Perbedaan Asam Folat dan Folat

    Raka Lestari - 21 Januari 2020 16:50 WIB
    Perbedaan Asam Folat dan Folat
    Sumber makanan folat yang baik diantaranya adalah asparagus, kubis Brussel, bayam, dan sawi. (Foto: Pexels.com)
    Jakarta: Folat dapat ditemukan dalam berbagai makanan, mulai dari sayuran berdaun hijau hingga kacang hitam sampai hati sapi. Folat merupakan keluarga dari vitamin B yang penting untuk sintesis DNA dan pembelahan sel.

    "Folat terlibat dalam produksi sel darah putih dan merah," kata Andy Bellatti, MS, RD, ahli diet yang berbasis di Las Vegas, Nevada seperti dilansir dalam Thehealthy.

    “Kekurangan asupan folat dapat menyebabkan jenis anemia tertentu (anemia defisiensi folat), yang berbeda dari anemia defisiensi besi. Folat juga membantu mencegah cacat lahir yang berhubungan dengan sumsum tulang belakang, itulah sebabnya nutrisi ini sangat penting bagi wanita hamil.”

    Sedangkan asam folat, menurut American Pregnancy Association, adalah bentuk sintetis dari folat yang biasa digunakan dalam suplemen dan fortifikasi makanan. Tubuh kita menyerapnya lebih mudah daripada folat, dan asam folat juga lebih stabil.

    "Sebagian besar dari kita mengonsumsi asam folat yang cukup melalui diet seimbang, terutama sejak 1998 ketika makanan mulai diperkaya dengan asam folat," kata Melissa Majumdar, MS, RD, CSOWM, LDN, ahli gizi dan koordinator metabolisme dan bariatrik di Emory University Hospital Midtown di Atlanta, Georgia.

    Perbedaan Asam Folat dan Folat
    (Salah satu sumber makanan yang mengandung folat adalah kubil Brussel. Foto: Pexels.com)

    Sumber makanan folat yang baik diantaranya adalah asparagus, kubis Brussel, bayam, dan sawi. Sedangkan daging yang merupakan sumber folat yang baik adalah daging sapi dan hati sapi. Kacang-kacangan juga merupakan sumber folat yang baik, seperti kacang polong.

    Malabsorpsi nutrisi, gangguan penggunaan alkohol atau diet terbatas dapat meningkatkan risiko defisiensi folat, ujar Majumdar.

    “Orang yang menggunakan obat untuk epilepsi atau kolitis ulserativa atau yang telah menjalani operasi bariatrik harus berbicara dengan dokter mereka atau ahli gizi ahli gizi terdaftar tentang cara mengonsumsi kadar asam folat,” katanya.

    Namun usahakan agar tidak mengonsumsinya secara berlebihan. “Suplemen asam folat dalam jumlah besar tanpa berkonsultasi dengan ahli diet atau dokter yang terdaftar dapat memicu kekurangan vitamin B12,” tambah Majumdar.

    Juga dikenal sebagai anemia pernisiosa, defisiensi B12 mudah diobati dengan suntikan vitamin. "Tetapi jika tidak diobati dapat menyebabkan kerusakan saraf permanen," pungkas Majumdar.





    (TIN)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id