Pandemi Berpotensi Timbulkan Masalah Kesehatan Jiwa pada Anak

    Sunnaholomi Halakrispen - 05 Agustus 2020 15:16 WIB
    Pandemi Berpotensi Timbulkan Masalah Kesehatan Jiwa pada Anak
    Aspek masalah kesehatan jiwa anak dan remaja perlu diperhatikan. (Ilustrasi/Pexels)
    Jakarta: Pandemi covid-19 memberikan tekanan pada anak dan berpotensi menimbulkan masalah kesehatan jiwa. Hal ini disampaikan oleh Direktur Pencegahan dan Pengendalian Masalah Kesehatan Jiwa dan Napza Kementerian Kesehatan RI Dr. dr. Fidiansjah, Sp.KJ, MPH.

    Ia mengatakan bahwa aspek masalah kesehatan jiwa anak dan remaja perlu diperhatikan. Sebab, apa yang kita hadapi saat ini adalah sesuatu yang tidak terpisahkan dari masalah pandemi covid-19. Pandemi saat ini tidak mengenal usia, karena siapa pun bisa terpapar.

    "Di sinilah kepentingannya kalau kemudian menyangkut anak yang merupakan sepertiga dari populasi penduduk yang ada di Indonesia. Ternyata angkanya cukup mencengangkan, karena ada sekitar 8,3 persen dari seluruh akumulasi yang sudah dikatakan positif covid-19 adalah usia anak," ujar Dr. Fidiansjah dalam webinar Kesehatan Jiwa Kementerian Kesehatan RI.

    Dari jumlah yang dirawat pun ada sekitar 8,1 persen merupakan anak. Sementara itu, sekitar 8,7 persen dari masyarakat yang terpapar sembuh juga dari populasi anak. Harapannya, tentu tentu bisa memberikan satu keoptimisan. Namun, harus disayangkan bahwa di antaranya ada sekitar 1,9 persen yang berakhir dengan kematian. 

    "Tentu data ini yang terus-menerus akan menjadi perhatian di dalam konteks penanggulangan covid-19 harus kita coba sikapi dengan baik. Apa kaitannya dengan beberapa faktor risiko yang akan muncul di dalam konteks masalah kesehatan jiwa anak dan remaja," paparnya.

    Pertama, anak yang harus mengikuti proses pembelajaran secara online atau daring (dalam jaringan). Meskipun, saat ini pemerintah tengah mulai menyiapkan sistem pembelajaran luring (luar jaringan) atau tatap muka secara langsung menjelang kenormalan baru.

    "Kalau kita berhubungan dengan pembelajaran daring, tidak semua yang ada di dalam geografi dan demografi negara kita itu mempunyai akses (internet) yang cukup memadai. Ternyata masih sekitar 32 persen itu sulit untuk mendapatkan akses dengan konsep pembelajaran daring," jelasnya.

    Hal tersebut berimbas kepada khawatirkan mereka yang tertinggal dalam proses pembelajaran secara online atau tidak bisa mengikuti pelajaran. Di sisi lain, ketika anak harus berada di rumah, belum tentu penerapan budaya dalam pembelajaran bisa berlangsung sama seperti yang anak dapatkan ketika berada di sekolah. 

    "Di sini tentu anak-anak membutuhkan sebuah pendampingan karena belum tentu mereka bisa mengatur waktu. Kemudian, juga tidak mudah untuk memahami pelajaran karena ada suasana yang berubah. Bahkan instruksi melalui daring, berpotensi tidak utuh mereka menerima berbagai macam instruksi," pungkasnya.



    (YDH)


    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id