Pelajar NTB di Nanjing Imbau Masyarakat Indonesia Bangun Rasa Peduli serta Beri Dukungan

    Yatin Suleha - 28 Januari 2020 13:39 WIB
    Pelajar NTB di Nanjing Imbau Masyarakat Indonesia Bangun Rasa Peduli serta Beri Dukungan
    Maulana Akbar, mahasiswa bahasa Mandarin di Nanjing Polytechnic Institute. Ia menceritakan keberadaannya di Nanjing, China. (Foto: Ilustrasi. Dok. Zhimai Zhang/Unsplash.com)
    Jakarta: Berbagai media saat ini memberitakan seputar virus Korona (Coronavirus). Berdasarkan data Otoritas Kesehatan China, hingga Senin pagi 27 Januari 2020, ada 2.744 kasus terkait virus corona penyebab pneumonia mematikan tersebut. Korban jiwa saat ini bahkan sudah mencapai 107 orang dengan 20 kematian tiap harinya.  

    Tetapi, ada juga oknum yang membuat penggalan video entah dari mana asalnya, dibuat mirip-mirip dan menambah kesan teror. Tim Medcom.id mewawancarai salah seorang mahasiwa asal Indonesia yang justru berharap agar pemberitaan mengenai kejadian virus Korona tidak memberikan dampak negatif kepada keluarganya di Indonesia. 

    Maulana Akbar, mahasiswa bahasa Mandarin di Nanjing Polytechnic Institute. Ia menceritakan awal tahu kabar bahwa ada virus yang tidak diketahui penyebab pastinya ia justru merasa penasaran. 

    Lalu, di akhir Januari diketahui bahwa itu adalah virus jenis baru yang dinamai ncov-2019. "Mungkin ada rasa khawatir di diri saya pribadi. Karena virus tersebut bisa menular dan dilihat dari berita official akun di Jiangsu Government kalau virus tersebut semakin hari kian meningkat. Tetapi, saya pribadi berusaha untuk tetap tenang dan waspada prihal kasus virus tersebut," tutur pria berusia 19 tahun tersebut. 

    Pelajar NTB di Nanjing Imbau Masyarakat Indonesia Bangun Rasa Peduli serta Beri Dukungan
    (Maulana mengatakan kondisi di wilayah Nanjing cukup sepi. Foto: Ilustrasi. Dok. Tony Wan/Unsplash.com)

    Kondisi Nanjing 

    Maulana mengungkapkan saat ini kondisi di wilayah Nanjing cukup sepi. Namun, Ibukota provinsi Jiangsu, Tiongkok ini masih belum diisolasi. 

    Penyebab sepinya kota tersebut karena ada himbauan dari pemerintah provinsi Jiangsu untuk tidak keluar rumah. Namun, untuk sarana tansportasi hingga saat ini masih berjalan normal, walaupun pengguna transportasi lebih sedikit dibanding hari-hari sebelum imbauan dari pemerintah provinsi tersebut.

    Setelah informasi dari pemerintah untuk tidak melakukan aktivitas di luar. Banyak warga Tiongkok khususnya di wilayah Wuhan yang berbondong-bondong untuk membeli bahan makanan sebagai persediaan. Bahkan, beredar di media sosial keributan orang-orang yang panik saat berbelanja makanan. 

    Beruntung, di kota Nanjing saat ini untuk bahan makanan masih cukup untuk satu bulan ke depan. Namun, yang kurang ketersediannya justru masker surgical mask atau masker N-95 (respirator N95). Masker tersebut sangat sulit didapat. 

    "Tetapi, setelah ada intruksi dari Perhimpunan Pelajar Indonesia Tiongkok (PPIT) Nanjing untuk menyuplai masker tersebut, alhamdulilah kami sedang menunggu suplai masker tersebut. Karena PPIT Nanjing berkoordinasi dgn KBRI Beijing dan KJRI. Bukan hanya masker yg disuplai tetapi kebutuhan seperti hand sanitizer juga sangat diperlukan," ungkap pelajar asal NTB tersebut.

    "Untuk berebut beras mungkin untuk satu sampai tiga bulan ke depan saya pribadi tidak memikirkan hal tersebut. Mengingat stok beras di apartemen kami masih lumayan banyak. Dan, juga stok roti dan susu masih tersedia untuk dua bulan ke depan," ungkap Maulana lagi. 

    Pelajar NTB di Nanjing Imbau Masyarakat Indonesia Bangun Rasa Peduli serta Beri Dukungan
    (Maulana menyayangkan pemberitaan hoaks seputar bencana yang terjadi. Ia mengimbau agar masyarakat bangun kepedulian dan support saat terjadi hal seperti ini. Foto: Ilustrasi. Dok. Lee Shuke/Unsplash.com)

    Respons publik

    Saat ini, yang menjadi kekhawatiran mahasiswa asal Lombok ini bukan ketersediaan makanan, melainkan respons masyarakat yang ada di Indonesia terhadap China. 

    Menurut Maulana, karena kejadian ini banyak pemberitaan yang tidak benar terkait kasus virus Korona. Demi mendapat mendapatkan rating tinggi di news atau video di media sosial banyak berita-berita yang hoaks yang diupload. 

    "Kami di sini sangat prihatin melihat kondisi tersebut. Mengingat keluarga yang ada di rumah. Malahan kami berusaha untuk membuat keluarga tidak terpengaruh dengan berita hoaks tersebut. Saya pribadi meminta dan memohon tolong artikel yang di buat itu tidak membuat keresahan melainkan membangun rasa peduli terhadap sesama manusia yang mengalami bencana," paparnya. 

    Pada saat wawancara dengan Medcom.id, ia pun menyampaikan rasa terima kasihnya kepada Pemerintah Tiongkok dan berharap agar segera ditemukan vaksin untuk virus tersebut. 

    Sedangkan, untuk Pemerintah Indonesia khususnya KBRI dan KJRI di Tiongkok ia berharap agar diadakan kejelasan pendataan mengenai dipulangkannya pelajar yang ada di Tiongkok. 

    "Jangan awarder scholarship yang menjadi tolak ukur hal tersebut. Karena banyak di sini yang kuliah di China tidak melalui scholarship. Kami mohon untuk menyamaratakan hal tersebut. Kemudian, untuk masyarakan di Indonesia, kami di sini baik-baik saja. Kami butuh support bukan hujatan yang tidak manusiawi. Terima kasih banyak buat masyarakat yang sudah mendoakan kami disini. Xiexie nimen," tutupnya.


    Yuni Yuli Yanti





    (TIN)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id