Vaksin bisa Menyebabkan Autisme?

    Sunnaholomi Halakrispen - 16 Juli 2019 16:00 WIB
    Vaksin bisa Menyebabkan Autisme?
    Ilustrasi--Shutterstock
    Para peneliti Inggris menerbitkan sebuah makalah yang menyatakan bahwa Vaksin MMR menyebabkan autisme. Namun, sari hasil Investigasi ditemukan sejumlah masalah dengan bagaimana penelitian itu dilakukan. Jurnal yang menerbitkan akhirnya mencabutnya. 


    Jakarta:
    Pada berbagai penelitian, vaksin tidak menyebabkan autisme. Lebih dari selusin penelitian telah mencoba menemukan tautan yang berkaitan dengan itu.

    Sementara itu, ada kontroversi tentang Vaksin MMR atau vaksin yang berfungsi mencegah terjadinya penyakit infeksi gondok, rubella, dan campak. Perdebatan dimulai pada tahun 1998 ketika para peneliti Inggris menerbitkan sebuah makalah yang menyatakan bahwa Vaksin MMR menyebabkan autisme.

    Dilansir WebMD, studi ini hanya meneliti 12 anak, tetapi menerima banyak publikasi. Pada saat yang sama, ada peningkatan pesat dalam jumlah anak yang didiagnosis dengan kondisi tersebut.

    Temuan makalah ini mengarahkan dokter lain untuk melakukan penelitian mereka sendiri tentang hubungan antara vaksin MMR dan autisme. Setidaknya, ada 12 studi tindak lanjut yang dilakukan tetapi tidak ada yang menemukan bukti bahwa vaksin tersebut menyebabkan autisme. 

    Investigasi dalam penelitian 1998 juga menemukan sejumlah masalah dengan bagaimana penelitian itu dilakukan. Jurnal yang menerbitkan akhirnya mencabutnya. Itu berarti publikasi tidak lagi sesuai dengan hasilnya.

    Selain itu, ada masalah lain juga. Misalnya, para penyelidik mengetahui bahwa seorang pengacara yang mencari hubungan antara vaksin dan autisme telah membayar peneliti utama lebih dari £ 435.000 atau setara dengan lebih dari setengah juta dolar atau lebih dari Rp13 miliar.

    Ada juga kontroversi thimerosal. Setahun setelah penelitian di Inggris, kekhawatiran tentang kemungkinan tautan autisme-vaksin bergeser dari MMR ke zat yang digunakan dalam beberapa vaksin anak-anak. Hal ini disebut thimerosal dan mengandung merkuri. 

    Thimerosal merupakan logam yang berbahaya bagi otak dan ginjal pada tingkat tinggi. Dokter menggunakan thimerosal untuk mencegah pertumbuhan bakteri dan jamur dalam vaksin.

    Sementara itu, tidak ada bukti bahwa jumlah kecil yang digunakan dalam obat-obatan menyebabkan kerusakan. Namun, vaksin ini dikeluarkan dari sebagian besar anak pada tahun 2001 atas desakan dari American Academy of Pediatrics dan Layanan Kesehatan Masyarakat Amerika Serikat.

    Untuk melihat apakah thimerosal dikaitkan dengan autisme, para peneliti mempelajari anak-anak yang menerima vaksin yang mengandungnya. Mereka membandingkannya dengan anak-anak yang tidak menerima vaksin itu.

    Dilakukan juga sembilan studi berbeda dalam melihat thimerosal dan autisme, tapi tidak ditemukan tautannya. Terlebih lagi, diagnosis autisme terus meningkat setelah pembuat vaksin mengeluarkan thimerosal dari hampir semua vaksin anak-anak. 

    Bagaimana dengan semua vaksinasi yang dikombinasikan?

    Para peneliti juga telah melihat apakah semua vaksin yang diperlukan sebelum usia 2 tahun, entah bagaimana bersama-sama memicu autisme. Anak-anak menerima 25 suntikan dalam 15 bulan pertama kehidupan mereka.

    Beberapa orang takut. Mereka berpikir bahwa mendapatkan semua suntikan itu sejak awal kehidupan dapat menyebabkan perkembangan autisme.

    Tetapi, sebuah lembaga melakukan penelitian di Amerika membandingkan kelompok anak-anak yang menerima vaksin pada jadwal yang direkomendasikan dan mereka yang vaksinnya tertunda atau tidak mendapatkannya sama sekali. Tidak ada perbedaan dalam tingkat autisme antara kedua kelompok.

    Pada tahun 2004, Komite Tinjauan Keamanan Imunisasi dari Institute of Medicine menerbitkan laporan tentang topik tersebut. Kelompok ini mengamati semua studi tentang vaksin dan autisme, baik yang diterbitkan maupun yang tidak diterbitkan. Kemudian, dirilis laporan 200 halaman yang menyatakan tidak ada bukti untuk mendukung hubungan antara vaksin dan autisme.






    (YDH)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id