Kehamilan Ektopik: Gejala, Penyebab dan Faktor Risiko

    Anda Nurlaila - 08 Februari 2020 17:04 WIB
    Kehamilan Ektopik: Gejala, Penyebab dan Faktor Risiko
    Kehamilan ektopik atau di luar rahim adalah kehamilan yang umumnya berada di saluran tuba. (Ilustrasi/Pexels)
    Jakarta: Kehamilan ektopik atau di luar rahim adalah kehamilan yang umumnya berada di saluran tuba. Kehamilan yang tidak pada tempatnya ini berbahaya dan dapat membahayakan jiwa calon ibu.

    Seperti dimuat Perents, sekitar 1 hingga 2 persen dari semua kehamilan merupakan kehamilan ektopik yang berarti "tidak pada tempatnya." Meskipun jarang, kondisi ini penyebab paling berbahaya dari pendarahan pada trimester pertama dan dapat mengancam jiwa. 

    "Biasanya terjadi jika saluran tuba Anda tersumbat oleh jaringan parut atau memiliki kelainan," ungkap direktur persalinan di Rumah Sakit Umum Massachusetts dan penulis You and Your Baby: Pregnancy Laura Riley.

    "Pada kasus yang jarang, sel telur juga dapat menempel pada ovarium, leher rahim, atau perut, yang tidak memiliki ruang atau jaringan tepat agar kehamilan dapat berkembang," ujar profesor kebidanan & ginekologi di Fakultas Kedokteran Albert Einstein Mark D. Levie.

    Jika tidak ditangani, kehamilan ektopik dapat menimbulkan masalah bagi ibu hamil. Kehamilan ektopik dapat menghancurkan tuba fallopi dan menyebabkan perdarahan hebat dan kemungkinan kematian.Sebagian besar kehamilan ektopik didiagnosis pada waktunya untuk mencegah komplikasi. 

    Penyebab Kehamilan Ektopik

    Penyebabnya sering kali tidak diketahui, tetapi kerusakan saluran tuba dapat mencegah sel telur sampai ke rahim. Ada beberapa faktor risiko kehamilan ektopik, antara lain:
     
    - Kehamilan ektopik sebelumnya meningkatkan risiko hamil ektopik kedua kali sebanyak 15-20 persen. 
    - Penyakit radang panggul
    - Operasi panggul atau perut sebelumnya, seperti pengangkatan kista ovarium
    - Kehamilan setelah pembalikan ligasi tuba
    - Kehamilan melalui fertilisasi in vitro (IVF) atau obat kesuburan
    - IMS tertentu, seperti klamidia atau gonore
    - Endometriosis
    - Hamil dengan AKDR
    - Usia 35 atau lebih
    - Merokok
    - Sering menggunakan pembersih organ genital
    - Bedah caesar pada kehamilan sebelumnya 

    Tapi jika tidak memiliki satu faktor risiko pun, Anda masih bisa mengalami kehamilan ektopik. Sekitar setengah dari wanita yang memiliki kehamilan ektopik tidak memiliki faktor risiko yang diketahui, kata Dr. Levie.

    Gejala Kehamilan Ektopik

    Di awal, kehamilan ektopik memiliki gejala khas yang sama dengan kehamilan normal, seperti menstruasi yang terlewat, nyeri payudara, mual, dan kelelahan. Saat kehamilan ektopik tumbuh, ibu hamil dapat mengalami beberapa gejala: 

    - Nyeri tiba-tiba, parah, dan tajam di perut atau daerah panggul
    - Pendarahan vagina
    - Sakit bahu
    - Pingsan atau merasa pingsan
    - Kelemahan atau pusing

    Jika gejala nyeri panggul ringan atau bercak di awal kehamilan, hubungi penyedia layanan kesehatan. Namun perdarahan hebat, nyeri panggul parah, atau merasa pusing atau tidak stabil pada kaki, segera kunjungi instalasi gawat darurat karena menandakan kehamilan ektopik di tahap akhir yang berpotensi menghancurkan tuba falopii.

    Rasa sakit di bahu bisa disebabkan oleh pendarahan internal yang mengiritasi saraf yang merambat ke bahu Anda. "Mengetahui dan merawat kehamilan ektopik sejak dini memungkinkan untuk menyelamatkan saluran tuba dan kemungkinan hidup Anda sendiri," kata Levie.

    Pemeriksaan panggul, ultrasonografi, dan pemeriksaan darah dilakukan untuk menentukan apakah kehamilan Anda ektopik.

    Meski kehamilan ektopik berisiko, tapi lebih dari setengah   wanita yang pernah memiliki kehamilan ektopik di masa lalu memiliki kehamilan sehat di masa depan. 

    Mencegah Kehamilan Ektopik

    Tidak ada cara mencegah kehamilan ektopik. Namun ada cara untuk menghindari jaringan parut pada saluran tuba yang dapat menurunkan risikonya. Ob-Gyn di Austin Regional Clinic di Austin, Texas Crystal Berry-Roberts menyarankan untuk membatasi pasangan seksual, mempraktikan seks aman untuk melindungi dari penyakit menular seksual. 

    Selain itu, berhenti merokok dan menggunakan cairan pembersih vagina juga sebaiknya dilakukan. Levie menekankan untuk mengunjungi dokter segera setelah mengetahui Anda hamil, sehingga Anda dapat memastikan kehamilan tersebut berada di tempat yang tepat.





    (YDH)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id