Mengapa Sabun Lebih Disarankan untuk Mencegah Covid-19?

    Raka Lestari - 19 Maret 2020 11:20 WIB
    Mengapa Sabun Lebih Disarankan untuk Mencegah Covid-19?
    Cuci tangan Anda sesering mungkin karena tangan banyak melakukan hal. (Foto: Pexels.com)
    Jakarta: Sabun dan air sudah terbukti dapat melawan penyakit menular, termasuk covid-19. Meskipun begitu, kepanikan yang terjadi karena penyebaran covid-19 membuat banyak orang memburu segala macam pembersih tangan atau hand sanitizer dan berbagai bahan kimia lain yang pada dasarnya tidak efektif untuk mencegah penyebaran virus.

    “Menggunakan pemutih untuk mencegah covid-19 pada dasarnya seperti menggunakan palu untuk membunuh lalat,” kata Jane Greatorex, seorang ahli virus di Universitas Cambridge. Dengan kata lain, hal itu terlalu berlebihan bahkan menggunakan pemutih dapat  merusak logam dan menyebabkan masalah kesehatan pernapasan lainnya jika terhirup terlalu banyak dari waktu ke waktu.

    Lisa Casanova, seorang ilmuwan kesehatan lingkungan di Universitas Negeri Georgia juga mengatakan bahwa penggunaan pemutih tidak begitu efektif. Dia dan para ahli lainnya merekomendasikan penggunaan sabun yang lebih lembut, seperti sabun cuci piring, agar mudah membersihkan permukaan dalam dan luar ruangan.

    Cara utama orang terinfeksi covid-19 adalah dari penularan dari orang ke orang. Kontak dekat ini dalam bentuk pelukan, jabat tangan, atau berada di ruang publik yang penuh sesak memungkinkan orang yang terinfeksi dengan mudah menyebarkan droplets atau percikan yang muncul saat batuk dan bersin.

    Droplets atau percikan yang dihasilkan saat batuk dan bersin tersebut biasanya jatuh ke tanah dengan mudah. Dan tergantung di mana mereka mendarat, droplets tersebut dapat bertahan di permukaan sebelum akhirnya disentuh oleh tangan yang membawa virus ke hidung atau mulut, yang mengarah ke infeksi.

    Sebuah penelitian yang diterbitkan di New England Journal of Medicine melihat berapa lama virus tersebut dapat dideteksi pada berbagai bahan. Dylan Morris, seorang ahli biologi evolusi di Universitas Princeton dan rekan penulis studi, mengatakan tujuan penelitian tersebut adalah untuk mencari tahu permukaan mana saja yang berpotensi menjadi kolam penyebaran infeksi bagi manusia.

    Pada permukaan, mereka menemukan SARS-CoV-2 (nama resmi dari virus) bertahan selama 24 jam di atas kardus, dua hari pada stainless steel, dan tiga hari pada jenis plastik keras yang disebut polypropylene. Virus ini hanya dapat dideteksi selama empat jam pada tembaga, bahan yang secara alami memecah bakteri dan virus.





    (TIN)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id