A to Z, Semua yang Perlu Anda Ketahui tentang Virus Korona

    Raka Lestari - 24 Maret 2020 14:37 WIB
    A to Z, Semua yang Perlu Anda Ketahui tentang Virus Korona
    Berikut ini adalah semua informasi yang perlu Anda ketahui tentang virus korona atau covid-19. (Foto: Pexels.com)
    Jakarta: Akhir Desember tahun 2019 lalu, orang-orang hanya mengetahui bahwa ada ada jenis coronavirus baru yang mewabah di Wuhan, Tiongkok. Dan kini, tiga bulan kemudian jenis virus baru tersebut sudah melanda banyak negara dan negara-negara tersebut masih berjuang untuk mengurangi penularan wabah yang kini telah ditetapkan sebagai pandemi oleh WHO.

    Dilansir dari Worldometers.info/coronavirus sebuah website milik Dadax yang mandiri dikelola oleh tim developer, riset, dan volunteer yang memiliki tujuan untuk membuat angka statistik yang time relevant (waktu yang relevan) di seluruh dunia tanpa afiliasi pada politik, pemerintah atau korporasi lain, menyajikan data pada Selasa, 24 Maret 2020 virus ini telah ada di 195 negara dan 1 tempat (the Diamond Princess cruise ship yang berlabuh di Yokohama, Japan).

    Secara global, hingga per hari ini masih dilansir dari data global Worldmeters (termasuk kasus yang ada di Indoneia) totalnya menjadi 381.653 kasus. Kasus meninggal dunia karena virus korona menjadi 16.558, dan yang sembuh lebih banyak yaitu 102.429 kasus.
     

    Berikut ini kami rangkum berbagai informasi lengkap tentang virus korona yang berubah dengan disebut sebagai covid-19 ini.

     

    1. Disebut coronavirus kenapa?

    “Patogen ini mendapatkan namanya karena mahkota runcing (atau korona dalam bahasa Latin) yang dapat Anda lihat di permukaannya ketika Anda melihatnya di bawah mikroskop,” jelas Rishi Desai, MD, mantan petugas dinas intelijen epidemi di divisi penyakit virus di Centers for Disease Control and Prevention (CDC). Coronavirus sebenarnya adalah keluarga virus yang menyebabkan infeksi pernapasan, menurut WHO.

    Desai menerangkan, meskipun pada dasarnya coronavirus lainnya tidak mengganggu manusia (karena biasanya hanya menyebabkan kasus pilek biasa), beberapa jenis coronavirus yang awalnya menginfeksi hewan dapat berevolusi untuk menginfeksi manusia dengan penyakit yang lebih parah, seperti Middle Sindrom pernapasan timur (MERS) dan sindrom pernapasan akut (SARS). Dan coronavirus jenis terbaru ini, yang pada awalnya hanya menularkan dari hewan ke hewan yang diberi nama SARS-CoV2.

    2. Lalu apa itu covid-19?

    Pada perkembangannya, coronavirus yang biasa disebut dengan virus korona ini berubah namanya. Bertempat di Jenewa, Badan Kesehatan Dunia (WHO) pada Selasa 11 Februari 2020 mengumumkan nama resmi untuk wabah virus corona menjadi covid-19.

    Virus dan penyakit yang disebabkannya pada manusia masing-masing diberi nama dan singkatan yang berbeda, bahkan ketika mereka berada dalam keluarga yang sama. Sebagai contoh, coronavirus SARS pada tahun 2003 disebut sebagai SARS-CoV, menurut WHO. Dan penyakit yang disebabkan karena virus tersebut dikenal dengan SARS.

    “Virus baru ini disebut SARS-CoV2 dan covid-19 adalah nama untuk penyakit pada manusia yang disebabkan oleh virus baru tersebut,” jelas Natasha Bhuyan, MD, seorang spesialis penyakit menular dan dokter keluarga di Phoenix, Arizona. Dan covid-19 merupakan kependekan dari coronavirus disease 2019 yang merupakan tahun pertama kali diidentifikasi, tambah Dr Bhuyan.

    CO adalah singkatan dari corona, VI adalah untuk virus, dan D adalah untuk penyakit (disease), menurut CDC. Tedros Adhanom Ghebreyesus, PhD, direktur jenderal WHO, pertama kali mengumumkan nama resmi untuk penyakit tersebut.

    A to Z, Semua yang Perlu Anda Ketahui tentang Virus Korona
    (Virus korona atau covid-19 pertama kali diketahui dari Wuhan, di Tiongkok. Foto: Ilustrasi. Dok. Pexels.com)

    3. Kasus pertama covid-19

    Kasus pertama coronavirus jenis baru ini, pertama muncul pada 17 November, menurut data pemerintah Tiongkok yang ditinjau oleh South China Morning Post. Baru pada akhir Desember para pejabat Tiongkok sadar bahwa mereka memiliki virus baru. Akan tetapi, pemerintah Tiongkok melarang berbagi informasi tentang hal itu dengan publik, menurut The Wall Street Journal.

    Dilansir dari Business Insider, menyatakan bahwa virus itu pertama kali dialami oleh seorang pria berusia 55 tahun dari provinsi Hubei, Tiongkok. Akan tetapi, bukti tersebut masih belum bisa dipastikan kebenarannya. Identitas mengenai “patient zero” masih belum dikonfirmasi, dan mungkin set data tidak lengkap.

    4. Data lain mengenai patient zero 

    Otoritas kesehatan Tiongkok melaporkan kasus pertama covid-19, penyakit yang disebabkan oleh coronavirus, kepada WHO pada 31 Desember. Satu tim peneliti kemudian menerbitkan bukti bahwa orang pertama yang dites positif menunjukkan gejala pada 8 Desember, tanggal kasus pertama yang dikonfirmasi. Penelitian lain yang diterbitkan dalam The Lancet pada bulan Januari menemukan bahwa orang pertama yang dites positif terkena virus pada 1 Desember 2019.

    5. Gejala awal covid-19 

    Menurut WHO, tanda-tanda umum seseorang terinfeksi covid-19 di antaranya adalah demam, batuk, sesak napas, dan kesulitan bernapas. Pada kasus yang lebih parah, infeksi dapat menyebabkan pneumonia, sindrom pernapasan akut, gagal ginjal, bahkan kematian. 

    Orang yang berusia lanjut atau individu yang memiliki kondisi kesehatan tertentu atau masalah pada sistem kekebalan tubuh memiliki risiko lebih tinggi untuk terkena penyakit ini.

    Dr. Raden Rara Diah Handayani, Sp. P(K), dokter spesialis paru RSUI mengatakan Virus corona 2019-nCoV menyerang sistem pernapasan manusia dan memiliki gejala yang sama dengan infeksi virus pernapasan lainnya. Bedanya dengan virus lain, virus korona ini memiliki virulensi atau kemampuan yang tinggi untuk menyebabkan penyakit yang fatal.

    6. Penyebaran covid-19

    Lebih lanjut dr. Diah mengatakan, “Proses penyebaran virus ini melalui udara yang terinhalasi atau terhirup lewat hidung dan mulut sehingga masuk dalam saluran pernapasan atas, lalu ke tenggorokan hingga paru-paru. Masa inkubasi virus ini 2-14 hari. Itulah mengapa kita mewaspadai periode dua minggu itu,” tutur dr. Diah.  

    7. Bisa lumpuh di suhu panas

    Spesialis Mikrobiologi RSUI, dr. R. Fera Ibrahim, M.Sc., Ph.d., Sp. MK(K), mengatakan virus korona dapat mengalami kelumpuhan di tengah suhu 56 derajat celsius saat berada di luar sel inang atau ketika berada di ruang terbuka. Jadi coronavirus itu sensitif terhadap suhu panas.
     
    Dr. Fera juga menambahkan bahwa virus secara umum, termasuk virus korona merupakan mikroorganisme parasit yang tidak dapat berproduksi di luar sel inang. “Baru bisa bereplikasi atau memperbanyak diri kalau dia sudah masuk ke dalam sel hidup,” tuturnya. 
     
    Artinya adalah saat virus novel coronavirus berada di ruang terbuka, namun belum menjangkiti sel inang maka virus tersebut masih bisa dilumpuhkan. Salah satunya melalui pemanasan pada suhu sekitar 56 derajat celsius selama 30 menit.  

    A to Z, Semua yang Perlu Anda Ketahui tentang Virus Korona
    (Juru Bicara Pemerintah untuk Penanganan Covid-19 Achmad Yurianto mengatakan jaga jarak saat melakukan kontak sosial jangan sampai kurang satu meter. Hindari kerumunan dan pertemuan yang dihadiri banyak orang yang memiliki peluang terinfeksi virus. Foto: Pexels.com)

    8. Kasus covid-19 di Indonesia dan imbauan social distancing

    Pada tanggal 2 Maret 2020 lalu, Indonesia mengumumkan kasus pertama covid-19 yang diumumkan langsung oleh Presiden Joko Widodo. Dua orang ini sebelumnya berinteraksi dengan WNA yang datang ke Indonesia.

    Angka tersebut masih terus bertambah dan untuk mengurangi penyebarannya, pemerintah Indonesia menyarankan agar masyarakat melakukan social distancing atau jaga jarak minimal satu meter.

    Dikutip dari Forbes, social distancing adalah sebuah strategi kesehatan masyarakat yang dilakukan untuk mencegah atau memperlambat penyebaran patogen infeksius seperti virus. 

    “Upaya menjaga jarak saat melakukan kontak sosial jangan sampai kurang satu meter. Hindari kerumunan dan pertemuan yang dihadiri banyak orang yang memiliki peluang terinfeksi virus,” saran Juru Bicara Pemerintah untuk Penanganan Covid-19 Achmad Yurianto.

    Ia juga menekankan agar masyarakat tidak keluar rumah apabila tidak sangat diperlukan atau kondisi darurat. Terlebih, untuk orang lanjut usia (lansia) maupun orang-orang yang memiliki penyakit penyerta karena sangat berisiko terpapar virus.

    Selain itu, masyarakat perlu memahami tentang penyebaran covid-19 dan betapa pentingnya menjalankan social distancing selama beberapa waktu sesuai dengan arahan pemerintah. Akses informasi dari sumber berita yang terpercaya, untuk menghindari berita bohong atau hoaks.

    Untuk menangani bertambahnya kasus pasien yang terinfeksi covid-19, pemerintah Indonesia saat ini menyiapkan 359 rumah sakit rujukan yang tersebar di seluruh Indonesia. Selain rumah sakit rujukan, pemerintah juga menyiapkan Wisma Atlet yang ada di Kemayoran untuk dijadikan rumah sakit darurat penanganan pasien covid-19.

    9. Apakah virus korona bisa menular di udara?

    World Health Organization (WHO) sedang mempertimbangkan "tindakan pencegahan melalui udara" untuk staf medis setelah sebuah studi baru menunjukkan bahwa virus korona dapat bertahan hidup di udara dalam keadaan tertentu.
     
    Virus ini ditularkan melalui tetesan, atau sedikit cairan, sebagian besar melalui bersin atau batuk, menurut Dr Maria Van Kerkhove, kepala unit penyakit dan zoonosis WHO. 
     
    "Ketika Anda melakukan prosedur yang menghasilkan aerosol seperti di fasilitas perawatan medis, Anda memiliki kemungkinan untuk apa yang kita sebut aerosolize partikel-partikel ini, yang berarti mereka dapat tinggal di udara sedikit lebih lama."

    Centers for Disease Control and Prevention (CDC) juga menegaskan bahwa karena ini adalah jenis virus baru, maka masih diperlukan penelitian lebih lanjut mengenai tingkat penyebarannya, tingkat keparahan penyakit yang ditimbulkannya, dan sejauh mana penyebarannya.

    Menurut informasi terbaru dari CDC, sekalipun virus tersebut bertahan selama berjam-jam dari titik di mana sesorang meneteskan droplet, ada kemungkinan bahwa partikel-partikel udara tersebut hanya bisa menyebar sekitar enam kaki (sekitar 1,8 meter) dari titik asal. 
     
    CDC juga menambahkan bahwa transmisi udara dari orang ke orang dalam jarak jauh tidak mungkin terjadi. Untuk itu menjaga jarak bukan berarti Anda tak sopan dalam budaya Indonesia. Tak perlu ada perasaan berlebihan dan tersinggung, karena ini demi untuk Anda juga sama-sama menjaga kesehatan.






    (TIN)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id