Menkes Baru Harus Lanjutkan Program Ini

    Sunnaholomi Halakrispen - 22 Oktober 2019 13:25 WIB
    Menkes Baru Harus Lanjutkan Program Ini
    Nila Moeloek menggelar acara ramah tamah dengan awak media di akhir masa jabatannya. (Foto: Dok. Biro Komunikasi dan Pelayanan Masyarakat Kemenkes RI)
    Jakarta: Jelang berakhirnya masa jabatan Prof. Dr. dr. Nila Djuwita Faried Moeloek, Sp.M sebagai Menteri Kesehatan, ia mengaku belum mengetahui siapa penggantinya. Namun pesannya, ada program yang harus dilanjutkan.

    "Program Indonesia Sehat dengan Pendekatan Keluarga (ISPK) ini harus ada, harus dilanjutkan," ujar Nila di kediamannya, Komplek Mikasa, Kuningan, Jakarta Selatan, Senin, 21 Oktober 2019 dalam acara ramah tamah dengan awak media di akhir masa jabatannya.

    Program tersebut disarankannya untuk tidak berhenti, agar terus berkelanjutan demi masyarakat Indonesia yang sehat. Sebab, kesehatan harus diperhatikan setiap waktu. Keluarga memiliki peran penting untuk mengetahui dan meningkatkan kepedulian tentang kesehatan.

    "Kami buat Indonesia Sehat denagn Pendekatan Keluarga, artinya setiap rumah kita datangi kita lihat, ini adalah deteksi dini," tuturnya.

    Tenaga kesehatan wajib memastikan masyarakat memiliki pemahaman dasar soal kesehatannya dan keluarga. Apabila masyarakat telah mengetahui penyakit apa yang diderita, maka selanjutnya bisa menjalankan upaya perawatan yang tepat.

    "Misalnya ukur tensi tinggi, dia enggak tahu. Akhirnya kita temukan, kita obati. Jangan sampai dia jatuh dan penyakitnya lebih berat. Ini pendataannya sudah 31 jutaan sudah di seluruh Indonesia," tuturnya.

    Menkes Baru Harus Lanjutkan Program Ini
    (Nila Moeloek menggelar acara ramah tamah dengan awak media di akhir masa jabatannya. Foto: Dok. Biro Komunikasi dan Pelayanan Masyarakat Kemenkes RI)

    12 indikator

    Ia memaparkan bahwa berdasarkan data tersebut, ada 12 indikator yang disesuaikan, mulai dari ibu hamil hingga keluarga yang tidak mampu. Hal tersebut bisa menjadi acuan penanganan kesehatan selanjutnya.

    Namun, kondisi kesehatan tidak pernah sama dari tahun ke tahun. Apakah di setahun sebelumnya kebanyakan dari mereka terdata lebih banyak yang sakit atau datanya statis atau malah kini jumlah yang sakit semakin banyak.

    Maka demikian, sebaiknya program ISPK tidak boleh berhenti. Ketika program tersebut dijalankan, integrasi dengan pihak-pihak terkait pun terus berlanjut.

    "Kan ada 12 indikator, kalau ternyata memang semuanya tidak punya JKN (Jaminan Kesehatan Nasional), ini harus dibantu. Kalau tidak mampu, harus dibantu ya kerja sama dengan Kemensos (Kementerian Sosial RI)," jelasnya.

    Selain itu, fokus program Kemenkes untuk menangani persoalan anak-anak kurang gizi juga tidak boleh disingkirkan. Lantaran, banyak penyebab yang harus ditelusuri yang nantinya berkaitan dengan Kementerian lain.

    "Dilihat kenapa anak-anak kurang gizi, misalnya di sana tidak ada akses air bersih. Nah itu ketahuan ternyata tidak punya akses air bersih, tidak punya sanitasi jamban. Bisa dilihat ke KemenPUPR (Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat) nanti bisa integrasi ke sana," pungkas Nila.



    (TIN)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id