Banjir, Perhatikan Kesehatan Bayi Anda

    Sunnaholomi Halakrispen - 03 Januari 2020 06:03 WIB
    Banjir, Perhatikan Kesehatan Bayi Anda
    Salah satu penyakit yang rentan menyerang bayi ialah penyakit yang disebarkan melalui air. (Ilustrasi/Pexels)
    Jakarta: Intensitas curah hujan yang meningkat di awal tahun menyebabkan sejumlah wilayah, khususnya di Jabodetabek terendam air. Sebagai orangtua, Anda harus memberi perhatian lebih pada kesehatan anak, khususnya bayi.

    "Bayi dan anak sebagai manusia yang sedang berkembang, daya tahan tubuhnya belum sempurna. Apalagi jika dalam iklim yang tidak menentu. Banjir bisa menyebabkan penyebaran penyakit," ujar Dr. Robert Soetandio, Sp.A, M.Si.Med kepada Medcom.id, Kamis, 2 Januari 2020.

    Salah satu penyakit yang rentan menyerang bayi ialah penyakit yang disebarkan melalui air. Sebab, risiko infeksi meningkat karena penularan kontak dengan air banjir yang tercemar.

    Di antaranya, kontaminasi fasilitas air minum yang kemudian menyebabkan infeksi pencernaan atau diare, adanya kontak dengan kulit yang menyebabkan dermatitis atau kelainan kulit lainnya.

    "Jika  mengenai mata berakibat conjungtivitis akut, dapat juga menyebabkan infeksi di telinga, hidung dan tenggorokan. Leptospirosis adalah satu satu penyakit epidemik yang ditularkan langsung lewat air yang terkontaminasi," tuturnya.

    Air banjir sendiri telah terkontaminasi kotoran beragam hewan, termasuk tikus selaku hewan pengerat yang dapat sebagai pembawa penyebaran penyakit leptospirosis. Kontak air yang terkontaminasi leptospirosis ini dapat masuk melalui selaput lendir mata, hidung, dan luka terbuka pada kulit.

    "Seseorang yang terjangkit infeksi leptospirosis akan mengalami demam tinggi atau lebih dari 38,5 derajat celcius, lemah, sakit kepala, mata merah, kulit menjadi kuning dan nyeri otot betis. Masa inkubasi penyakit ini rata rata sepuluh hari," paparnya.
    Banjir, Perhatikan Kesehatan Bayi Anda
    (Ilustrasi/Pexels)

    Diare juga dapat menyerang bayi saat terjadinya banjir. Kemudian, tifoid, kolera, tetanus sampai hepatitis A. Penyakit tetanus memang bisa menyebar juga melalui aliran air yang kotor ketika banjir, akan tetapi tidak secara langsung. 

    Dr. Robert menjelaskan, berbagai benda terapung dan tenggelam dalam banjir. Tanpa disadari, di air tersebar benda seperti kayu yang berpaku, kawat, dan pecahan kaca dapat melukai manusia bahkan bayi yang berada di sekitar lokasi banjir. Akibatnya, bisa terkena tetanus. 

    "Jika tanpa sengaja kita terkena benda tajam saat banjir, segera bersihkan luka dengan air mengalir dan berikan antiseptik. Luka terbuka dapat terinfeksi jika terlalu lama terkena air banjir yang kotor," terangnya.

    Selanjutnya, saat bayi memiliki luka terbuka di kulit, upayakan agar bayi Anda terhindar atau kulit tidak langsung terkena air banjir. Bayi memiliki kulit yang sangat sensitif dan mudah iritasi saat berada di lingkungan yang kotor. Penyakit lainnya ialah penyakit yang diakibatkan karena vektor.

    Lantaran, banjir memungkinkan nyamuk, ular, dan tikus berkembang biak di sekitar air yang kotor itu. Sehingga, penyakit seperti demam berdarah, demam dengue, demam chikungunya sangat rentan menyerang bayi.

    "Saat musim hujan, beberapa infeksi virus penyebab ISPA dan diare meningkat. Pada anak ISPA berat bisa mengakibatkan radang paru atau dikenal dengan pneumonia, diare yang berat bisa menyebabkan dehidrasi berat yang mengancam nyawa," pungkasnya.



    (YDH)


    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id