Mengenal Stevia, si Pemanis tanpa Kalori

    A. Firdaus - 21 Oktober 2019 16:29 WIB
    Mengenal Stevia, si Pemanis tanpa Kalori
    Sejarahnya, pada 1985 Stevia sudah dilakukan produksinya secara massal. (Foto: A. Firdaus/Medcom.id)
    Bogor: Berbicara tentang pemanis, tentunya tak lepas dari gula. Sayangnya belakangan ini, gula tak lagi menjadi sahabat buat kesehatan tubuh kita, andai dikonsumsinya secara berlebihan.

    Seiring timbulnya kesadaran manusia untuk hidup sehat, muncullah tanaman Stevia. Tanaman yang awalnya ditemukan di Amerika Selatan ini, banyak tumbuh di Paraguay dan Brasil.

    "Stevia merupakan tanaman yang menghasilkan satu senyawa berupa kaloid. Biasanya kaloid itu pahit, namu ini justru menghasilkan rasa manis. Hal itu disebabkan oleh komponen dalam daun tersebut seperti steviosida. Jadi senyawa steviosida ini mengeluarkan rasa manis seperti gula," ujar Prof. Ir. Achmad Sulaeman MS. PhD.

    Meski begitu, menurut Prof. Achmad, Stevia tak mengandung kalori. Sehingga sangat disarankan bagi para penderita diabetes atau yang sedang menjalani diet.

    "Sebenarnya pada 1985, tanaman Stevia ini sudah diajukan agar bisa digunakan di dalam makanan. Tapi Food and Drug Association (FDA) di Amerika baru mengizinkannya belum lama ini. Sekira pada 2000-an. Sebab telah dilakukan pengujian keamanan uji klinik dan praklinik," sambung Prof. Achmad yang juga Pakar Gizi dan Keamanan Pangan Institut Pertanian Bogor.

    Sejak saat itu, Stevia boleh dipergunakan dalam makanan dan minuman. Begitu juga di Indonesia, sudah mendapat izin dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM). Sebab Stevia merupakan pemanis nonkalori dan bersifat alami.

    "Jadi mungkin ini menjadi solusi buat yang diet dan diabetes sebagai pengganti gula dan tentunya masih ada pemanisnya," terangnya.

    Sejarah stevia

    Sejarahnya, pada 1985 Stevia sudah dilakukan produksinya secara massal. Bahkan, kini banyak produk gula yang mencampurnya dengan Stevia. Dalam praktiknya, penggunaan gulanya dikurangi dan ditambahkan dengan Stevia.

    Tanaman ini juga memiliki beberapa manfaat. Seperti menjaga kadar gula darah agar tetap stabil, menurunkan tekanan darah, bersifat alami, dan tidak mengubah kadar gizi yang terdapat di dalam makanan atau minuman.

    "Tapi tanpa gula pasirnya pun tetap ada rasa manis dari Stevia. Memang sih kalau kebanyakan ada rasa bagaimana gitu, tapi itu after taste. Karena memang kan Stevia itu bukan gula, sehingga akan menghasilkan rasa pahit juga kalau terlalu banyak dikonsumsi," imbuh Prof. Achmad dalam event Jelajah Gizi 2019 persembahan Sari Husada di Bogor.

    Selain tak disarankan untuk terlalu banyak mengonsumsi, Stevia juga memiliki efek samping. Seperti keluhan kembung, begah, dan mual.

    "Meski untuk penderita diabetes bagus, bukan berarti bagi penderita lainnya juga bagus. Apalagi yang sensitif terhadap urea, sebab bisa memberikan dampak yang tidak baik buat kesehatan," ujar Prof. Achmad.

    Sementara untuk ibu hamil dan bayi yang masih berusia kurang dari enam bulan juga tak disarankan untuk mengonsumsi ini. Sebab yang mereka butuhkan adalah energi yang terdapat dalam gula.

    "Bayi itu kan membutuhkan energi dari rasa manis, kalau Stevia tidak ada energinya jadi hanya sekadar kenyang. Bahkan sampai enam bulan dari Laktosa di dalam ASI. Kemudian di bawah dua tahun, susu untuk bayi juga tidak boleh mengandung sukrosat, karena terkait dengan perkembangan gigi," terangnya.



    (TIN)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id