Studi: Sperma Pria Berusia Lanjut Sebabkan Masalah Kesehatan Janin

    Dhaifurrakhman Abas - 15 Mei 2019 15:07 WIB
    Studi: Sperma Pria Berusia Lanjut Sebabkan Masalah Kesehatan Janin
    (Pembuahan dari pria berusia 45 atau lebih dapat menempatkan pasangannya dan janin pada risiko peningkatan komplikasi kehamilan. Foto: Pixabay.com)
    Setiap orang mungkin bisa bebas memutuskan kapan waktu yang tepat untuk memiliki keturunan. Namun menurut studi dari jurnal Maturitas, ada risiko kesehatan yang bakal terjadi pada janin, ketika pria ingin memiliki anak dengan batas usia tertentu.

    Jakarta:
    Pria yang memutuskan memiliki momongan saat berusia lanjut dapat memengaruhi kesehatan anak-anak dan pasangan mereka di kemudian hari. Hal ini dikaitkan dengan kualitas pembuahan.
    Sebab menurut sebuah studi yang diterbitkan dalam Jurnal Maturitas, mengatakan, kualitas sperma laki-laki paling baik sebelum menginjak usia 35 tahun. Mereka dianjurkan berkonsultasi ke dokter ketika hendak memiliki keturunan saat berusia 40 tahun ke atas.

    "Usia dan pembuahan berkaitan erat terhadap kesuburan, kehamilan dan kesehatan anak-anak," kata Gloria Bachmann, dari Institut Kesehatan di Sekolah Kedokteran Robert Wood Johnson Medical Rutgers University.

    Bachmann mengatakan, perubahan fisiologis pria berusia di atas 35 tahun serupa dengan yang terjadi pada perempuan. Usia lanjut dapat memengaruhi proses konsepsi, kehamilan dan kesehatan anak.

    "Kebanyakan pria tidak menyadari usia lanjut mereka dapat memiliki dampak yang serupa," ujarnya.

    Selain mengalami penurunan kesuburan, hasil studi menemukan bahwa pria berusia 45 atau lebih dapat menempatkan pasangannya pada risiko peningkatan komplikasi kehamilan. Istri menjadi rentan terserang diabetes kehamilan, preeklampsia dan kelahiran prematur.

    Sementara itum dampak bayi yang lahir dari ayah yang berusia lanjut juga memiliki risiko kelahiran dengan berat lahir rendah dan insiden kejang bayi. Bayi juga rentan memiliki penyakit jantung bawaan dan langit-langit mulut sumbing.

    "Ketika mereka dewasa, anak-anak ini ditemukan memiliki kemungkinan peningkatan kanker anak, gangguan kejiwaan dan kognitif, dan autisme," beber Bachmann.

    Bachmann menghubungkan hasil studi ini dengan melihat penurunan alami testosteron pada pria yang terjadi seiring bertambahnya usia. Usia yang sudah menua juha dikaitkan denganterjadinya degradasi sperma dan kualitas semen yang lebih buruk pada seorang pria.

    "Sama seperti orang kehilangan kekuatan otot, fleksibilitas, dan daya tahan karena usia. Pada pria, sperma juga cenderung kehilangan kebugaran selama siklus hidup," ujar Bachmann.

    Dalam studi ini, Bachmann juga menganalisis bahwa masalah kesuburan tetap akan terjadi pada pria meskipun pasangan mereka berusia di bawah 25. Hal ini, kata dia, mesti diketahui oleh para pria.

    "Sementara perempuan cenderung lebih sadar dan berwawasan daripada pria,lbterkait kesehatan reproduksi mereka. Kebanyakan pria tidak berkonsultasi dengan dokter kecuali mereka memiliki masalah medis atau kesuburan," tandas Bachmann.





    (TIN)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id