Usai Kemoterapi Muncul Bercak Merah?

    Sunnaholomi Halakrispen - 03 Februari 2020 13:09 WIB
    Usai Kemoterapi Muncul Bercak Merah?
    "Setiap pengobatan pasti ada efek samping. Tapi perlu ditelaah (lebih lanjut)," ujar Dr. dr. Ikhwan Rinaldi, Sp.PD-KHOM. (Foto: Ilustrasi. Dok. Medcom.id)
    Jakarta: Pasien kanker wajib menjalankan serangkaian perawatan agar kondisi kesehatan tidak memburuk. Salah satunya, menjalani kemoterapi. Namun, sejumlah pasien mendapatkan munculnya bercak merah usai kemoterapi.

    Kondisi seperti itu bisa saja membuat panik si pasien maupun keluarganya. Akan tetapi, Dr. dr. Ikhwan Rinaldi, Sp.PD-KHOM, selaku Ahli Hematologi Onkologi Medik Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM), memberikan penjelasannya.

    "Setiap pengobatan pasti ada efek samping. Tapi perlu ditelaah, apa memang efek samping dari obat itu atau gejala penyakitnya sendiri yang seperti itu," ujar Dr. Ikhwan di Tjikinii Lima Resto, Cikini, Jakarta Pusat.

    Ia memaparkan bahwa usai menjalani kemoterapi, kondisi trombosit terbilang rendah ataupun lekosit tinggi tapi dalam artian tidak baik. Hal ini lantaran kemoterapi mengakibatkan terjadinya penurunan sel-sel lain. 

    "Sebetulnya enggak usah khawatir karena kan sudah punya dokter. Apakah karena kemoterapi atau penyakitnya, tanyalah dokter. Jadi enggak perlu mengelola sendiri," paparnya.

    Efek yang didapatkan tidaklah sama untuk masing-masing pasien. Maka demikian, kata Dr. Ikhwan, ketika telah memutuskan menjalani perawatan pengobatan kanker, percayakan sepenuhnya semua tahapan kepada dokter. 

    Ketika kepercayaan terhadap dokter spesialis itu terbentuk, maka bisa memengaruhi keyakinan diri secara positif. Keterbukaan antara pasien terhadap dokter tentang segala kondisi yang dirasakan pasien merupakan hal yang sangat penting.

    Dokter yang bertanggung jawab merawat pun tidak akan mengabaikan pertanyaan atas kekhawatiran tersebut. Penjelasan secara rinci akan diberikan dokter.

    "Kalau sudah berobat, semestinya dokter responsible terhadap penyakit maupun pengobatannya," ucapnya.

    Sedangkan, apabila pasien enggan menanyakan kekhawatirannya kepada sang dokter, akan muncul persepsi dalam pikiran pasien yang tidak dokternya ketahui. Bisa saja persepsi itu terbentuk dari faktor lingkungan sekitar atau sosial media, namun pengetahuan secara medis belum tentu tepat.

    "Kalau dokter ditelepon susah, kan punya pusat layanan pengobatan. Datanglah ke rumah sakit yang ada dokter itu. Tunggu dokternya. Jadi jangan khawatir karena pasti dokter akan mengatasi kondisi pasien," jelasnya.

    (TIN)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id