Cara Efektif Dokter Jantung Periksa Pasien

    Sunnaholomi Halakrispen - 24 September 2019 15:39 WIB
    Cara Efektif Dokter Jantung Periksa Pasien
    Pelaksanaan exercise test atau pemeriksaan jantung ditujukan kepada mereka yang layak berdasarkan kategori tingkat risiko. (Foto: Ilustrasi. Dok. Pexels.com)
    Jakarta: Pemeriksaan jantung bisa berlangsung lama maupun sebentar, tergantung pada sang dokter. Namun, ada cara yang efektif untuk dokter jantung melakukan pemeriksaan kepada pasiennya.

    Pertama, pastikan pelaksanaan exercise test atau pemeriksaan jantung ditujukan kepada mereka yang layak berdasarkan kategori tingkat risiko gangguan jantung. Hal ini dijelaskan langsung oleh Dr. dr. Dyana Sarvasti, SpJP(K), FIHA, FAsCC.

    "Low, intermediete, atau high risk, yang menjadi patokan seorang cardiologist atau dokter untuk menentukan, apakah layak melakukan exercise test," ujar Dr. Dyana dalam kegiatan ASEAN Federation Cardiology Congress (AFCC) 2019 kepada Medcom.id di Indonesia Convention Exhibition (ICE) BSD City, Tangerang.

    Apabila orang tersebut tidak layak, maka tidak perlu diterapkan exercise stress test. Sebab, bisa saja hasil exercise test tersebut positif meskipun tingkat risiko jantung si pasien rendah

    Sayangnya, apabila hasil stress test-nya positif, akan dicurigai adanya penyakit jantung koroner. Padahal, dalam kondisi ini bisa saja si pasien tidak memiliki keluhan.

    "Medical check up sering kali hasilnya positif ada risiko jantung, padahal mereka tidak ada masalah di jantungnya," tuturnya.

    Hasil medical check up yang menyatakan positif jantung koroner tersebut justru malah membuat pasien stres dan berpengaruh ke jantung. Padahal, pasien tidak memiliki riwayat sakit jantung sebelumnya.

    Sementara itu, medical check up lebih untuk melihat kesehatan secara keseluruhan. Pemeriksaan yang lebih ke arah prefensi, mengetahui faktor risiko.

    "Jadi cara menyikapinya, pertama sebelum melakukan exercise test itu, harus dilakukan probabilitas. Kalau low risk dan positif, lakukan calsium score," paparnya.

    Prosesnya, dilihat dari pemeriksaan CT scan jantung untuk menghitung jumlah kalsium skor. Apabila angkanya tinggi, maka sudah ada pengapuran atau kerak yang berarti ada penyakit jantung koroner.

    Cara Efektif Dokter Jantung Periksa Pasien
    (Pelaksanaan exercise test atau pemeriksaan jantung ditujukan kepada mereka yang layak berdasarkan kategori tingkat risiko gangguan jantung. Foto: Pexels.com)

    Misalkan ada kerak, selanjutnya orang dengan low risk dari positive stress ditambah angka kalsium skor ternyata tinggi, maka bisa segera kateterisasi. Apabila kalsium skornya tidak ada, maka selanjutnya tinggal mengikuti secara klinis, bisa dengan pemeriksaan setahun kemudian.

    Sedangkan, apabila intermediate risk dan treadmillnya positif, berarti sebaiknya melakukan CT scan jantung. Sedangkan, jika pasien tersebut high risk dan hasil treadmillnya positif, maka segera lakukan kateterisasi jantung.

    Berdasarkan hal tersebut, kata Dr. Dyana, terkadang pasien dengan low risk dan hasil ECG-nya positif, pasien langsung ketakutan. Padahal, biasanya hasil positif pada low probability lebih ke arah positif palsu atau sering disebut false positive.

    "Prinsipnya seorang dokter apapun itu harus memerhatikan betul pre test probability-nya bagaimana. Jangan semuanya diperiksain," tandasnya.

    Lantaran rasa khawatir yang bahkan bisa hingga berlebihan dari si pasien, dokter ditekankan harus memberikan penanganan. Pemberian obat pun memungkinkan diberikan obat jantung koroner.

    "Padahal kalau enggak ada indikasi kan bisa sakit semua konsumsi obat jantung koroner. Ada juga dokter yang suruh tes ini dan itu, banyak. Padahal harganya lebih mahal," terangnya.

    Harga rata-rata untuk CT scan jantung sendiri berada di kisaran Rp4-6 juta. Banyaknya pemeriksaan yang dilakukan secara bertahap pastinya akan merugikan pasien dalam hal finansial.

    "Kalau low risk tapi melakukan exercise stress test, tambahin kerjaan dokter juga," tuturnya.

    Dr. Dyana menekankan bahwa pemeriksaan kesehatan atau medical check up secara rutin sebetulnya tidak untuk semua usia. Pelaksanaan exercise stress sabaiknya dilakukan untuk perempuan berusia lebih dari 40 tahun dan laki-laki berusia di atas 35 tahun.

    "Kalau di bawah itu kayaknya enggak perlu deh. Sebaiknya juga treadmill test itu tidak perlu dijadikan suatu pemeriksaan rutin medical check up, kalau tidak ada indikasinya," pungkas Dr. Dyana.

    Dokter yang berasal dari Surabaya ini menjelaskan bahwa dokter jantung sebaiknya memeriksa kondisi gula darah, lab ginjal, lab kolesterol, kanker, dan liver.

    Ada faktor risiko asam urat tinggi, kanker, dan sebagainya, yang seharusnya dilihat. Sedangkan treadmill, katanya, hanya bertujuan untuk melihat pasien yang probabilitynya intermediate risk, jika ketahuan ada faktor risikonya.





    (TIN)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id