Patah Hati Bisa Menyebabkan Kanker?

    Timi Trieska Dara - 09 Agustus 2019 13:09 WIB
    Patah Hati Bisa Menyebabkan Kanker?
    Sindrom patah hati menyebabkan nyeri dada mendadak dengan hebat dan sesak napas yang dapat disalahartikan sebagai serangan jantung. (Foto: Pixabay/Pexels)
    Bagi yang patah hati, ada baiknya untuk tidak terlarut dalam kekecewaan. Sebab dalam sebuah penelitian, bisa memicu penyakit kanker. Hubungannya, diawali dari sindrom patah hati yang menyebabkan nyeri dada mendadak dengan hebat dan sesak napas.

    Jakarta: Berdasarkan hasil penelitian, stres ekstrem kehilangan orang yang dicintai telah dikaitkan dengan masalah jantung. Baru-baru ini, sebuah studi menemukan bahwa 1 dari 6 orang dengan sindrom patah hati juga menderita kanker. Lebih buruk lagi, mereka lebih kecil kemungkinannya untuk selamat dari kanker setelah 5 tahun diagnosis.

    "Tampaknya ada interaksi yang kuat antara sindrom Takotsubo (sindrom patah hati) dan penyakit yang berbahaya," kata penulis senior penelitian Dr. Christian Templin.

    "Oleh karena itu, harus direkomendasikan bagi pasien sindrom Takotsubo untuk berpartisipasi dalam skrining kanker untuk meningkatkan kelangsungan hidup secara keseluruhan," kata Dr. Christian yang juga direktur perawatan jantung akut di Rumah Sakit Universitas Zurich, Swiss.

    Dr. Christian juga menambahkan, hal sebaliknya juga berkata demikian. Namun, penelitian itu tidak membuktikan bahwa yang salah satu menyebabkan yang lain.

    Sindrom patah hati menyebabkan nyeri dada mendadak dengan hebat dan sesak napas yang dapat disalahartikan sebagai serangan jantung. Menurut American Heart Association (AHA), gejala-gejala ini merupakan reaksi terhadap lonjakan tiba-tiba pada hormon stres.

    Kondisi itu menyebabkan ruang pompa jantung utama membesar. Dan, itu berarti jantung tidak dapat memompa darah secara efektif.

    Sindrom patah hati dapat terjadi setelah hampir semua pengalaman emosional yang intens. Kematian orang yang dicintai, putus cinta atau perceraian, masalah keuangan dan bahkan pengalaman yang sangat positif seperti memenangkan hadiah juga dapat memicu sindrom patah hati.

    Stres fisik utama juga dapat memicu sindrom patah hati. Trauma fisik atau pembedahan, kegagalan, dan infeksi pernapasan adalah contoh dari tekanan fisik yang dapat menyebabkan sindrom patah hati.

    Studi baru ini meneliti lebih dari 1.600 orang dengan sindrom patah hati. Para peserta direkrut di 26 pusat medis di 9 negara yang berbeda. Termasuk 8 negara Eropa dan Amerika Serikat.

    Di antara mereka yang didiagnosis kanker, sebagian besar adalah wanita (88 persen) dan usia rata-rata mereka adalah 70 tahun.

    Lebih lanjut, menurut Dr. Christian, insiden kasus kanker jauh lebih tinggi dari biasanya. Itu berlaku untuk kedua jenis kelamin dan semua kelompok usia.

    Misalnya, pada wanita berusia 44 tahun dan lebih muda, tingkat kanker yang diharapkan adalah 0,4 persen. Tetapi bagi mereka yang mengalami sindrom patah hati adalah 8 persen.

    Pada pria berusia 45 hingga 64 tahun, tingkat kanker yang diharapkan adalah 2 persen. Tetapi pada mereka yang mengalami sindrom patah hati, itu adalah 22 persen. Pada pria dan wanita yang lebih tua, kasus kanker yang diharapkan lebih dari 2 kali lipat dari yang diharapkan bagi mereka yang mengalami sindrom patah hati.

    Jenis kanker yang paling umum adalah kanker payudara. Kanker lain yang terpengaruh termasuk sistem pencernaan, saluran pernapasan, organ seks internal, dan kulit. Orang yang juga menderita kanker lebih mungkin memiliki pemicu fisik untuk sindrom patah hati daripada yang emosional.

    Dr. Christian mengatakan, dari studi ini, tidak jelas bagaimana tepatnya kondisi ini dihubungkan. Meskipun ia mencatat bahwa stres dari diagnosis kanker dapat memicu sindrom patah hati. Mungkin juga perubahan metabolik atau hormon yang disebabkan oleh kanker dapat meningkatkan risiko sindrom patah hati.

    Guy Mintz, Direktur Kesehatan Kardiovaskular dan Lipidologi di Rumah Sakit Jantung Sandra Atlas Bass Northwell Health di Manhasset, New York, mengatakan, banyak pasien kanker memiliki tekanan emosi yang signifikan dan beberapa intervensi medis. Itu merupakan pemicu yang paling umum ditemukan dalam penelitian ini.

    Tetapi dia mencatat bahwa, penelitian ini terlalu kecil dan kankernya terlalu bervariasi untuk menarik kesimpulan mengenai mekanisme langsung dan interaksi dari kedua diagnosis pada umur panjang.

    Mintz mengatakan bahwa penting bagi dokter untuk mewaspadai hubungan antara sindrom patah hati dan kanker. Sehingga dokter-termasuk dokter perawatan primer, kanker dan jantung-dapat melakukan intervensi lebih awal dalam perjalanan kedua kondisi tersebut.



    (FIR)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id