kisah

    Perjuangan Sukses Melawan Obesitas

    Sunnaholomi Halakrispen - 20 Mei 2020 06:00 WIB
    Perjuangan Sukses Melawan Obesitas
    Steve Konzelman berhasil menurunkan berat badannya dari 228 kilogram menjadi 98 kilogram. Berikut kisahnya. (Foto: Dok. Instagram Steve Konzelman/@stephenjames85)
    Jakarta: Steve Konzelman memiliki berat 503 pound atau 228 kilogram. Tekanan darahnya telah mencapai 180/140, sedangkan normal berada di angka 120/80 atau lebih rendah. Dokternya pun mengatakan bahwa dia bisa mengalami stroke kapan saja.

    Dia berusia 20-an saat itu, ia telah mengalami tingkat risiko yang sangat tinggi untuk terkena penyakit mematikan. Bahkan saat itu, ia masih belum minum obat untuk mengatasi berat badannya.

    Keluarga Konzelman, yakni ibu, saudara laki-lakinya, dan almarhum ayahnya juga berjuang melawan obesitas, telah beberapa kali melakukan operasi penurunan berat badan. Tetapi, Konzelman selalu merasa bahwa dirinya masih bisa mengatasinya sendiri.

    Ketika dia mendekati usia 30 tahun, dia tahu dia butuh bantuan. Ia pun akhirnya bergerak maju pada empat tahun yang lalu atau tepatnya saat berusia 29 tahun.

    Dokter telah memperingatkannya bahwa operasi bypass lambung, yang mengurangi seberapa banyak lambung dapat membuatnya bertahan. Jumlah kalori dan nutrisi yang diserap tubuh, memiliki tingkat kegagalan yang sangat tinggi.

    Perjuangan Sukses Melawan Obesitas
    (Dahulu Konzelman sangat menyukai makanan cepat saji, Foto: Ilustrasi. Dok. Pexels.com)

    Sangat suka makanan ultra-proses

    Konzelman tidak mengindahkan saran yang disampaikan dokter kepadanya. Sebab baginya, penanganan yang tepat ada pada dirinya sendiri.

    "Itu tidak memperbaiki hidup kamu. Itu hanya alat. Aku harus melakukannya dengan komitmen penuh," ujar Konzelman selaku analis operasi di Bank of America di Atlanta, dikutip dari WebMD.

    Dia tahu dia akan menurunkan berat badan dengan cepat selama enam bulan pertama. Tetapi untuk menjaga berat badan, dia harus mengubah segalanya. Itu berarti melepaskan makanan olahan yang kaya kalori dan kurang nutrisi yang merupakan makanan pokoknya.

    "Saya adalah orang Amerika yang stereotip gemuk. Saya sudah makan makanan cepat saji di pagi hari, yakni dua sandwich untuk sarapan, dua kentang goreng, dan 40 ons soda (lebih dari 1.100 ml). Itu telah memenuhi kebutuhan kalori untuk sehari, terpenuhi dalam satu kali makan. Saya melakukannya lagi saat makan siang dan makan malam," akunya.

    Jenis-jenis makanan ultra-olahan juga dilahapnya setiap hari. Di antaranya, camilan siap saji, minuman, dan makanan yang mengandung zat tambahan, warna buatan, pengawet, banyak gula, garam, serta lemak tetapi sangat sedikit nutrisi. 

    Walaupun sadar efek yang ditimbulkan dari ragam makanan yang kurang sehat tersebut, namun bagi Konzelman, ia selalu menemukan alasan bahwa makanan olahan lebih memuaskan. 

    "Saya suka memasak dan mencicipi sayuran dan makanan rumahan. Saya hanya tidak melakukannya karena makanan itu tidak memenuhi dan memuaskan saya sama seperti makanan cepat saji yang dibeli dan dibawa pulang," tuturnya.

    Perjuangan Sukses Melawan Obesitas
    (Ia mengombinasikan operasi penurunan berat badannya dengan rutin berolahraga. Foto: Dok. Instagram Steve Konzelman/@stephenjames85)

    Berat badan turun drastis

    Dalam perjalanan penurunan berat badannya yang ekstrem, yang membuatnya dari 228 kilogram menjadi 98 kilogram, ia bertekad. Konzelman berubah dari seorang pria yang makan pizza utuh dan soda 2 liter untuk makan malam, menjadi seorang yang membawa saus salad buatannya sendiri ketika ia pergi makan di restoran.

    "Saya ingin saus salad yang tidak diisi dengan gula dan semua jenis bahan buatan," ucapnya.

    Dengan kapasitas perutnya yang terbatas untuk makanan dan kemampuan tubuhnya yang terbatas untuk menyerapnya, tidak ada ruang kosong untuk kalori berlebih. Ia hanya makan sedikit untuk memastikan diisi dengan nutrisi yang dibutuhkan.

    Konzelman menekankan bahwa ia tidak beralih dari pizza utuh menjadi salad sendiri dalam waktu semalam. Ketika pertama kali mulai menyiapkan makanan kecil dan sehat di rumah, ia memasak sayuran, tetapi ia masih konsumsi saus atau bumbu yang sudah diproses. 

    Sedikit demi sedikit, ia belajar tentang bahan-bahan sehat yang bisa ia tukarkan untuk menggantikan bahan-bahan yang kurang sehat, dan Konzelman berhasil. Ide itu pun dianggap tepat menurut Katherine Zeratsky, ahli gizi diet terdaftar di Mayo Clinic di Rochester, MN.

    "Anda bisa mulai dengan mengurangi makanan ultra-olahan pada waktu camilan. Potong beberapa keripik atau kue dan ganti dengan apel dan selai kacang atau sayuran dengan hummus," papar Zeratsky.

    Ahli diet dan profesional industri makanan sama-sama memperingatkan bahwa ini bukan tentang mengganti satu junk food dengan yang lain yang tampaknya lebih baik. Jangan terpengaruh oleh label pada makanan siap saji, seperti keripik dan kue, yang bertuliskan alami atau organik.

    Mereka menekankan bahwa Anda masih cenderung menemukan kata-kata yang tidak dikenal di antara bahan-bahannya. Dengan kata lain, masih ada kandungan tidak sehat di dalam produk itu.

    "Tidak selalu jauh berbeda, apa yang disebut versi lebih baik (sehat). Bahkan kata kunci seperti nabati tidak berarti itu sehat seperti makanan utuh," kata Michael Sigmundsson, pengembang dan konsultan produk makanan dan minuman. Yang sudah pasti lebih sehat adalah sayuran dan buah yang Anda olah dan siapkan sendiri.



    (TIN)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id