Masih Sangat Jarang Diketahui, Ini Penjelasan tentang Adenomiosis

    Raka Lestari - 10 Januari 2020 09:00 WIB
    Masih Sangat Jarang Diketahui, Ini Penjelasan tentang Adenomiosis
    Ilustrasi-Pexels
    Jakarta: Salah satu kondisi yang berhubungan dengan reproduksi wanita, yang jarang terdengar di telinga adalah adenomiosis. Tidak seperti endometriosis, sindrom ovarium polikistik (PCOS), fibroid, yang merupakan kondisi cukup banyak dikenal.

    Menurut Dr Natalya Danilyants dari Center for Innovative GYN Care, adenomiosis sering juga disebut dengan endometriosis otot rahim. Seperti halnya endometriosis, di mana lapisan jaringan rahim tumbuh di luar rahim, adenomiosis terjadi ketika jaringan rahim berada dalam posisi yang tidak seharusnya.

    Jaringan yang seharusnya melapisi rahim malah menumpuk di dalam dinding otot uterus. Ini adalah kondisi yang jinak, artinya tidak akan berubah menjadi kanker, tetapi bisa sangat menyakitkan dan bahkan melemahkan.

    Adenomiosis juga sering disalahartikan sebagai konstipasi, sindrom nyeri kandung kemih, perimenopause, kelainan tiroid, dan endometriosis. Adenomiosis juga terkadang tidak terdeteksi karena banyak wanita yang tidak mengalami gejala apapun.

    “Banyak orang menganggap bahwa ketika mengalami kram menstruasi yang sangat parah maka itu adalah pertanda endmoetriosis,” kata Dr Linda Fan, seorang ahli bedah ginekologi dari Yale Medicine.

    Akibatnya, banyak orang yang mengalami adenomiosis tidak pernah mendapatkan diagnosis secara jelas. Beberapa dari mereka mungkin memakai obat-obatan, seperti KB atau pil hormon, hanya untuk mencoba mengatasi rasa sakit dan pendarahan yang tidak normal.

    "Sayangnya, tidak ada cara yang pasti untuk mengatasi adenomiosis kecuali dengan melakukan histerektomi parsial. Cara di mana rahim diangkat tetapi ovarium tetap ada," ujar Danilyants.

    Beberapa mungkin malah memilih ablasi endometrium, sebuah prosedur yang membakar lapisan rahim untuk mencegahnya tumbuh terlalu banyak. Namun, menurut Danilyants, gejala adenomiosis dapat menjadi lebih parah setelah ablasi, dan bisa menyebabkan pasien untuk menjalani histerektomi.

    Sebagian besar pasien dapat mencoba untuk mengelola rasa sakit melalui pengobatan dan melakukan gaya hidup yang sehat. Obat antiinflamasi nonsteroid seperti Advil atau Motrin dapat mengurangi kram. Perubahan gaya hidup, seperti melakukan lebih banyak olahraga, dan beberapa pilihan pengendalian kelahiran hormonal seperti alat kontrasepsi juga dapat membantu.



    (FIR)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id