Prof. dr. Taruna Ikrar: Kebutaan Akibat Amblyopia Bisa Diobati

    Sunnaholomi Halakrispen - 09 Juli 2020 21:10 WIB
    Prof. dr. Taruna Ikrar: Kebutaan Akibat Amblyopia Bisa Diobati
    Prof. Taruna telah menemukan pendekatan baru untuk memperbaiki gangguan penglihatan atau amblyopia pada anak-anak. (Foto: Pexels.com)
    Jakarta: Gangguan penglihatan pada anak-anak yang menderita amblyopia kerap memicu cacat permanen pada mata. Namun, temuan terbaru dari Prof. dr. Taruna Ikrar, M.Pharm., MD., Ph.D. yang dimuat di jurnal internasional Current Biology, memberikan harapan besar.

    Prof. Taruna Ikrar sendiri merupakan ilmuwan asal Indonesia. Ia bekerja sebagai profesor dan Kepala Pusat Penelitian Otak PHSU (Pacific Health Sciences University) California dan Anggota (ACCP) American College of Clinical Pharmacology, Amerika Serikat. 

    Para peneliti mengidentifikasi neuron jenis penghambat, yang menjadi kunci penting dalam perkembangan kemampuan melihat pada anak. Hal itu dengan menemukan peran utama jenis Inhibitory Neuron yang menjadi kunci dalam memediasi bagian penting dari pengembangan penglihatan. 

    Selain itu, dalam penelitian ini, berhasil ditemukan Gate Ocular Dominance Plasticity yang terletak di Layer empat dari struktur otak bagian cortex penglihatan.

    Penemuan yang merupakan karya bersama dengan Saintis di UC Irvine dan Louisiana University ini, telah menemukan pendekatan baru untuk memperbaiki gangguan penglihatan pada anak-anak yang menderita kelemahan yang dapat menyebabkan kebutaan.

    Bahkan, dapat melakukan pencegahan sejak awal. Sehingga, kelak dapat mengurangi kecacatan pada penglihatan anak tersebut.

    Padahal, biasanya anak-anak yang menderita amblyopia dan gangguan penglihatan akibat kerusakan saraf penglihatan dalam perkembangannya dapat mengakibatkan cacat permanen pada penglihatan.

    Bahkan, sekalipun telah dilakukan operasi atau memperbaiki aksis amblyopia atau kelemahan penglihatan.

    Kerusakan ini sering merupakan akibat dari perkembangan sistem saraf otak yang tidak benar. Dengan kata lain, terjadi suatu kesalahan dapat perkembangan sistem saraf dalam fase pertumbuhan anak tersebut.

    Demikian pula karena kelemahan visual selama masa kanak-kanak. Sebaliknya, ketika terjadi katarak pada orang dewasa akan dilakukan pembedahan koreksi atau pemulihan penglihatan. 

    Prof. dr. Taruna Ikrar: Kebutaan Akibat Amblyopia Bisa Diobati
    (Prof. dr. Taruna Ikrar, M.Pharm., MD., Ph.D adalah dokter dan seorang ilmuwan berkebangsaan Indonesia dalam bidang farmasi, jantung, dan syaraf. Sekarang ini ia menjabat sebagai spesialis (specialist) di departemen anatomi dan neurobiologi di Universitas California di Irvine dan Profesor dan Dekan di Biomedical Sciences, The National Health University, California, Amerika Serikat. Foto: Dok. Wikipedia)

    Fenomena menarik

    Pada penemuan tersebut, ditemukan fenomena menarik yang ditunjukkan oleh jenis atau tipe tertentu pada inhibitory neuron. Neuron penghambat itu mengontrol fase atau waktu, periode kritis, dari pertumbuhan dan perkembangan dalam fase awal penglihatan, sebelum anak berusia 7 tahun.

    Hasil penelitian ini diterbitkan di Current Biology Journal secara online pada 25 Juni 2020 dan Edisi cetak Minggu ke-4 Juni 2020, dengan judul Layer 4 Gates Plasticity in Visual Cortex Independent of a Canonical Microcircuit.

    Para peneliti menemukan bahwa fungsi yang tidak tepat dari neuron atau saraf kunci selama periode kritis dalam perkembangan yang bertanggungjawab terhadap kecacatan penglihatan ini. 

    Selain itu, dalam penelitian tersebut, Prof. Taruna Ikrar bersama timnya menggunakan senyawa obat tertentu dalam percobaan itu.

    Tepatnya, untuk membuka kembali fase atau periode kritis ini yang menunjukkan modifikasi dan pengaruh obat tersebut dapat merangsang dan mengobati kecacatan saraf, yang diakibatkan oleh gangguan penglihatan mata selama fase awal pengembangannya.

    Mereka pun menunjukkan bahwa obat yang ditargetkan pada neuron yang spesifik dan menjadi kunci pengaturan periode kritis tersebut, menunjukkan mengalami perbaikan gangguan penglihatan sentral pada anak-anak yang pernah menderita amblyopia yang menjadi awal pencetus kebutaan.

    "Jenis neuron yang spesifik tersebut, meregulasi fase atau periode kritis selama perkembangan anak, yang selama ini masih menjadi misteri," papar Prof. Taruna.

    "Terobosan kami menguraikan jalan baru untuk perawatan yang dapat mengembalikan penglihatan normal pada anak-anak yang memiliki gangguan penglihatan awal," tambahnya.

    Bersama sejawatnya, Dr Areen di Lousiana University, UC, PHSU California. Penelitian ini dibiayai oleh National Eye Institute (Grant EY01605) dan Institute National For Neurologic and Stroke Disorders.

    (TIN)


    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id