Ada Bercak Darah saat Hamil, Normal atau Tidak?

    Timi Trieska Dara - 22 Juli 2019 12:44 WIB
    Ada Bercak Darah saat Hamil, Normal atau Tidak?
    Jenis perdarahan apa pun saat hamil tentu menakutkan, bahkan untuk calon ibu berkepala dingin. (Foto: Pexels)
    Bercak atau perdarahan ringan pada awal kehamilan yang tidak banyak seperti menstruasi, terjadi hampir sepertiga dari calon ibu. Hal itu juga tidak menimbulkan ancaman bagi ibu dan bayi.

    Jakarta:
    Meski perdarahan atau bercak selama kehamilan tidak aneh, hal itu tentu tak terduga dan menakutkan. Pelajari penyebab perdarahan selama kehamilan dan cara mengetahui bahwa itu serius, dan apa yang harus dilakukan?

    Jenis perdarahan apa pun saat hamil tentu menakutkan, bahkan untuk calon ibu berkepala dingin. Kabar baiknya, bercak atau perdarahan ringan pada awal kehamilan yang tidak banyak seperti menstruasi, terjadi hampir sepertiga dari calon ibu. Biasanya tidak menimbulkan ancaman bagi ibu dan bayi.

    "Sebagian besar bercak tidak berbahaya," kata Alyssa Stephenson-Famy, M.D., Spesialis Kedokteran Ibu-Janin di University of Washington, Seattle.

    Tetapi perdarahan--tidak peduli seberapa sedikit--dapat menjadi indikasi berbagai komplikasi. Termasuk keguguran, kehamilan ektopik, dan plasenta previa. Sehingga tidak boleh diabaikan.

    Berikut berbagai alasan Anda mungkin mengalami pendarahan saat hamil, kapan Anda harus menghubungi dokter, dan tips untuk komunikasikan gejala Anda secara efektif kepada penyedia layanan kesehatan.

    Penyebab perdarahan atau bercak dalam 20 minggu pertama kehamilan:

    Dokter memperkirakan 25 hingga 40 persen wanita akan mengalami pendarahan vagina selama awal kehamilan dan lebih sering daripada kehamilan yang tidak akan berkembang secara normal, kata Dr. Stephenson-Famy.

    Menurut American Pregnancy Association, ada sejumlah kemungkinan penyebab bercak atau pendarahan yang tidak berbahaya pada paruh pertama kehamilan, di antaranya:

    1. Pendarahan implantasi

    Implantasi sel telur di lapisan rahim terjadi sekitar 4 minggu dalam kehamilan saat sel telur yang dibuahi menempel pada dinding rahim. Jika Anda melihat sedikit pendarahan sekitar seminggu hingga 10 hari setelah pembuahan, pendarahan implantasi kemungkinan menjadi penyebabnya dan tidak perlu khawatir.

    2. Hubungan seksual

    Selama trimester kedua dan ketiga kehamilan, serviks Anda membengkak karena meningkatnya pasokan darah di daerah tersebut. Akibatnya, hubungan intim yang kuat dapat menyebabkan bercak selama kehamilan.

    3. Infeksi

    Beberapa wanita mengalami pendarahan serviks karena infeksi, biasanya penyakit menular seksual seperti klamidia. Dalam hal ini, kondisi yang mendasarinya perlu diobati.

    4. Pemeriksaan internal

    Tidak jarang terjadi pendarahan setelah pemeriksaan Pap smear atau panggul, yang biasanya dilakukan antara minggu ke-6 hingga ke-12 kehamilan. Bercak dapat terjadi dalam 24 jam setelah kunjungan dan biasanya hilang dalam 1 hari.

    Ada Bercak Darah saat Hamil, Normal atau Tidak?

    Namun, terkadang perdarahan selama paruh pertama kehamilan bisa menjadi tanda kondisi yang lebih serius, seperti:

    1. Perdarahan subkorionik yakni perdarahan di sekitar plasenta. Meskipun dimungkinkan untuk melanjutkan kehamilan normal setelah jenis perdarahan ini terjadi, diagnosis dan pengobatan yang cepat sangat penting.

    "Sebagian besar perdarahan subkorionik sembuh, tetapi hal itu menempatkan perempuan pada risiko yang meningkat untuk komplikasi lain seperti persalinan prematur," kata Dr. Stephenson-Famy.

    2. Kehamilan kimiawi, yang terjadi ketika sel telur dibuahi tetapi tidak sepenuhnya menanamkan dalam rahim.

    3. Keguguran (terancam atau segera terjadi), di mana kehilangan kehamilan spontan dalam 20 minggu pertama. Seringkali, perdarahan atau bercak yang terjadi selama keguguran akan disertai dengan gejala lain, seperti kram atau sakit perut.

    4. Kehamilan ektopik, yang terjadi ketika telur yang dibuahi ditanamkan di tempat lain selain rahim, paling sering di saluran tuba. Kadang-kadang disebut kehamilan tuba, kehamilan ektopik tidak dapat berkembang secara normal dan dapat mengancam jiwa ibu jika dibiarkan tidak terdiagnosis.

    5. Kehamilan mola, kehamilan nonviable ditandai oleh pertumbuhan abnormal pada plasenta, dan biasanya, janin abnormal.

    Penyebab perdarahan atau bercak 20 minggu terakhir:

    Meskipun risiko keguguran (yakni kelahiran mati setelah 20 minggu pertama) sangat berkurang setelah trimester pertama, dan banyak komplikasi awal bukan lagi faktor (seperti kehamilan ektopik dan mola), perdarahan selama paruh kedua kehamilan harus ditanggapi dengan sangat serius. Terutama jika itu sedang berlangsung, kata Dr. Stephenson-Famy.
    Penyebab perdarahan pada paruh kedua kehamilan meliputi:
    1. Hubungan seksual
    2. Pemeriksaan serviks, terutama di akhir trimester ketiga ketika lebih sering
    3. Placenta previa, yaitu ketika plasenta menutupi serviks baik sebagian atau seluruhnya.
    4. Abruptio plasenta, di mana plasenta terlepas dari dinding rahim, dapat menyebabkan perdarahan vagina yang parah dan mengancam nyawa ibu dan bayi. Menurut American Academy of Family Physicians, Abruptio plasenta adalah penyebab paling umum dari pendarahan serius selama akhir kehamilan. Kondisi ini jarang terjadi, dan hanya terjadi pada sekitar 1 persen dari semua kehamilan.
    5. Persalinan prematur, di mana perdarahan vaginal disertai dengan kram atau kontraksi, diare, tekanan panggul, atau sakit punggung sebelum 37 minggu, dapat memiliki dampak serius bagi bayi jika tidak dikelola. Setelah 37 minggu, gejala-gejala ini bisa menjadi awal yang normal untuk persalinan.

    Cara mengetahui kapan bercak atau pendarahan selama kehamilan jadi serius

    Pendarahan vagina selama kehamilan tidak jarang, tetapi biasanya juga tidak normal. Ini dapat menunjukkan banyak hal, tergantung pada apakah itu berat atau ringan, berapa lama berlangsung, apa warnanya, dan pada titik mana dalam kehamilan itu terjadi.

    Tanda-tanda perdarahan disebabkan oleh kondisi serius seperti keguguran, masalah dengan plasenta, atau persalinan prematur. Termasuk perdarahan berat (mirip dengan perdarahan menstruasi), perdarahan dalam hubungannya dengan kram dan atau demam, atau perdarahan dan melewati beberapa jaringan. Warna darah juga penting: darah yang merah cerah biasanya lebih mengkhawatirkan daripada darah yang kecoklatan.

    Kapan harus menghubungi dokter?

    Kapan pun itu terjadi, segera hubungi dokter untuk memastikan itu aman. Sebab setiap perdarahan vagina selama kehamilan dapat menjadi gejala dari masalah besar. Jelaskan kondisi Anda secara terperinci. Anda juga harus melihat apakah perdarahannya persisten atau disertai rasa sakit serta demam.

    Sayangnya, jika perdarahan disebabkan keguguran, tidak ada yang bisa dilakukan.
    Tapi jika perdarahan adalah tanda persalinan prematur, dokter Anda akan mengambil langkah-langkah untuk mencegahnya, mungkin merekomendasikan istirahat penuh (bed rest) atau obat.

    Jika perdarahan disebabkan oleh plasenta previa—suatu kondisi di mana plasenta menutupi mulut rahih—maka dokter akan memeriksa Anda. Dokter mungkin akan menghindari melakukan pemeriksaan vagina internal, dan mungkin akan merekomendasikan Anda melakukan operasi caesar ketika bayi Anda siap untuk dilahirkan.

    Operasi cesar yang dijadwalkan biasanya dilakukan pada 38 atau 39 minggu, tetapi wanita dengan plasenta previa sering mengalami perdarahan pada trimester ketiga. Jika ini masalahnya, operasi caesar dapat dilakukan lebih awal.

    Nutrisi Penting dalam Mempersiapkan Kehamilan




    (FIR)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id