Pro Kontra Penggunaan Ventilator terhadap Pasien Covid-19

    Sunnaholomi Halakrispen - 25 Juni 2020 14:34 WIB
    Pro Kontra Penggunaan Ventilator terhadap Pasien Covid-19
    Ilustrasi-AFP
    Jakarta: Ventilator mekanik telah menjadi simbol dalam perawatan pandemi covid-19. Alat ini mewakili harapan terbaik paling akhir untuk bertahan hidup, bagi orang-orang yang tidak lagi bisa menarik napas hidup akibat terserang virus SARS-CoV-2.

    Tetapi, ventilator juga menandai titik krisis terhadap kasus pasien covid-19. Hingga kini banyak pertanyaan yang diajukan sejumlah pihak, apakah mesin itu benar-benar dapat membantu para pasien yang menggunakannya, atau justru dapat menyebabkan kerusakan juga?

    Dikutip dari WebMD, banyak pasien yang menggunakan ventilator, malah meninggal. Mereka yang bertahan hidup kemungkinan akan menghadapi masalah pernapasan yang berkelanjutan, yang disebabkan oleh mesin atau kerusakan yang disebabkan oleh virus.

    Masalahnya adalah semakin lama orang menggunakan ventilasi, semakin besar kemungkinan mereka mengalami komplikasi yang berkaitan pernapasan dengan bantuan mesin.

    Menyadari hal tersebut, beberapa unit perawatan intensif telah mulai menunda menempatkan pasien covid-19 pada ventilator di saat-saat terakhir, ketika itu benar-benar keputusan hidup atau mati. Hal itu disampaikan oleh Ahli Paru Intervensi dengan Gunung Sinai, Rumah Sakit di Kota New York, Dr. Udit Chaddha.

    "Ada kecenderungan sebelumnya dalam krisis bagi orang untuk menempatkan pasien pada ventilator lebih awal, karena pasien memburuk dengan sangat cepat. Itu adalah sesuatu yang (sebagian besar dari) kami hindari," ujar Dr. Chaddha.

    "Kami membiarkan pasien-pasien ini mentolerir sedikit lebih banyak hipoksia (kekurangan oksigen). Kami memberi mereka lebih banyak oksigen. Kami tidak mengintubasi mereka sampai mereka benar-benar dalam kesulitan pernapasan," tambahnya.

    Pro Kontra Penggunaan Ventilator terhadap Pasien Covid-19

    Dr. Chaddha menekankan, Anda harus melakukannya dengan benar. Jika Anda menggunakan ventilator ketika pasien perlu memakai ventilator dan istilahnya tidak prematur, maka ventilator adalah satu-satunya pilihan paling tepat.

    Selain itu, para ahli memperkirakan bahwa antara 40 hingga 50 persen pasien meninggal setelah melakukan ventilasi, terlepas dari penyakit yang mendasarinya.

    Namun, kata Dr. Chaddha, masih terlalu dini untuk mengatakan apakah angkanya lebih tinggi pada pasien covid-19. Walau beberapa daerah seperti di New York melaporkan masih ada sebanyak 80 persen orang yang terinfeksi virus meninggal setelah diberikan ventilasi.

    Menurut Ketua Kedokteran Perawatan Kritis di Klinik Cleveland, Amerika Serikat, Dr. Hassan Khouli, pasien yang sakit kritis ini meninggal karena mereka sakit akibat covid-19. Sehingga mereka membutuhkan ventilator untuk tetap hidup. Hal itu bukan berarti karena ventilator secara fatal membahayakan mereka.

    "Saya pikir sebagian besar tidak berhubungan dengan ventilator. Mereka sekarat pada ventilator dan tidak perlu sekarat karena menggunakan ventilator," pungkas Dr. Khouli.



    (FIR)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id