Ungkapan Spontanitas, Tanpa Berpikir Terlebih Dahulu?

    Sunnaholomi Halakrispen - 22 Mei 2020 08:00 WIB
    Ungkapan Spontanitas, Tanpa Berpikir Terlebih Dahulu?
    Mengapa ada tipe berbicara secara spontan? Berikut dikulik dari sisi psikologi dengan Psikolog Efnie Indrianie. (Foto: Ilustrasi. Dok. Pexels.com)
    Jakarta: Ungkapan spontanitas diyakini sebagai pernyataan yang dilayangkan secara terang-terangan atau blak-blakan tanpa direncanakan sebelumnya. Namun, secara psikologi, apakah ungkapan tersebut tanpa dipikirkan?

    "Spontanitas dalam psikologi sebenarnya adalah respons yang dimunculkan oleh seseorang tanpa adanya stimulus dari eksternal," ujar Psikolog anak, remaja, dan keluarga, Efnie Indrianie, M.Psi. dari Fakultas Psikologi Universitas Kristen Maranatha, Bandung kepada Medcom.id.

    Apabila dikaitkan dengan perilaku manusia, kata Efnie, maka spontanitas akan mengacu pada perilaku yang dilakukan tanpa adanya perencanaan. Jika berbicara spontan pun demikian.

    Ia menekankan, spontanitas tanpa disertai dengan pertimbangan logika yang matang terlebih dahulu. Dalam hal ini, tidak memikirkan secara mendalam tentang apa yang akan terjadi akibat yang diucapkan.

    Sebab, mereka lebih mengandalkan fungsi amigdala otak semata, sehingga respons yang terjadi secara cepat dan spontan. Amigdala sendiri merupakan salah satu jaringan otak yang berfungsi mengendalikan rasa takut dan emosi lainnya dalam diri manusia.

    Akibat habit

    "Idealnya seorang individu dewasa, di mana fungsi pre-frontal cortex-nya sudah aktif harusnya berbicara disertai dengan pertimbangan yang matang. Mengapa? Pre-frontal cortex ini merupakan bagian otak yang berperan sebagai faktor penentu pertimbangan dan fungsi kebijaksanaan," paparnya.

    Sementara itu, ungkapan spontanitas kerap kali dipublikasikan di media sosial, bahkan bagian dari ciri khas orang dalam konten yang dibuatnya. Bahkan ada juga YouTuber yang berbicara secara blak-blakan di media sosial secara konsisten.

    Secara ilmu psikologi, hal tersebut terjadi akibat habit atau suatu kebiasaan. Efnie memaparkan, habit yang dilakukan minimal 21 hari berturut-turut akan melekat dalam kepribadian seseorang dan bersifat menetap.

    "Bisa saja hal yang diucapkan selama ini secara blak-blakan masih aman karena tidak berkaitan dengan isu yang sensitif, namun di tengah pandemi ini segala sesuatu yang akan disampaikan memang harus dipertimbangkan dengan matang, karena semua orang sedang sensitif," jelasnya.



    (TIN)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id