Pandemi Covid-19, Gaya Hidup Buruk, dan Kembalinya Limbah Plastik

    Sunnaholomi Halakrispen - 03 Agustus 2020 18:03 WIB
    Pandemi Covid-19, Gaya Hidup Buruk, dan Kembalinya Limbah Plastik
    Ilustrasi-Freepik
    Jakarta: Pandemi covid-19 telah mengganggu dan mengubah hidup dengan cara yang tak terhitung jumlahnya. Beberapa dari perubahan itu menantang kemampuan untuk menangani dan mengurangi limbah plastik. Contohnya, terjadi di Amerika Serikat.

    Dilansir dari US Pirg, terjadi kembalinya penggunaan kantong plastik. Di seluruh negeri, larangan menggunakan plastik sekali pakai telah ditangguhkan atau ditunda.

    Beberapa kota dan toko bahan makanan juga telah menunda penggunaan tas yang dapat digunakan kembali. Meskipun tidak ada bukti bahwa tas yang dapat digunakan kembali itu bisa menularkan covid-19.

    "Tidak jelas apa, jika ada, bahaya campuran kapas, kanvas, dan tas nilon yang sebenarnya berpose. Maafkan ungkapan itu, tetapi rasanya seperti menggenggam sedotan," ujar Marc Lipsitch, selaku Profesor Epidemiologi di Harvard T.H. Chan School of Public Health dan Direktur Center for Communicable Disease Disamics, kepada Boston Globe.

    "Penggunaan kembali kantong plastik sekali pakai mungkin sangat keliru mengingat bahwa covid-19 bertahan tiga kali lebih lama pada plastik. Ketahanan tersebut dibandingkan dengan bahan berbasis kertas," menurut New England Journal of Medicine.

    Selain itu, beberapa jenis limbah terburuk semakin meningkat. Di dunia yang lebih jauh secara sosial, manusia membuang lebih banyak plastik sekali pakai di tempat-tempat seperti kemasan makanan dan pengiriman ke rumah. Termasuk alat pelindung diri seperti masker dan sarung tangan.

    Solusi inovatif untuk mengurangi bentuk limbah ini memang ada. Di antaranya, surat dapat digunakan kembali, peralatan pelindung yang dapat didisinfeksi, dan opsi untuk menolak peralatan sekali pakai dan paket bumbu.

    Sayangnya, solusi tersebut belum dibuat dalam skala besar, atau tidak ditawarkan oleh pengecer online utama dan aplikasi pengiriman makanan. Maka tugas terpenting ialah produsen masih perlu merangkul plastik daur ulang.

    Dalam beberapa tahun terakhir, di Amerika Serikat, kurang dari sembilan persen dari plastik yang digunakan telah dikumpulkan untuk didaur ulang. Sebagian besar limbah plastik tidak dapat didaur ulang sejak awal, tetapi sebagian kecil memiliki pasar. Dari fraksi itu, sebagian diekspor ke tempat yang mungkin tidak diubah menjadi produk baru.

    Bagian yang tersisa hanya dimasukkan ke dalam produk baru jika perusahaan memilih untuk menggunakannya. Ketika virgin plastic, produk sampingan dari minyak dan gas, semurah seperti baru-baru ini, perusahaan bahkan lebih mungkin untuk meninggalkan barang-barang daur ulang dan memilih opsi yang paling boros.

    Maka dari itu, selalu ada pelajaran yang bisa dipetik. Di masa depan, kita bisa meninggalkan cara pakai kita. Sebaliknya, kita dapat mengurangi limbah kita dan menciptakan masyarakat yang lebih tangguh, terutama untuk saat-saat pandemi seperti ini.

    Kita dapat membangun sistem yang bijaksana dan higienis untuk peralatan pelindung, peralatan makanan, dan kemasan yang dapat digunakan kembali. Sistem ini dapat menghemat bahan dan juga melindungi terhadap kekurangan pasokan.

    Saat ini, kita dapat bergerak ke arah yang benar dengan terus mengkampanyekan solusi nyata untuk mengurangi plastik sekali pakai yang paling berbahaya dan tidak dapat didaur ulang, yaitu tas belanja dan wadah busa polystyrene. Solusi selanjutnya, membuat perusahaan bertanggung jawab atas akhir masa pakai produk mereka. Dengan begitu, pembaruan gaya hidup berikutnya dijamin akan lebih baik.

    (FIR)


    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id