Penelitian: Apel Organik Lebih Baik

    Dhaifurrakhman Abas - 30 Juli 2019 09:05 WIB
    Penelitian: Apel Organik Lebih Baik
    Apel organik semasa tanam sering dihinggapi Methylobacterium, sejenis bakteri yang berperan dalam membantu buah menjadi matang dan memiliki rasa yang lebih enak. (Foto: Pixabay)
    Orang yang mengonsumsi apel beserta kulitnya akan mendapatkan serat ekstra dari buah tersebut. Asalkan apel yang dikonsumsi merupakan jenis apel organik, begitu ungkap penelitian tersebut.

    Jakarta:
    Apel merupakan buah dengan jumlah bakteri melimpah. Totalnya ada sekitar 100 juta bakteri yang di antaranya merupakan jenis bakteri sehat.

    Menurut penelitian dari Frontiers in Microbiology, apel lebih baik dikonsumsi beserta kulitnya. Sebab seseorang yang mengonsumsi apel beserta kulitnya mendapat 10 kali bakteri baik.

    Selain mendapatkan rasa yang lebih alami, orang yang mengonsumsi apel beserta kulitnya akan mendapatkan serat ekstra dari buah tersebut. Asalkan apel yang dikonsumsi merupakan jenis apel organik, begitu ungkap penelitian tersebut.

    "Varietas organik membawa komunitas kuman yang lebih beragam daripada yang konvensional. Sehingga bisa lebih sehat untuk kita makan," ujar Gabriele Berg dari Graz University of Technology, Austria.

    Menurut Gabriele, apel merupakan salah satu buah paling favorit masyarakat. Pada 2018 saja, kata Gabriele, lebih dari  83 juta apel ditanam jika dibandingkan buah lainnya.

    Hanya saja, apel biasanya dijual dalam dua jenis besar yaitu organik dan konvensional.  Gabriele dan para ilmuwan Universitas Teknologi Graz lantas membandingkan kandungan apel konvensional dan organik yang dijual di toko buah.

    "Kami menganalisis apel komlnvensional dan organik yang baru dipetik, dengan ukuran yang sama," sambung dia.

    Tim peneliti lantas menganalisis kandungan bakteri yang ditemukan di batang, kulit, daging, biji, dan kelopak apel. Analisis juga dilakukan pada bagian batang pohon tempat apel tumbuh

    Hasilnya, para peneliti mengatakan, apel organik dan konvensional mengandung jumlah bakteri yang hampir sama banyak. Sebagian besar bakteri bersembunyi di dalam biji apel.

    "Namun ketika Anda nenilih apel konvensional, Anda tentu mengupas kulitnya (menghindari pestisida). Sehingga apel akan mengandung hanya 10 juta spesies bakteri. Yang mana sebagian besar terkandung dalam daging," ujar Gabriele.

    Sementara itu, Gabriele bilang, apel organik yang baru dipanen melindungi komunitas bakteri baik yang lebih beragam daripada yang konvensional. Keragaman bakteri yang lebih besar diketahui baik untuk kesehatan usus besar manusia.

    Adapun apel konvensional diketahui, mengandung bakteri dari patogen Escherichia-Shigella. Ini merupakan jenis bakteri yang dapat menyebabkan diare dan penyakit usus.

    "Ini ditemukan di sebagian besar sampel apel konvensional tetapi tidak dalam organik. Dan sebaliknya, apel organik mengandung bakteri probiotik yang bermanfaat, Lactobacilli," ungkap Gabriele.

    Selain itu, Gabriele mengungkapkan, apel organik semasa tanam sering dihinggapi, Methylobacterium. Ini merupakan sejenis bakteri yang berperan dalam membantu buah menjadi matang dan memiliki rasa yang lebih enak.

    "Perbedaan antara apel organik dan konvensional tentu saja dapat dikaitkan dengan berbagai faktor dalam kondisi pertanian dan penyimpanan," tandasnya.



    (FIR)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id