Studi: Perempuan Terpapar Cat Beresiko Miliki Anak Autisme

    Dhaifurrakhman Abas - 23 Juli 2019 07:07 WIB
    Studi: Perempuan Terpapar Cat Beresiko Miliki Anak Autisme
    Ilustrasi--Shutterstock
    Benzene dan karsinogen sering ditemukan dalam cat, khususnya yang berbasis minyak. Para peneliti menyebut benzene dan karsinogen memicu gangguan spektrum autisme.


    Jakarta: Sebuah penelitian dari Occupational & Environmental Medicine menyatakan, perempuan yang terpapar cat berisiko memiliki anak dengan gangguan spektrum autisme. Perempuan yang tepapar cat lebih banyak, maka resiko memiliki anak autimse juga semakin tinggi.

    Temuan ini dianggap sejalan dengan banyak yang menghubungkan antara bahan kimia cat dan autisme. Beberapa studi menyebut bahan kimia yang paling potensial adalah Benzene dan karsinogen.

    Melansir Time, benzene merupakan salah satu dari kelas bahan kimia yang dikenal sebagai senyawa organik yang mudah menguap. Benzene dan karsinogen sering ditemukan dalam cat, khususnya yang berbasis minyak.

    Zat tersebut juga lazim ditemukan pada perkakas seni kerajinan seperti lem, spidol, penghapus kering, serta polusi knalpot kendaraan dan pestisida. Para ahli masih mencari tahu bagaimana bahan kimia ini membahayakan tubuh manusia.

    Tetapi para peneliti menduga zat tersebut diserap ke dalam darah melalui kontak dengan kulit atau melalui inhalasi. Lambat laun zat berbahaya ini dapat menumpuk di otak atau organ orang-orang yang terpapar.

    Peneliti juga menduga organ hati berperan memecah beberapa bahan kimia ini menjadi produk sampingan yang dapat mengikat dan berpotensi mengganggu bahan genetik sel. Paparan zat yang ditemukan dalam cat dapat meningkatkan risiko bayi lahir dengan berat badan rendah.

    Hal ini pada gilirannya dikaitkan dengan peningkatan risiko keterlambatan perkembangan atau ketidakmampuan belajar.

    Studi mengatakan orang yang berisiko memiliki anak dengan spektrum autisme ketika terpapar benzene dan karsinogen dalam tingkat dan rentang waktu yang lama. Misalnya, orang-orang yang bekerja di laboratorium maupun fasilitas penelitian medis dan farmasi.

    Sementara menurut U.S. Centers for Disease Control and Prevention, orang yang bekerja di industri kimia, atau sebagai ahli kecantikan dan kosmetologi juga rentan terpapar bahan kimia ini. Risiko tinggi juga dihadapi orang yang menghabiskan waktu di ruangan baru berventilasi buruk.

    Studi dari American Lung Association juga menyebutkan, benzene bertanggung jawab atas kerusakan sistem saraf dan organ. Menghirup benzene dengan kadar tinggi juga menyebabkan sejumlah masalah kesehatan jangka pendek, mulai dari sakit kepala, pusing, hidung beringus dan mata gatal.

    Para peneliti menganjurkan orang yang berpotensi terpapar, terutama perempuan hamil, anak-anak dan orang tua menjauhi paparan cat yang mengandung benzene. Tingkat benzene biasanya jauh lebih tinggi di dalam ruangan daripada di luar.

    “Terutama jika ruangan memiliki ventilasi buruk. Terutama jika ruangan menggunakan cat berbasis minyak, cenderung memancarkan kadar yang tinggi,” kata Clifford Weisel, seorang profesor di Institut Ilmu Kesehatan Lingkungan, Universitas Rutgers.

    Erin McCanlies, rekan penulis studi memiliki saran untuk menghindari benzene. Dia bilang, salah satu hal yang dilakukan adalah memilih cat dengan kadar rendah atau nol. “Sekarang mudah ditemukan. Dan ini mungkin lebih aman daripada generasi cat yang lebih tua cat. Meskipun, cat mungkin masih mengandung bahan kimia lain seperti pengikat, penghambat korosi dan pengawet yang dapat berkontribusi pada sifat toksikologisnya," tandasnya.





    (YDH)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id