comscore

Risiko Kematian dari Merokok dan Polusi Udara

Sunnaholomi Halakrispen - 08 Mei 2020 12:45 WIB
Risiko Kematian dari Merokok dan Polusi Udara
Tidak seperti rokok, polusi udara biasanya tidak disertai label peringatan atau bau yang menyengat.
Jakarta: Richard Muller, PhD, fisikawan dan peneliti iklim di University of California, memaparkan perbandingan antara risiko kematian dari merokok dan polusi udara. Hal ini berdasarkan hasil karyanya pada 2018.

Pada penelitiannya, rata-rata orang Amerika terpapar bahaya kesehatan sekitar sepertiga dari sebatang rokok setiap hari. Sementara sepertiga dari sebatang rokok sehari mungkin tidak terdengar banyak, itu menambahkan hingga lebih dari seratus batang rokok dalam 1 tahun, dan lebih dari 1.000 dalam 10 tahun.
Risiko kesehatan dari menghirup polusi udara juga bertambah. Baik terhadap pria maupun wanita, bahkan anak-anak di Amerika Serikat.

"Polusi udara adalah bencana lingkungan terbesar di dunia saat ini. Dalam pikiran saya, sangat memalukan bahwa kita tidak lebih memperhatikannya," tutur Muller dikutip dari WebMD.

Muller pun memeringatkan bahwa dia tidak menyarankan bahwa menghirup polusi udara sama dengan merokok. Ini lebih seperti ilustrasi matematis tentang bagaimana keduanya dapat menyebabkan bahaya serupa selama beberapa saat.

Namun penelitian menunjukkan bahwa risiko kesehatan dari merokok dan polusi udara serupa. Sebuah studi menemukan bahwa menghirup udara dengan sedikit peningkatan tingkat polusi udara selama 10 tahun menyebabkan jenis kerusakan paru-paru, yang sama terlihat setelah 29 tahun merokok sebungkus rokok sehari.

Polusi udara juga membawa banyak risiko kesehatan lain yang terkait dengan merokok. Mulai dari kanker paru-paru dan emfisema, hingga penyakit jantung dan stroke.

Risiko Kematian dari Merokok dan Polusi Udara
Ilustrasi AFP

Seperti halnya rokok, jumlah kecil pun tidak aman. Semakin banyak kita menarik napas di tengah polusi udara, semakin tinggi risikonya.

Para peneliti telah menemukan bahwa peningkatan polusi partikel yang sederhana sekalipun dapat meningkatkan risiko kematian akibat penyakit jantung atau paru-paru dan kanker paru-paru. Orang-orang yang tidak pernah merokok juga lebih mungkin terkena kanker paru-paru dan meninggal karena meningkatnya tingkat polusi udara.

Hampir semua orang, di mana-mana menghirup polutan udara tanpa menyadarinya, yang merupakan sebagian alasan mengapa polusi udara menyebabkan masalah kesehatan pada banyak orang. Hal tersebut disampaikan oleh Arden Pope, PhD, profesor ekonomi di Universitas Brigham Young dan pakar terkenal dunia mengenai dampak dari polusi udara.

"Hidup di daerah dengan polusi tinggi lebih seperti hidup dengan orang yang merokok dua hingga tiga bungkus sehari," paparnya.

Ada juga perbedaan besar lainnya. Tidak seperti rokok, polusi udara biasanya tidak disertai label peringatan atau bau yang menyengat. Bagi kebanyakan dari kita, tidak ada tanda-tanda bahwa kita menghirup hingga terjadi kerusakan pada pernapasan.

(FIR)

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

 

 

 

Komentar

LOADING
Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

  1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
  2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
  3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
  4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

Anda Selesai.

Powered by Medcom.id