kisah

    Hindari Stres, Cara Prof. Idrus Paturusi Bisa Lawan Covid-19

    Yatin Suleha - 07 April 2020 10:28 WIB
    Hindari Stres, Cara Prof. Idrus Paturusi Bisa Lawan Covid-19
    Prof. Idrus berada di tengah saat berada bersama tim medis Unhas dalam acara Humanity for Asfats, Asmat-Papua, 2018 silam. (Foto: Dok. Med.unhas.ac.id)
    Jakarta: Tak ada yang bisa mengalahkan semangat yang datang dari dalam diri Anda sendiri. Daya juang memang mesti dihidupkan terutama pada jiwa-jiwa yang merasa rapuh. Salah satu yang berhasil bangkit untuk melawan virus korona atau covid-19 adalah Prof. Dr. dr. Idrus A Paturusi, Sp.BO. 

    Seorang Dokter Spesialis Bedah Tulang dan Praktisi Pendidikan. Ia berbagi cerita tentang dirinya terkena covid-19 ini.

    "(Hal ini) muncul dari kegelisahan. Bahwa hasil yang kita peroleh dari Sulawesi Selatan sangat lama, sehingga kami berusaha untuk membuat pemeriksaan (covid-19) sendiri di Universitas Hasanuddin - Makassar. Ironisnya orang yang pertama divonis sebagai orang yang positif virus adalah saya," papar Prof. Idrus dalam tayangan Metro TV.

    "Jadi pada waktu itu saya mengisolasikan diri dan kemudian ada satu hal yang perlu saya sampaikan, bahwa saya sebetulnya kasus yang tanpa gejala atau gejala ringan. Kalau saya tidak memeriksakan diri, saya tidak tahu kalau saya sakit," aku Prof. Idrus.

    Menurutnya ini yang berbahaya. Kasus seperti ini (tanpa gejala atau gejala ringan) bisa menjangkiti yang lainnya.

    Hindari Stres, Cara Prof. Idrus Paturusi Bisa Lawan Covid-19
    (Komunikasi terus dilakukan oleh Prof. Idrus selama masa pengobatan covid-19. Foto: Dok. Prof. Idrus Paturusi)

    Kunci kesembuhan dari covid-19

    Faktor yang cukup penting menurut Prof. Idrus adalah daya tahan tubuh. "Jadi walaupun sudah ada SOP dari doter paru, bahwa ada antibiotik, ada Tamiflu dan lain sebagainya tapi yang paling penting juga adalah suplemen untuk meningkatkan daya tahan tubuh kita," papar profesor yang pernah menjabat sebagai Rektor di Universitas Hasanuddin, Makassar periode 2006-2014 ini.

    Karena virus tak bertahan lama, papar Prof. Idrus sama-sama saling bertahan. "Kalau sampai (virus) sudah mati, sudah tak berfungsi lagi, ya berarti kita bisa selamat dari keganasan virus tersebut. Nah, ini yang harus dilawan dengan meningkatkan daya tahan kita. Itu yang selama ini saya lakukan di dalam." 

    Ini terbukti dengan isolasi yang ia jalankan hanya sembilan hari. "Hari ke-7 hasil Swab saya sudah negatif. Hari ke-9 negatif yang kedua. Hari ke-10 saya sudah balik ke rumah," ungkap profesor yang masih berpraktik ini.

    Hindari Stres, Cara Prof. Idrus Paturusi Bisa Lawan Covid-19
    (Saat perawatan covid-19 yang dilakukan oleh Prof. Idrus. Foto: Dok. Prof. Idrus Paturusi)

    Stres

    Menurutnya kesehatan mental adalah hal yang perlu dikembangkan bagi yang positif covid-19. Ia memaparkan bahwa stres punya pengaruh pada tubuh.

    "Saya bersyukur bahwa istri saya mau menemani. Sehingga stres itu berkurang dan ini barangkali yang menambah percaya diri saya untuk bagaimana bertahan dan bagaimana melawan virus itu," papar Prof. Idrus sambil memperlihatkan gambar saat ia bervideo call bersama keluarga.

    Tim medis bekerja luar biasa karena dalam kekurangan APD terus melakukan tugasnya. 

    "Saya malah pernah satu malam dilapor oleh perawat bahwa tidak ada penjaga tadi malam karena APD-nya enggak ada. Saya bilang itu (APD) harus ada. (Malam itu) perawat jaga di luar karena tidak punya APD, akhirnya saya lapor kepada direktur akhirnya tengah malam baru dapat. Tengah malam baru mereka masuk," kenang Prof. Idrus.

    Ia berharap bahwa APD jangan sampai kekurangan dalam mengatasi kasus virus korona ini.

    Hindari Stres, Cara Prof. Idrus Paturusi Bisa Lawan Covid-19
    (Jalin komunikasi dengan keluarga melalui video call dan hindari stres untuk bisa melawan covid-19. Foto: Dok. Prof. Idrus Paturusi)

    Pasien sembuh dari covid-19

    Profesor yang pernah menerima gelar Doktor di Universitas Hasanuddin ini memaparkan bahwa imbauan pemerintah diikuti.

    "Dijaga physical distancing, cuci tangan dan lain sebagainya. Harus diikuti. Kalau kita ingin menolong, harus kerja sama masyarakat, pemerintah, orang medis untuk bagaimana supaya rantai penularan ini kita putuskan," imbau Prof. Idrus.

    Ia juga memaparkan bahwa akan menghimpun peneliti yang lain untuk mempertimbangkan pengunaan parameter untuk mengetahui grade 1, 2 atau 3 pasien covid-19.

    "Klasifikasi ini yang saya pikirkan. Mudah-mudahan ini menjadi sumbangan agar supaya nanti kita punya parameter dan skoring (atas covid-19) seperti itu untuk mengetahui berat ringannya pasien (covid-19)," pungkasnya.



    (TIN)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id