Pentingnya Mengetahui Status Gizi Anak

    Raka Lestari - 16 Juli 2019 18:37 WIB
    Pentingnya Mengetahui Status Gizi Anak
    Dengan membawa bekal ke sekolah maka orang tua bisa mengetahui berapa jumlah asupan makanan pada anak. (Foto Ilustrasi: Naomi Shi/Pexels)
    Obesitas kini bukan hanya mengancam orang dewasa, anak-anak juga berisiko terkena obesitas. Salah satu penyebabnya, asupan gizi serta gaya hidup sedentary atau kurang gerak karena sudah terlena dengan gadget.


    Jakarta: Saat ini obesitas tidak hanya dialami oleh orang dewasa, tetapi juga pada anak-anak. Dampak obesitas sendiri sama berbahayanya baik pada anak maupun orang dewasa jika tidak ditangani dengan baik.

    Diperburuk lagi dengan gaya hidup sedentary atau kurang gerak. Salah satunya dipicu oleh kemudahan yang dihadirkan teknologi dan gawai digital, sehingga membuat anak enggan beraktivitas fisik.

    "Obesitas umumnya disebabkan oleh tiga faktor, yaitu perilaku, lingkungan, dan genetik. Faktor genetik menyumbang sekitar 10-30 persen sementara faktor perilaku dan lingkungan dapat mencapi 70 persen," ujar dr. Dian F. Suganda, M.Kes, Sp.GK, selaku spesialis gizi klinik.

    "Beberapa risiko kesehatan dari obesitas diantaranya adalah stroke, kardiovaskular, darah tinggi,  gangguan jantung, endokrin, diabetes, muskoskeletal bahkan bisa depresi. Biasanya anak-anak yang mengalami obesitas dibully ketika di sekolah," sambung dr. Diana.

    Lebih lanjut, dr. Diana menyarankan agar oang tua memerhatikan perubahan perilaku pada anak-anak. Misalnya mereka menjadi murung atau cemberut, sebaiknya orang tua menanyakan apakah ada yang mem-bully mereka atau tidak.

    Pentingnya Mengetahui Status Gizi Anak
    Acara Eat Like A Pro by Beko, di kawasan Jakarta Selatan, Selasa, 16 Juli 2019. (Foto: Raka/Medcom.id)

    Menurut New England Journal of Medicine, kelompok atau status gizi anak-anak pada usia 5 tahun misalnya tergolong kurus, normal atau gemuk akan tetap bertahan di kelompok status gizi tersebut, hingga usianya menginjak 15-18 tahun.

    Selain membatasi makanan, dr. Diana juga menyarankan agar orang tua mengajak anak-anak untuk melakukan aktivitas fisik. Aktivitas fisik pada anak bisa dilakukan sebanyak 60 jam setiap minggu, sedangkan untuk orang dewasa 150 jam setiap minggunya.

    "Dengan membawa bekal ke sekolah maka orang tua bisa mengetahui berapa jumlah asupan makanan pada anak. Karena biasanya jajanan-jajanan yang dijual mengandung banyak gula, lemak jenuh, garam, dan sebagainya," jelas dr. Diana. 

    "Selain itu, usahakan juga untuk mengonsumsi lebih banyak buah dan sayur karena itu memhuat anak menjadi kenyang lebih lama dan bernutrisi," terang dr. Diana.

    Nutrisi Seimbang pada Bekal Anak




    (FIR)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id