8 April 2020, pukul 18.47 dalam usia 44 tahun di Rumah Sakit Setia Mitra, Cilandak, Jakarta Selatan akibat meningitis," dikutip dari pernyataan keluarga yang diwakili oleh Mozes Latuihamallo.

    Belum ada keterangan selanjutnya tentang sejak kapan Glenn menderita penyakit ini. Namun dapat diketahui bahwa meningitis adalah sejenis infeksi yang relatif langka, yang memengaruhi selaput halus (membran) yang disebut meninges yang menutupi otak dan sumsum tulang belakang. 

    Dari penyebabnya, meningitis dibedakan menjadi tiga kategori, yaitu bakterial, viral, dan fungal meningitis.

    Gejala meningitis

    Menurut Dr. dr. Jo Edy Siswanto Sp.A (K) dari Rumah Sakit Royal Taruma, Jakarta Gejala meningitis biasanya panas tinggi secara tiba-tiba, mual muntah, nyeri kepala hebat, dan kejang-kejang. Namun, gejala tersebut juga biasa terjadi pada penyakit umum lainnya. 
     
    "Gejalanya banyak tidak spesifik kalau belum diperiksa di laboratorium. Mirip gejala penyakit pada umumnya bahkan DBD juga bisa mirip sebagian gejalanya," papar dr. Jo Edy.

    Gejala lain sakit kepala pada belakang leher. "Kadang sensitif pada cahaya yang sangat terang, ada ruang kulit yang tidak bisa hilang dengan penekanan, menetap pada penekanan yang keras bisa menjadi pertanda meningitis," tuturnya.
     
    Kondisi juga disertai dengan tidak sadarnya pasien pada lingkungan sekitar. Mulai dari kehilangan kesadaran ringan hingga berat. Kerap kali terjadi rasa gelisah yang luar biasa. 

    "Gejala lain adalah terjadinya kejang, drowling air liur. Kejang dapat berlangsung lama lebih dari 15 menit. Lidah dapat berdarah banyak karena tergigit," imbuhnya.
     
    Disertai juga dengan banyak kondisi yang tidak mengenakkan dalam tubuh, sangat berbeda dari kondisi di hari sebelumnya. Bahkan, sulit berkomunikasi baik secara verbal maupun nonverbal. Hal itu karena pasien merasa ada sesuatu yang hebat di kepalanya.

    Sementara itu, gejala meningitis terkadang bisa hilang ketika diberikan antibiotik. Dengan demikian, gejalanya semakin tidak jelas.
     
    Selanjutnya, kata Dr. Jo, gejala yang lebih pasti dapat diketahui dengan pemeriksaan khusus arah syaraf oleh dokter. Biasanya akan dilakukan pemeriksaan darah, pemeriksaan fisik secara detil, hingga wawancara dengan keluarga.

    Pencegahan

    Penyakit meningitis atau radang selaput otak berisiko mematikan. Supaya tidak terlambat, jangan gegabah dan ketahuilah dahulu cara penanganan yang tepat berdasarkan anjuran dari Dr. dr. Jo Edy.
     
    "Pencegahan karena gejalanya bersifat umum, tentunya bagaimana kita menjaga daya tahan tubuh kita. Dengan daya tahan tubuh yang baik, penyakit oleh virus dan bakteri bisa kita cegah," ujar dokter yang ramah ini.
     
    Salah satu cara untuk memperkuat daya tahan tubuh ialah dengan menjaga asupan nutrisi agar tepat. Mengonsumsi jajanan sembarang akan rentan terkena virus dan penyakit, mulai dari pencernaan hingga penyakit lainnya.
     
    Langkah selanjutnya, harus bisa menjaga lingkungan, terutama kebersihan. Apalagi jika tinggal di area padat penduduk dan banyak penyakit, karena dapat memudahkan penularan penyakit.

    Data meningitis

    Dalam laman resmi Kemenkes, Kemkes.go.id menerangkan WHO mencatat selama tahun 2018 dilaporkan 15.574 kasus suspek meningitis dengan 1.074 kematian di sepanjang meningitis belt. 

    Meningitis belt adalah wilayah endemis benua Afrika (lebih dikenal dengan African Meningitis Belt atau sabuk meningitis benua Afrika) yang membentang dari Senegal di bagian barat hingga Ethiophia di bagian timur dengan total 26 negara
    di dalamnya.



    (TIN)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id