Kisah Getir para Garda Terdepan dari Ruang Isolasi

    Media Indonesia - 26 Maret 2020 16:33 WIB
    Kisah Getir para Garda Terdepan dari Ruang Isolasi
    Beban para tenaga medis lebih berat dengan tanggung jawab risiko terpapar virus dari pekerjaan mereka. (Foto Ilustrasi: Antara)
    Makassar: Sudah dua bulan ini, sebut saja Ayu, pasien positif covid-19, berjibaku mengusung misi sembuh dari virus korona. Tubuhnya merindukan paparan sinar matahari dan udara segar, yang saat ini tak pernah dirasakan.

    Ayu, merupakan salah satu dari 13 kasus pasien positif di Infection Center Rumah Sakit Umum Regional Wahidin Sudirohusodo, Makassar, Sulawesi Selatan.

    Ia mengirimkan sebuah gambar dan kabar dari kamar isolasi, saat tim gugus penanggulangan covid-19 Provinsi Sulawesi Selatan kelar menggelar video konferen, Kamis 25 Maret 2020.

    Saat dibuka notifikasi smartphone tim gugus penanggulangan covid-19 itu, tampak sebuah gambar agak sedikit buram terbuka. Menggambarkan situasi kamar isolasi untuk pasien korona yang salah satunya dikirim Ayu.

    Bagi Ayu, ini adalah hari keempat ia menjalani perawatan di ruang isolasi tersebut. Sebelumnya, ia juga berada di ruang isolasi, yang akhirnya dia tahu kalau itu sebuah ruang isolasi untuk observasi.

    "Ruang isolasi tersebut, bersebelahan dengan ruang isolasi (observasi) sebelumnya. Saat saya masuk ke sini, saya tak banyak mengerti situasi. Yang saya tahu, ruang isolasi ini harus melewati banyak pintu, dan petugas medis yang bertugas di sini wajib menggunakan Alat Perlindungan Diri (APD) lengkap," tulis Ayu.

    Kisah Getir para Garda Terdepan dari Ruang Isolasi
    Di ruang isolasi observasi, seperti biasa saja, masih ada jendela, di mana Ayu bisa melihat aktivitas para tenaga medis. (Foto ilustrasi: ANTARA/Indrianto Eko Suwarso)

    "Posisi tempat tidur saya dekat dengan jendela kaca yang menghadap ke parkiran. Jadi kalau saya bosan, saya bisa memilih melihat-lihat ke arah luar jendela saja sudah menjadi hal yang menyenangkan buat saya," tutur Ayu.

    Kesempatan itu dinilai berharga buat Ayu, terlebih ketika ia telah dipindahkan ke ruang isolasi berikutnya, sangat sulit didapat. Lebih kelam dari perkiraannya. Tak ada jendela, hanya sebuah tembok dan alat-alat medis tanpa satu pun yang nyaman untuk dilihat oleh mata.

    "Contohnya, sinar matahari dan udara segar. Benar, hal-hal menjadi lebih berarti setelah kita kehilangan. Semoga kehilangan ini hanya sementara," doanya.

    Ayu sendiri belum tahu, dari mana virus itu masuk dan menggerogoti paru-parunya. Padahal ia tak punya riwayat bepergian keluar kota, meski kerap mendampingi pejabat di sebuah instansi pemerinta di Sulsel, karena ia seorang aparatur sipil negara (ASN).

    Bersenjatakan jas hujan

    Ayu menceritakan dari ruang isolasi, bukan sekadar membeberkan kabarnya, melainkan juga memberi gambaran bagaimana perjuangan tenaga medis membantunya untuk sembuh.

    Bagaimana tidak, selama dua bulan ini, matanya kerap dihiasi lalu lalang para petugas medis dengan APD berwarna biru, kuning, dan putih.

    Mirisnya, kata Ayu, APD yang berwarna biru itu ternyata jas hujan tipis. Yang biasanya dijajakan di pinggir jalan saat hujan turun.

    "Selain itu, mungkin kita tidak tahu bahwa seragam APD yang mereka kenakan basah karena keringat akibat kegerahan karena kostum ini wajib dikenakan seharian penuh," lanjutnya.

    Kisah Getir para Garda Terdepan dari Ruang Isolasi
    Dengan seragam yang super tertutup, para tenaga medis harus bercucuran keringat. (Foto: ANTARA/Fenny Selly)

    Saat mendapat tindakan, Ayu begitu jelas mendengar tarikan napas berat yang berasal dari perawat, karena masker ketat dan berlapis yang wajib mereka kenakan seharian. Apalagi ruangan tersebut tanpa pendingin udara.

    "Enggak bisa saya bayangkan berjam-jam dengan kostum tertutup dari kepala hingga kaki," keluh ibu yang memiliki balita ini.

    Ayu memang memiliki kondisi memprihatinkan, namun, ia malah lebih bersedih melihat para garda terdepan itu. Apalagi resleting baju APD yang dikenakan salah satu perawat telah rusak.

    "Pukul 08.11 WITA, ada perawat masuk sambil membawakan saya sarapan. Saya sempat mengambil gambarnya saat ia mendekati bilik saya. Ia berseragam kuning, syukurlah bukan jas hujan yang tipis, tapi sayangnya resleting APD yang dikenakan perawat itu rusak," jelas Ayu.

    Tak berhenti di situ, ada dokter perempuan berbadan kecil menyerupai dirinya dengan tinggi sekitar 150 cm dan berat 45 kg masuk. Ayu diperiksa menggunakan stetoskop. Dokter itu didampingi seorang perawat laki-laki bertubuh besar yang terlihat ceria dan sedikit ceriwis.

    "Ia menyampaikan kepada saya sebuah info rahasia yang saat ini masih simpang siur di luar," tutup Ayu.

    Ketika semua menghindar, mereka mendekat

    Dengan itu, Ayu berpikir, kondisi berat tak hanya dialaminya, tetapi juga petugas medis. Saat yang lain menjauh, mereka justru mendekat demi menyembuhkannya.

    "Beban mereka lebih berat dengan tanggung jawab risiko terpapar virus dari pekerjaan mereka. Saat semua menghindar, mereka yang berada di garda terdepan. Kalimat yang sangat tepat," lanjutnya lagi.

    Bahkan saat keluarga tidak bisa berdekatan, Ayu mengaku, jika mereka, para tim medis ini lah, yang terdekat memeriksa suhu tubuh dengan menyentuh kulit pasien, memberi semangat secara langsung meski tanpa wajah yang bisa ia kenali.

    Kisah Getir para Garda Terdepan dari Ruang Isolasi
    Ketika tak ada yang boleh mendekat, para tenaga medis justru menyentuh kulit untuk memeriksa kondisi kesehatan pasien. (Foto Ilustrasi: Antara)

    "Ucapan terima kasih mereka setelah memeriksa saat situasi yang kurang beruntung ini menambah getir perasaan saya. Semoga mereka dijauhkan dari segala marabahaya, keluarga mereka dilindungi dengan kasih sayang Tuhan, dan semoga kondisi ini segera berlalu," tutup Ayu mendoakan.

    Saat ini di Sulsel, selain 13 orang yang dinyatakan positif korona, dan seorang di antaranya meninggal dunia, masih ada 158 yang masuk dalam kategori orang dalam pemantauan. Kemudian 36 di antaranya sehat.

    Dan masih ada 89 lainnya pasien dalam pengawasan, yang 81 orang masih dirawat di rumah sakit dan 8 sisanya sudah dinyatakan sehat.





    (FIR)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id