Mengenal Jenis Pemeriksaan Penyakit Jantung

    Sunnaholomi Halakrispen - 23 September 2019 13:21 WIB
    Mengenal Jenis Pemeriksaan Penyakit Jantung
    Sejumlah tanda-tanda sakit jantung atau gejala bisa diketahui dengan apa yang dirasakan. (Foto: Dok. Medcom.id/Sunnaholomi Halakrispen)
    Jakarta: Penyakit jantung bisa disebabkan oleh beragam hal dan tanpa disadari, Anda bisa mengidapnya. Ketahuilah, ada banyak jenis pemeriksaan yang bisa dilakukan untuk mengetahui apakah Anda pengidap sakit jantung.

    Sejumlah tanda-tanda atau gejala bisa diketahui dengan apa yang dirasakan. Misalnya:
    - Merasakan sakit di sekitar area dada atau nyeri dada.
    - Kemudian, sesak napas.
    - Nyeri di area perut, pinggul, dan jantung sering kali berdetak terlalu cepat.

    Selanjutnya, pemeriksaan bisa dilakukan dengan medical check up dan pemeriksaan khusus jantung. Namun, Dr. dr. Dyana Sarvasti, SpJP(K), FIHA, FAsCC, menyatakan bahwa pemeriksaan khusus sebaiknya dilakukan setelah memahami kategori risiko gangguan jantung.

    Mengenal low dan high risk

    "Ada low risk, intermediate risk, dan high risk. Kalau low risk itu faktor risiko penyakit jantung koronernya biasanya rendah," ujar Dr. Dyana dalam pemaparan Positive Exercise Stress Test di kegiatan ASEAN Federation Cardiology Congress (AFCC) 2019 di Indonesia Convention Exhibition (ICE) BSD City, Tangerang.

    Mengenal Jenis Pemeriksaan Penyakit Jantung
    (Dr. dr. Dyana Sarvasti, SpJP(K), FIHA, FAsCC, mengatakan bahwa di Indonesia paling populer pemeriksaan dengan electrocardiogram (ECG atau EKG). Foto: Ilustrasi. Dok. Pexels.com)

    Pada kategori low risk, biasanya;

    - Termasuk pada orang yang usianya di bawah 40 tahun.
    - Mungkin juga memiliki salah satu dari faktor risiko.
    - Terkait faktor risiko jantung sendiri, di antaranya merupakan perokok, memiliki diabetes, hipertensi, mengidap obesitas, stres, kolesterolnya tinggi.

    Kalau memiliki dua faktor risiko dan berusia mulai dari 40 tahun, maka bisa masuk di kategori intermediate risk. Sedangkan, apabila memiliki faktor risiko yang multiple dan usianya lebih tua, maka termasik ke kategori high risk.

    "Low, intermediete, atau high risk, itu yang menjadi patokan seorang cardiologys atau dokter untuk menentukan, apakah layak melakukan exercise test," tuturnya.

    Setelah diketahui kategori risiko jantung, selanjutnya dilakukan pemeriksaan spesifik untuk orang dengan intermediate dan high risk. Di Indonesia sendiri, kata Dr. Dyana, paling populer pemeriksaan dengan electrocardiogram (ECG atau EKG).

    "Ada ECG, exercise eco stress, dan exercise stress tapi menggunakan nuklir. ECG yang paling mudah, murah, interpretable, dan petugas kesehatan bisa melakukannya asal punya basic advance cardiology atau kemampuan resusitasi jantung paru-paru," paparnya.

    EKG merupakan pemeriksaan spesifik tentang kondisi jantung seseorang. Biasanya, dilakukan dengan alat treadmill untuk mengetahui seberapa kuat respons jantung ketika tubuh melakukan aktivitas fisik, baik ketika berjalan maupun berlari.





    (TIN)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id