Apakah Daging Kambing Bisa Menyebabkan Tekanan Darah Tinggi?

    Raka Lestari - 30 Juni 2020 19:07 WIB
    Apakah Daging Kambing Bisa Menyebabkan Tekanan Darah Tinggi?
    Sate daging kambing merupakan makanan favorit di Indonesia. (Foto: Dok. MI)
    Jakarta: Banyak orang yang menghubungkan daging kambing dengan hipertensi atau tekanan darah tinggi. Mengonsumsi daging kambing dianggap bisa memicu tekanan darah tinggi pada seseorang.

    Tak ayal banyak yang menghindari mengonsumsi daging kambing tersebut. Namun apakah benar daging kambing dapat menyebabkan hipertensi?

    “Sebenarnya itu adalah mitos bahwa daging kambing bisa menyebabkan tekanan darah tinggi. Daging kambingnya itu sendiri tidak menyebabkan tekanan darah tinggi, tetapi mungkin dalam proses memasak daging kambing tersebut yang bisa memicu tekanan darah tinggi,” ujar Ardy Brian Lazuardi, Master of Science in Nutrition and Health dari Wagening University, Belanda, dalam Webinar Series Health and Nutrition Tropicana Slim, Selasa, 30 Juni 2020.

    Menurut Ardy, jika memasak daging kambing dengan penambahan sodium yang terlalu banyak, kemungkinan bisa menyebabkan tekanan darah tinggi. Sebab kandungan sodium yang berlebihan tersebut.

    “Daging kambing sebenarnya tidak jauh berbeda dengan daging sapi. Namun memang masakan yang berbahan dasar daging kambing itu identik dengan santan, kecap, atau garam. Bahan-bahan inilah yang kemungkinan bisa menyebabkan tekanan darah tinggi tersebut. Jadi kalau dagingnya saja sebenarnya tidak menyebabkan hipertensi,” tutur Ardy.

    Untuk itu, Ardy menyarankan dalam menyajkan atau memasak daging kambing sebaiknya hindari bahan-bahan yang bisa menyebabkan tekanan darah tinggi. Untuk itu kalau ingin memakan daging kambing agar tidak tidak menambahkan kecap.

    "Kalau mau pakai kecap, pakai kecap yang rendah gula. Dan kalau ingin memasak menggunakan santan, bisa diganti santannya dengan susu almond. Sehingga tidak menyebabkan tekanan darah tinggi,” ujar Ardy.

    “Santan sendiri memiliki kandungan lemak yang tinggi, terutama lemak jenuh atau lemak jahat. Tingginya konsumsi lemak jenuh berkaitan dengan peningkatkan kadar kolesterol yang merupakan faktor risiko penyakit jantung,” tambah Ardy.

    Selain itu, menurut Ardy juga mengonsumsi lemak berlebihan berkaitan dengan masalah kegemukan. Sehingga meningkatkan risiko penyakit jantung atau penyakit kardiovaskular lainnya.



    (FIR)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id