Bagaimana Psikologis Masyarakat Indonesia Menghadapi Kenormalan Baru?

    Sunnaholomi Halakrispen - 29 Mei 2020 14:42 WIB
    Bagaimana Psikologis Masyarakat Indonesia Menghadapi Kenormalan Baru?
    Psikolog Anak, Remaja, dan Keluarga, Jovita Maria Ferliana, M.Psi.
    Jakarta: Indonesia akan menghadapi tatanan hidup atau era kenormalan baru (new normal), yakni menjalani hidup di tengah pandemi sebagai situasi normal. Berdasarkan psikologi masyarakat Indonesia, bisa dinilai apakah sebenarnya kita akan siap menghadapinya.

    "Sebetulnya kalau dibilang siap enggak siap, menurut saya tergantung pada kepribadian masing-masing orang. Bisa dilihat dari tiga tahap yang telah dilalui masyarakat," ujar Psikolog Anak, Remaja, dan Keluarga, Jovita Maria Ferliana, M.Psi, Psikolog, kepada Medcom.id.

    Tahap pertama, ialah tahap disrupsi yang menyebabkan kebingungan. Pada tahap ini, karena terjadinya perubahan drastis dengan tiba-tiba datangnya virus SARS-CoV-2.

    Orang merasakan perubahan besar. Seperti kehilangan pekerjaan, ekonomi menurun drastis, kehilangan anggota keluarga karena terkena covid-19.

    Jovita menyatakan, tahap pertama ini terjadi kecemasan yang terjadi dengan terbayangkan jika terpapar covid-19. Pada akhir tahap ini terjadi hal-hal yang sangat menyedihkan, membuat orang-orang resah. Pada tahap ini, masih banyak hal-hal yang salah dari informasi yang didengar atau informasi bohong (hoax).

    "Contohnya kalau mau menghindar dari covid-19 minum air garam, minuman alkohol, minum disinfektan, atau kalau perlu satu badan diguyur pakai disinfektan. Makanya masker dan disinfektan habis di pasaran, panic buying," paparnya.

    Kemudian, tahap kedua adalah tahap ketika orang sudah mulai ada kesedihan, kedukaan, dan semakin resah. Akan tetapi, sudah ada banyak beredar informasi oleh pemerintah dan tenaga kesehatan. Sehingga saat masuk tahap kedua, orang sudah mempunyai pengetahuan atau edukasi.
     
    "Pemerintah sudah mulai menyatukan bahwa banyak hal yang hoax dan disertakan penelitian dari luar negeri dan berkaca dari negara Tiongkok sebagai negara yang pertama kali kena covid-19. Panic buying pun sudah berkurang. Lebih ke arah cuci tangan, masker, dan jaga jarak," jelasnya.

    Tahap ketiga, kata Jovita, semua orang umumnya sudah siap karena dilihat dari perekonomian yang terpuruk tetapi mereka sudah mulai mencari peluang untuk beradaptasi. Orang-orang yang resah mulai menggali akal tentang bagaimana bisa survive, terutama soal finansial.

    Banyak orang berpikir menjalani bisnis, meskipun dalam skala kecil. Misalnya, orang yang awalnya tidak bisa memasak lalu membuka usaha makanan karena tahu bahwa makanan sedang diperlukan di tengah pandemi. Begitu juga usaha jasa pengiriman, karena memahami kini orang membatasi keluar rumah.

    "Sehingga kalau dilihat dari tahap pertama, kedua, dan ketiga, ini kan tahap perbaikan bukan pengunduran dalam hal kesejahteraan masyarakat. Sehingga secara garis besar sebetulnya kita siap. Asalkan dari diri setiap orang itu mau untuk melakukannya," ucapnya.

    Ia menekankan, dari ketiga tahapan di atas, psikologi orang menghadapi kenormalan baru bisa diperhatikan dari tiga jenis orang. Tipe pertama, orang yang sudah siap, artinya selama tiga bulan pandemi covid-19, mereka sudah melewati ketiga tahap itu dengan lancar.

    "Tipe kedua, ini orang yang kalau bisa saya bilang siap enggak siap. Di satu sisi mereka sudah tahu informasinya apa saja tentang covid-19. Tapi di sisi lain, mereka masih takut untuk menghadapi itu. Ketakutannya, masih soal isu kesehatan," jelasnya.

    Orang dengan tipe ini dialami pada orang yang memiliki rasa khawatir, namun cenderung pasrah. Misalnya, korban PHK atau karyawan yang dirumahkan untuk jangka waktu yang tidak diketahui sampai kapan.

    "Lalu muncul juga ketakutan kalau badai ini enggak berlalu, kemudian enggak bakal bisa kerja lagi, dan sebagainya. Tapi di sisi lain dia juga enggak mau melakukan upaya perbaikan dalam dirinya. Misalnya enggak mau buka usaha baru dan sebagainya," tutur Jovita.

    Sedangkan tipe ketiga, ialah orang yang belum siap menghadapi kenormalan baru. Jovita menekankan bahwa kita tidak bisa pukul rata setiap orang, karena ada orang yang memang sangat terpuruk. Misalnya anak yang kehilangan kedua orang tuanya karena covid-19 atau orang yang punya gangguan kejiwaan.

    "Tapi secara global dari tiga tipe itu, kalau saya lihat dalam arus normal, sebetulnya sebagian besar siap. Kecuali yang banyak diterpa pengalaman secara langsung soal covid-19, atau yang punya gangguan kepribadian, atau sudah punya borderline atau bipolar personality. Itu memang berkaitan dengan gangguan ketenangan," pungkasnya.



    (FIR)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id