Yang Terjadi Bila Anda Overthinking

    Kumara Anggita - 25 November 2019 13:11 WIB
    Yang Terjadi Bila Anda <i>Overthinking</i>
    Overthinking membuat Anda jatuh pada banyak pilihan dan hal ini menghambat Anda jadi tidak dapat mengambil keputusan. (Foto: Pexels.com)
    Jakarta: Pernahkah Anda terus-terus berpikir tentang bagaimana jika hal ini terjadi? Bagaimana jika nanti gagal? Bagaimana jika apa yang Anda usahakan akan merugikan? Dan lain-lain. Ya, ini dinamakan overthinking atau terlalu banyak berpikir.

    Anda tidak sendiri karena dilansir dari Huffpost, studi dari University of Michigan menemukan bahwa 73 persen orang dewasa yang berusia antara 25 dan 35 tahun memiliki kebiasaan overthinking, demikian juga 52 persen anak-anak berusia 45 hingga 55 tahun.

    Menariknya, penelitian menemukan bahwa banyak overthinkers percaya bahwa mereka benar-benar melakukan hal yang tepat dengan terus menerus berpikir. Ini perlu dikoreksi karena overthinking adalah permainan berbahaya yang memberi banyak konsekuensi negatif pada kesejahteraan seseorang,

    "Ada saat-saat ketika kekhawatiran tentang masalah jauh lebih buruk daripada masalah itu sendiri,” ujar direktur Pusat Stres dan Kesehatan di Stanford Health Care, David Spiegel. Inilah dampak buruk yang terjadi bila Anda overthinking:

    1. Tidak mengambil tindakan 

    Overthinking membuat Anda jatuh pada banyak pilihan dan hal ini menghambat Anda jadi tidak dapat mengambil keputusan. Ini disebut dengan lumpuh analisi.

    "Anda bisa terjebak dalam konsekuensi potensial yang bahkan mungkin tidak terjadi, hanya mengkhawatirkan hasil tertentu, dan itu dapat melumpuhkan kami atau membekukan kami dari mengambil tindakan," kata Rajita Sinha, direktur Yale Stress Center.

    Rajita menambahkan, bila Anda tidak mencoba sesuatu maka Anda tidak akan gagal namun Anda juga tidak berhasil.

    Yang Terjadi Bila Anda <i>Overthinking</i>
    (Dilansir dari Huffpost, studi dari University of Michigan menemukan bahwa 73 persen orang dewasa yang berusia antara 25 dan 35 tahun memiliki kebiasaan overthinking, demikian juga 52 persen anak-anak berusia 45 hingga 55 tahun. Foto: Pexels.com)

    2. Kurang kreatif

    Sebuah studi dari Inggris menemukan bahwa ketika bagian-bagian tertentu dari otak dan proses kognitif Anda dalam keadaan hening, Anda bisa jadi lebih kreatif.

    Overthinking yang dapat mengarah pada "kebiasaan mental," sebagaimana dicatat dalam penelitian ini pada dasarnya dapat menyebabkan Anda terjebak dan kehabisan ide atau solusi baru. 

    Penelitian lain dari Stanford memiliki kesimpulan yang sama. Mereka menghubungkan peserta ke mesin Magnetic Resonance Imaging (MRI), peserta diminta untuk menggambar serangkaian gambar. Beberapa yang mudah diilustrasikan, beberapa yang sulit. 

    Semakin sulit gambar dibuat, semakin banyak peserta harus berpikir, dan semakin tidak kreatif gambar mereka. Di sisi lain, semakin sedikit pemikiran yang terlibat, semakin kreatif gambarnya. Singkatnya, overthinking tampaknya membatasi kreativitas.

    3. Energi menurun

    Overthinking menguras banyak energi. Otak Anda menghasilkan begitu banyak pemikiran dan skenario yang berbeda yang tidak benar-benar mengarah ke sesuatu yang produktif.

    "Energi mental benar-benar dapat membuat lelah. Ini  karena Anda menghabiskan begitu banyak waktu di kepala Anda sendiri," kata Price.

    Spiegel menambahkan bahwa ketika kita berpikir berlebihan dan membuat stres, tubuh kita memproduksi kortisol, hormon stres. Seiring waktu, pelepasan kortisol yang konstan dapat menipis dan menyebabkan kelelahan.

    4. Tidur terganggu

    Banyak overthinkers susah tidur. Tubuh Anda perlu dalam keadaan tenang agar bisa tertidur. Menurut Spiegel analisis yang berlebihan dapat membangkitkan gairah, terutama ketika pikiran lebih cemas. Hal ini dapat membuat Anda tak tertidur.

    5. Mengubah selera makan

    Terlalu banyak berpikir bisa sangat berdampak pada selera makan. Bagi sebagian orang, ini dapat menekan nafsu makan, dan bagi yang lain justru meningkatkan.

    Spiegel menyebut ini sebagai “makan khawatir," dan mengatakan orang melakukannya karena dapat mendistraksi atau bahkan menenangkan. Banyak orang cenderung mencari hal-hal yang paling lezat dan tidak sehat ketika mereka stres. Selain itu, Menurut Universitas Harvard, kortisol si hormon stres meningkatkan nafsu makan Anda.





    (TIN)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id