Apa itu Batu Tanduk Rusa Ginjal?

    Kumara Anggita - 29 Juli 2020 14:05 WIB
    Apa itu Batu Tanduk Rusa Ginjal?
    Menurut data Riskesdas tahun 2013, prevalensi batu ginjal di Indonesia adalah 0,6 persen. (Foto: Ilustrasi. Dok. Pexels.com)
    Jakarta: Pernahkah Anda mendegar tentang batu tanduk rusa ginjal? Batu tanduk rusa ginjal cukup banyak dialami oleh orang Indonesia. Hingga saat ini, masih belum ada data mengenai prevalensi batu tanduk rusa ginjal di Indonesia. 

    Tetapi menurut data Riskesdas tahun 2013, prevalensi batu ginjal di Indonesia adalah 0,6 persen. Dr. Ponco Birowo, Sp.U (K), Ph.D, dokter spesialis urologi FKUI- RSCM menjelaskan bahwa staghorn stone atau batu tanduk rusa ginjal adalah salah satu batu ginjal yang bentuknya menyerupai tanduk.

    Batu tanduk rusa ginjal mempunyai cabang-cabang yang terdapat di pelvis renalis sampai mengenai dua atau lebih kaliks renalis, sehingga membentuk gambaran seperti tanduk rusa. Besar kecilnya batu ini tergantung dari ukuran ginjal sendiri. 

    Batu tanduk rusa sangat rentan dialami oleh pasien yang memiliki riwayat berikut:

    - keturunan saluran kemih 
    - asam urat 
    - infeksi saluran kemih
    - ginjal tunggal
    - obesitas dan sindrom metabolik

    Selain itu, rentan pula bagi mereka yang memiliki penyakit lain seperti:

    - hiperparatiroidisme
    - penyakit ginjal polikistik
    - penyakit pencernaan (reseksi usus, penyakit chron, gangguan absorpsi), kelainan saraf tulang belakang (medula spinalis) dengan gejala seperti sering mengompol (neurogenic bladder). 

    Siapa yang rentan terkena batu tanduk rusa ginjal ini?

    Kelompok usia 55-64 tahun harus lebih hati-hati karena mereka paling rentan terkena batu tanduk rusa ginjal ini, dengan prevalensi pada laki-laki 0,8 persen dan perempuan 0,4 persen. Oleh karena itu, para orang tua perlu untuk lebih sering mengecek ke rumah sakit. 

    Pengobatan batu tanduk rusa ginjal

    Saat ini, operasi canggih bisa diberikan pada penderita batu tanduk rusa ginjal. Ini bisa dilakukan tanpa radiasi.

    Dokter sebelumnya menggunakan teknik operasi yang dilakukan dengan luka operasi minimal, yaitu Percutaneous Nephrolithotomy (PCNL) dengan menggunakan x-ray namun sekarang mereka bisa mengoperasi dengan ultrasonografi (USG).

    Operasi macam ini membuat risiko paparan radiasi nol dan meminimalisasi obat-obatan terkait sehingga relatif menghemat biaya yang dikeluarkan. 



    (TIN)


    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id