Virus Korona Sensitif Terhadap Suhu Panas

    Raka Lestari - 05 Februari 2020 08:26 WIB
    Virus Korona Sensitif Terhadap Suhu Panas
    Virus korona disebut dapat mengalami kelumpuhan di tengah suhu 56 derajat Celsius saat berada di luar sel inang atau ketika berada di ruang terbuka. Jadi coronavirus itu sensitif terhadap suhu panas. (Ilustrasi/Pexels)
    Jakarta: Novel coronavirus (nCov) yang lebih dikenal dengan nama coronavirus atau virus korona adalah jenis baru dari coronavirus yang belum pernah diidentifikasi sebelumnya pada manusia. Pada manusia menyebabkan penyakit mulai dari flu biasa hingga penyakit yang serius seperti Middle East Respiratory Syndrome (MERS) dan Severe Acute Respiratory Syndrome (SARS).

    Berdasarkan data WHO per 2 Februari 2020, total kasus konfirmasi novel coronavirus global adalah 14.557 kasus dengan total kematian 304 kasus. WHO sudah menetapkan wabah novel coronavirus sebagai Public Health Emergency of International Concern (PHEIC) sejak tanggal 30 Januari 2020 karena adanya peningkatan kasus yang signifikan dan kasus konfirmasi di beberapa negara lain. 

    “Virus corona 2019-nCoV menyerang sistem pernapasan manusia dan memiliki gejala yang sama dengan infeksi virus pernapasan lainnya. Bedanya dengan virus lain, virus korona ini memiliki virulensi atau kemampuan yang tinggi untuk menyebabkan penyakit yang fatal,” ujar dr. Raden Rara Diah Handayani, Sp. P(K), dokter spesialis paru RSUI dalam acara Media Briefing terkait Corona Virus, di kawasan Universitas Indonesia, Depok, Selasa, 4 Februari 2020. 
    Virus Korona Sensitif Terhadap Suhu Panas
    Pembicara dalam acara Media Briefing terkait Corona Virus, di kawasan Universitas Indonesia, Depok. (Ilustrasi/Raka Lestari,)

    Gejala umum dari penyakit ini berupa demam dengan suhu 38 derajat celcius atau lebih, batuk, pilek, nyeri tenggorokan hingga gejala infeksi saluran napas bawah yang berat yaitu pneumonia dengan gejala seperti demam, batuk berdahak, dan sesak napas. 

    “Proses penyebaran virus ini melalui udara yang terinhalasi atau terhirup lewat hidung dan mulut sehingga masuk dalam saluran pernapasan atas, lalu ke tenggorokan hingga paru-paru. Masa inkubasi virus ini 2-14 hari. Itulah mengapa kita mewaspadai periode dua minggu itu,” tutur dr. Diah.  

    Sampai saat ini belum ditemukan kasus terkonfirmasi infeksi novel coronavirus di Indonesia. Spesialis Mikrobiologi RSUI, dr. R. Fera Ibrahim, M.Sc., Ph.d., Sp. MK(K), mengatakan virus korona dapat mengalami kelumpuhan di tengah suhu 56 derajat celsius saat berada di luar sel inang atau ketika berada di ruang terbuka. Jadi coronavirus itu sensitif terhadap suhu panas.

    dr. Fera juga menambahkan bahwa virus secara umum, termasuk virus korona merupakan mikroorganisme parasit yang tidak dapat berproduksi di luar sel inang. “Baru bisa bereplikasi atau memperbanyak diri kalau dia sudah masuk ke dalam sel hidup,” tuturnya. 

    Artinya adalah saat virus novel coronavirus berada di ruang terbuka, namun belum menjangkiti sel inang maka virus tersebut masih bisa dilumpuhkan. Salah satunya melalui pemanasan pada suhu sekitar 56 derajat celsius selama 30 menit. 





    (YDH)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id