Peter Tsai, Sosok Ilmuan Penemu Masker N95

    Raka Lestari - 03 Juni 2020 12:14 WIB
    Peter Tsai, Sosok Ilmuan Penemu Masker N95
    Inilah penemu masker N95. (Foto: Pexels.com)
    Jakarta: Para tenaga kesehatan dan masyarakat umum mungkin harus berterima kasih kepada ilmuwan berdarah Taiwan – Amerika, Peter Tsai dan rekan-rekannya. Hal ini karena sekitar tiga dekade lalu, Tsai dan timnya berhasil menemukan masker N95 yang dapat memblokir sampai 95 persen partikel submicron seperti virus.

    Dengan peningkatan kasus covid-19 di seluruh dunia, lembaga penelitian dan perusahaan dalam industri alat pelindung diri (APD) menjadikan hasil temuan Tsai tersebut menjadi salah satu bagian penting, dan Tsai juga menjadi salah satu ahli yang cukup sering dijadikan rujukan.

    Dilansir dari South China Morning Post (SCMP), Tsai menceritakan bahwa dirinya mendapat banyak pertanyaan mengenai hasil temuannya tersebut. 

    “Pengguna masker buatan saya berasal dari seluruh dunia. Saya bekerja sepanjang waktu,” ujar pria berusia 68 tahun yang baru saja pensiun pada tahun lalu dari Universitas Tennessee, Amerika Serikat ini.

    Dilahirkan dan dibesarkan di Taiwan, Tsai pindah ke negara bagian Kansas, Amerika Serikat pada tahun 1970-an untuk mengambil studi doktoral dan menghabiskan tiga dekade berikutnya untuk meneliti bahan serat. 

    Peter Tsai, Sosok Ilmuan Penemu Masker N95
    (Inilah Peter Tsai sang penemu masker N95. Ilmuan berdarah Taiwan-Amerika. Foto: Dok. Peter Tsai)

    Pada 1995, ia menemukan cara yang sangat efisien untuk menyaring partikel yang menjadi penanda untuk pengembangan masker N95.

    “Masker ini dianggap 10 kali lebih efektif,” ujar Tsai. Dan masker N95 ini menjadi APD standar dalam wabah virus SARS pada tahun 2003 dan flu babi pada tahun 2009. Namun kerja keras Tsai tidak berhenti sampai di situ saja.

    Pada tahun 2018, ia menggunakan teknik triboelektrifikasi yang membuat masker buatannya tersebut 20 kali lebih efektif dalam menyaring partikel. "Teknologi dasarnya sama, tetapi jika Anda ingin mengoptimalkannya, ada banyak yang harus ditingkatkan," kata Tsai.

    Selain membantu fasilitas produksi untuk memenuhi persyaratan pembuatan masker N95, penelitian terbaru Tsai juga berfokus pada bagaimana membuat masker N95 lebih lama dengan menemukan cara untuk mendisinfeksi dan menggunakannya kembali.

    Mengutip penelitian dari sebuah tim di Universitas Hong Kong, Tsai mengatakan bahwa memanaskan masker pada suhu 70 derajat Celsius (158 derajat Fahrenheit) selama 30 menit dapat membunuh virus dan membuat masker tetap aman digunakan kembali. Hidrogen peroksida yang diuapkan juga dapat bertindak sebagai disinfektan, tambah Tsai.

    Meskipun saat ini sudah pensiun, Tsai tidak menutup pintu bagi siapapun yang ingin bertanya kepada dirinya mengenai masker N95. Ia juga masih membantu beberapa perusahaan untuk meningkatkan kualitas teknologi masker buatan mereka.

    (TIN)


    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id