Alasan Psikologis 3 Pemuda Tega Gunakan Kucing Sebagai Bola Tendang

    Kumara Anggita - 13 Mei 2020 08:05 WIB
    Alasan Psikologis 3 Pemuda Tega Gunakan Kucing Sebagai Bola Tendang
    Psikolog Klinis Dewasa, Yulius Steven, M.Psi., Psikolog, dari Sahabat Kariib menjelaskan tentang mengapa seseorang bisa menjadi keji terhadap binatan. (Foto: Ilustrasi. Dok. Pexels.com)
    Jakarta: Internet sekarang telah menunjukkan realitas dan jejak apa yang bisa seseorang lakukan. Tak berhenti pada Ferdinan Paleka yang buat prank pada trangender, ada pula tiga pemuda yang menggunakan kucing sebagai bola tendang. 

    Psikolog Klinis Dewasa, Yulius Steven, M.Psi., Psikolog, dari Sahabat Kariib menjelaskan bahwa secara psikologis, ada beberapa faktor yang mendorong orang berlaku kejam pada sesuatu yang lemah seperti kucing, antara lain:

    1. Keluarga

    Keluarga mempunyai peran penting dalam perkembangan mental seseorang. Di sini, seseorang memelajari untuk melakukan hal yang baik atau buruk. Jika seseorang dibesarkan dalam keluarga yang abusive (penuh kekerasan) maka seorang anak cenderung meniru perilaku tersebut. 

    “Dari penelitian yang ada, salah satu alasan orang tega melakukan tindakan tega pada binatang adalah karena faktor keluarga. Keluarga yang cukup abusive dalam arti lebih banyak pendidikan menggunakan kekerasan, omelan, tamparan, atau semacamnya," ungkap Yulius.

    "Jadi dari kecil tumbuh dengan ketidakhangatan dalam kekuarga sehingga dia merasa bahwa kekerasan ini sebagai sesuatu yang wajar. Karena dia setiap hari pun mengalami kekerasan semacam itu,” jelasnya saat dihubungi Medcom.id. 

    “Dia tumbuh menganggap kekerasan itu sebagai hal yang wajar dan melakukan kekerasan pada pihak lain baik pada binatang maupun orang lain. Tumbuh dalam keluarga tidak hangat, perasaan empati pun kurang, perasaan compassion tak ada. Dia tumbuh dingin, suka cari ribut, agresif pada akhirnya menyakiti binatang,” lanjutnya. 

    2. Penasaran

    Hal-hal tak bertanggunjawab contohnya seperti menyiksa binatang sering dilakukan oleh anak. Ini karena mereka memiliki rasa ingin tahu tinggi tanpa arahan yang tepat. 

    “Kemudia faktor kedua adalah, terkait dengan tahap perkembangan di remaja yaitu keinginan untuk coba-coba mencari identitas dan sebaginya. Bisasanya anak-anak berusia masih remaja dan menyakiti binatang dalam masa itu memang terdorong dari rasa penasaran dan dapat menekan tekanan dari kelompok sebayanya."

    "Jadi, ketika menyakiti binatang ada tekanan dari teman, anak bisa melakukannya karena menganggap tindakan itu keren dan semacamnya, paparnya. 

    “Itu caranya ‘unik’ kan, diputer-puter, diinjek. Hal-hal yang jarang banget diekspos jadi mereka pengen tahu bagaimana rasanya,” tambahnya.

    3. Ada amarah yang terpendam

    Amarah adalah hal yang dirasakan semua orang namun bila tidak diarahkan dengan tepat, orang yang tak bertanggungjawab akan melampiaskannya pada orang atau sesuatu yang lemah seperti binatang domestik. 

    “Adanya rasa kemarahan yang tak bisa dikeluarkan dan dipendam. Karena tak bisa mengeluarkannya, akhirnya kemarahan itu dilampiasakan ke objek lainnya. Mungkin biasanya orang-orang ke benda mati, banting pintu dan sebagainya. Nah, yang ini salah satu objek yang dilampiaskan itu ke binatang,” jelasnya.

    4. Tak mendapat pelajaran

    Pendidikan karakter adalah hal yang penting, dengan seperti itu, orang bisa membedakan hal buruk dan baik. Orang berperilaku abusive bisa karena mereka tidak tahu apa yang dilakukannya itu salah. 

    “Sesuai dengan penelitian yang ada, anak-anak yang abusive pada binatang biasanya tumbuh pada keluarga yang tak sayang binatang. Ibarat dari kecil tidak diajarkan kasih makan binatang, kasih afeksi. Atau ada tikus malah digebukin dan sebagainya jadi yang dilihat hanya violence tidak diimbangi dengan pelajaran megasihi binatang,” jelasnya.

    5. Lingkungan

    Lingkungan juga menjadi faktor pendorong lainnya. Apa yang ada di depan Anda atau ide apa yang Anda konsumsi bisa mendorong Anda untuk melakukan sesuatu. 

    “Lingkungan juga menjadi faktor lain. Misalnya sering nonton film kekerasan akan sangat berpengaruh pada perkembangan psikologis jadi tega dan tak empatik,” jelasnya. 

    Itulah berbagai faktor yang mendorong seseorang berperilaku tega dan tak bertanggungjawab. Didiklah diri Anda sendiri dan orang-orang di sekitar Anda untuk tidak melakukan hal yang meyakiti entitas lain. 




    (TIN)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id