Apakah Edamame Cocok untuk Diabetes?

    Sunnaholomi Halakrispen - 29 Juni 2020 15:05 WIB
    Apakah Edamame Cocok untuk Diabetes?
    Ilustrasi-Pexels
    Jakarta: Edamame merupakan salah satu jenis kacang yang bisa dijadikan sebagai camilan maupun dicampur bersama sayuran. Katanya, kacang ini diyakini bermanfaat untuk pasien dengan diabetes. Apakah itu benar?

    Dikutip dari Medical News Today, orang dengan diabetes tipe 2 dapat mengambil manfaat dari mengonsumsi produk kedelai tanpa pemanis. Menurut sebuah penelitian pada 2012, salah satu kedelai yang dimaksud ialah edamame.

    Para ilmuwan ini melihat data untuk 43.176 orang selama 5,7 tahun. Mereka menemukan tingkat diabetes tipe 2 yang lebih rendah di antara mereka yang mengonsumsi produk kedelai tanpa pemanis. Sedangkan, mereka yang mengonsumsi versi manis memiliki risiko lebih tinggi terkena penyakit ini.

    Namun, penelitian tersebut memiliki beberapa keterbatasan. Sehingga, masih diperlukan lebih banyak penelitian lanjutan untuk menentukan apakah mengonsumsi produk kedelai dapat membantu mengurangi risiko diabetes tipe 2.

    Sementara itu, kekurangan zat besi dalam makanan dapat memengaruhi bagaimana tubuh menggunakan energi dan dapat menyebabkan anemia kekurangan zat besi. Dalam hal ini, edamame pun dikaitkan dengan kualitas energi.

    Sebab, edamame merupakan sumber zat besi non heme yang sangat baik, bersama dengan lentil, bayam, dan buah kering. Di sisi lain, edamame juga berpengaruh pada penyakit kardiovaskular.

    Beberapa ilmuwan telah menemukan bukti bahwa protein kedelai memiliki khasiat yang dapat menurunkan low density lipoprotein (LDL), atau kadar kolesterol jahat dalam darah seseorang. Penulis sebuah studi dari 2017 menunjukkan bahwa kedelai juga dapat bermanfaat bagi kesehatan jantung melalui kandungan serat, kandungan antioksidan, dan mekanisme lainnya.

    Orang juga mungkin menemukan bahwa mengonsumsi produk kedelai sebagai alternatif dari produk susu penuh lemak. Hak ini dapat membantu meningkatkan kadar kolesterol.

    Sebagian besar lemak nabati tidak jenuh, sedangkan lemak hewani cenderung jenuh. Maka dari itu, mengonsumsi lemak jenuh dapat berkontribusi terhadap penyakit jantung dan masalah kardiovaskular lainnya.



    (FIR)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id