Rapid Test Dijual Secara Online?

    Sunnaholomi Halakrispen - 16 April 2020 12:20 WIB
    Rapid Test Dijual Secara Online?
    Rapid test dijual oleh penjual yang telah terregistrasi secara resmi sebagai penjual peralatan medis. (Foto: Ilustrasi. Dok. Pexels.com)
    Jakarta: Pemerintah telah mendistribusikan sejumlah alat rapid test ke rumah sakit rujukan penanganan covid-19 (new coronavirus). Namun di sisi lain, ternyata alat rapid test dijual secara online.

    "Rapid test kan di mana-mana pada susah dan enggak bisa sembarangan tapi ternyata banyak orang jualan rapid test di online," ujar Chief Marketing Officer PT Kalbe Frama Tbk (Kalbe) Ongkie Tedjasurja kepada Medcom.id.

    Penjualan rapid test secara online itu seakan menjadi ladang bisnis oleh pihak tertentu. Padahal, penjualan alat rapid test seharusnya tidak bisa sembarang orang. Melainkan, dijual oleh penjual yang telah terregistrasi secara resmi sebagai penjual peralatan medis.

    "Begitu masuk ke (online shop), banyak sekali yang jualan rapid test. Saya yakin mereka tanpa terregister sebagai alat kesehatan resmi," tuturnya.

    Ketika mencari di Google dengan kata kunci rapid test dan menelusuri online shop, banyak yang menjual alat rapid test seharga Rp300 ribuan, bahkan ada yang menjual seharga Rp800 ribuan. Melirik hal itu, kata Ongkie, perlu penegakan secara berkelanjutan.

    "Kita melihat harusnya ditertibkan karena harusnya yang jual itu yang punya izin alat kesehatan. Karena kalau dijual ke per orangan begitu kan enggak bisa sembarangan dipakainya," paparnya.

    Menurutnya, pemakaian rapid test tidak bisa oleh per orangan, apalagi dibeli hanya untuk disimpan secara pribadi atau berjaga-jaga. Melainkan, harus oleh tenaga medis terhadap orang yang memiliki gejala yang mengarah pada infeksi SARS-CoV-2.

    Terkait kepemilikan rapid test, Ongkie menjelaskan bahwa hingga kini semua rapid test merupakan donasi. Rapid test dibeli oleh perusahaan Indonesia dari perusahaan di luar negeri, yang masing-masing terregistrasi sebagai penjual alat kesehatan resmi. 

    "Minta izin dahulu ke Depkes, Kemenkes lihat datanya, baru berani dipakai. Kemudian perusahaan mendonasikan ke rumah sakit atau pemerintah yang beli untuk ke rumah sakit, tujuannya untuk membantu masyarakat," jelasnya.

    Sementara itu, Juru Bicara Pemerintah untuk Penanganan Covid-19 Achmad Yurianto sempat menyatakan bahwa pemerintah telah mengeluarkan rekomendasi terkait penggunaan rapid test. Pedoman dari pemerintah tersebut sesuai edaran WHO (World Health Organization) per 7 April 2020.

    Pertama, rapid test ditujukan sebagai kelengkapan kontak tracing terhadap orang yang kontak dekat dengan kasus terkonfirmasi positif covid-19. Kemudian, rapid test ditujukan kepada tenaga kesehatan yang merawat penderita covid-19 untuk deteksi secara cepat, kemungkinanan tenaga kesehatan terinfeksi covid-19.

    "Kemudian digunakan sebagai screening pada wilayah yang paling banyak ditemukan kasus positif, kita bagikan di semua fasilitas kesehatan di wilayah itu, dan kemudian kita akan mencoba untuk melakukan screening terhadap setiap hubungan fasilitas kesehatan dengan gejala-gejala yang mengarah kepada covid-19," ucap Yuri, sapaannya, di kantor BNPB, Minggu, 12 April 2020 lalu.


    (TIN)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id