Apakah Mendengkur Sudah Pasti Sleep Apnea?

    Yatin Suleha - 30 Desember 2019 07:47 WIB
    Apakah Mendengkur Sudah Pasti Sleep Apnea?
    Mendengkur apakah ada kaitannya dengan sleep apnea? Simak penjelasan dr. Andreas Prasadja, RPSGT. (Foto: Pexels.com)
    Jakarta: Mendengkur dialami oleh banyak orang saat tidur. Bagi mayoritas orang, mendengkur dan mengantuk dianggap tidak ada hubungannya sama sekali dengan masalah penyakit lainnya. Namun kini sebagian kecil, semakin hari pasien semakin banyak yang ingin mengetahui apa saja kaitannya antara mengantuk, mendengkur dengan penyakit lainnya.

    Dr. Andreas Prasadja, RPSGT, dari RS Mitra Kemayoran menyebutkan bahwa kecenderungan orang Indonesia terhadap fenomena gangguan dalam masalah tidur, masih belum terlalu tinggi. Dokter yang juga berpraktik di Sleep Disorder Clinic di rumah sakit yang sama ini mengatakan mendengkur dianggap merupakan hal yang biasa, namun akibatnya bisa jadi luar biasa. 

    “Karena mendengkur merupakan gejala utama obstructive sleep apnea (OSA). OSA adalah penyempitan saluran napas atas saat tidur. Penyempitan ini menyebabkan getaran pada bagian-bagian lunak saluran napas sehingga menghasilkan suara ngorok," ucap alumnus dari The University of Sidney, Australia ini.

    "Lebih jauh lagi, dengan semakin melemasnya otot-otot lidah, menyebabkan lidah terjatuh dan menyumbat sama sekali saluran napas sehingga terjadi henti napas (apnea), akibatnya pertukaran oksigen dan karbondioksida sewaktu tidur jadi tidak efektif, ” papar dokter spesialis permasalahan tidur ini.

    Apakah Mendengkur Sudah Pasti Sleep Apnea?
    (Periksa jika Anda mengalami sering mengantuk. Bisa jadi merupakan salah satu dari deretan sleep illness yang disebabkan karena mendengkur dan sleep apnea. Foto: Pexels.com)

    Perlu pengamatan

    “Namun tidak semua orang yang mendengkur sudah pasti menderita sleep apnea. Untuk mendiagnosanya, seorang pendengkur harus menjalani overnight sleep study untuk direkam dan diamati semalam penuh selama tidur untuk melihat gelombang otak, tegangan otot, gerakan bola mata, suara dengkuran, posisi tidur, aliran panas, pergerakan napas, denyut jantung, kadar oksigen dalam darah hingga pergerakan kaki,” jelas dr. Andreas.

    Dalam dunia kesehatan tidur, gangguan dalam tidur atau sleep illness bisa diatasi dengan beberapa cara.

    “Setiap orang berbeda kasusnya. Tidak semua orang yang mengorok perlu melakukan pemeriksaan melalui sleep laboratory,” ungkap dokter yang berpraktik dalam Snoring and Sleep Disorder Clinic pertama di Indonesia ini.

    “Ada yang hanya perlu konsultasi saja dan pemeriksaan berkelanjutan. Namun yang paling harus diperhatikan dengan lebih serius adalah jika seseorang sudah tidur mendengkur dengan henti napas (sleep apnea)," papar dokter berkacamata ini.

    "Jika ini terjadi maka perlu dilakukan bantuan dengan berkonsultasi, observasi melalui sleep laboratory dan menggunakan Continuous Postitive Airways Pressure (CPAP) untuk mengurangi dengkuran dan sleep apnea kala tidur,” ungkap dr. Andreas. 





    (TIN)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id