Tema Khusus Rona

    15 Minutes with Wahyu Wiwoho, Menjembatani Minat Orang Tua dan Milenial

    Kumara Anggita - 26 Februari 2020 20:21 WIB
    <i>15 Minutes with Wahyu Wiwoho</i>, Menjembatani Minat Orang Tua dan Milenial
    Wahyu Wiwoho News Anchor dan Producer Metro TV. (Foto: Dok. Medcom.id/Wijokongko)
    Jakarta: News Anchor dan Producer Metro TV, Wahyu Wiwoho kini hadir dengan program terbarunya yang disebut dengan 15 Minutes with Wahyu Wiwoho. Program ini menjadi jembatan untuk para kaum milenial dengan orang tua.

    Sesuai dengan namanya, 15 minutes with Wahyu Wiwoho adalah program TV yang hanya berdurasi 15 menit. Kendati demikian, tidak selama program-program TV yang sebelumnya, Anda tetap akan mendapatkan informasi komperhensif yang dikemas dalam gaya yang lebih santai.

    “15 minutes ini program yang mendobrak pakem durasi. Biasanya program TV  berdurasi 30 menit. Ini menjadi 15 menit. Ini sulit," ujar Wahy kepada Medcom.id, Rabu 26 Februari 2020.

    "Acara ini berangkat dari penonton TV yang sudah mulai terganggu dengan digital platform. New media tak butuh waktu. Jangankan 30 menit, 15 menit saja sudah terasa lama. Jadi durasi atensi orang sudah semakin mengerucut sempit," sambungnya.

    Bukan program dadakan

    Wahyu mengungkapkan bahwa program ini hadir tidak tiba-tiba. Riset menunjukkan bahwa saat ini orang bisa fokus memberikan atensi pada suatu hal hanya dalam waktu sekitar 14 menit.

    “Di Inggris, attention spend orang tahun 2017 hanya 14 menit untuk melakukan apa saja. Untuk baca buku, nonton TV, dengerin orang ngobrol. Cepat keganggu. Ini terganggu karena digital platform,” ujar Wahyu.

    “Di Amerika juga serupa, orang nonton di digital platform. Durasi yang paling efektif dan efisien termasuk para pengiklan rentangnya 10-16 menit. Kita cari angka yang moderat (15 menit),” tambahnya.

    <i>15 Minutes with Wahyu Wiwoho</i>, Menjembatani Minat Orang Tua dan Milenial
    Wahyu Wiwoho dalam program 15 Minutes dengan tema Histeria Korona. (Foto: 15 Minutes)

    Program ini juga tak hanya memberikan informasi umum semata. Wahyu akan memberikan perspektif yang berbeda yang membuat kita berpikir ulang saat menyerap berbagai informasi di era digital yang serba ada dan cepat ini.

    “Misalnya episode coronavirus, orang banyak histeria korona. Orang over-reactive pada ancaman ini. Padahal data-data yang kita lihat, angka kematian dari 72.000 orang cuma 1.020 orangnya (meninggal dunia)," jelas Wahyu.

    "Artinya cuma 2.3 persen. Sementara dari mereka 80 persennya kasus ringan dan bisa sembuh sendiri. Memang ini hal serius, namun tingkat kematiannya tidak terlalu mengkhawatirkan. Jadi kita mau angkat itu dengan perspektif berbeda,” terangnya.

    Semua kalangan

    Program 15 Minutes with Wiwoho juga bisa dinikmati oleh siapa saja. Sebab program ini dikemas dengan informasi yang komperhensif, sekaligus ada nuansa hiburannya juga.

    “Pendekatannya ada gimmick show-nya. Ada satu sisi seriusnya yang bisa dimakan oleh orang tua, namun ada ada gimmick show entertainment-nya yang mengambil milenial atau gen Z. karena Metro TV dari (penontonnya) 20 tahunan juga ada,” jelas Wahyu.

    Program ini diharapkan bisa menjadi cara untuk mengembalikan orang untuk menonton TV. Kita semua bisa menikmatinya.

    Hidup simpel Wahyu Wiwoho

    Ketika orang banyak melakukan usaha untuk membuat penampilan terlihat menarik, Wahyu Wiwoho ternyata menjalankan hidupnya secara simpel. Bagaimana tidak, untuk menjaga tubuhnya dalam keadaan fit, Wahyu hanya mengandalkan tidur yang cukup. Wahyu bahkan tidak melakukan diet-diet tertentu yang memusingkan.

    “Tidak ada diet. Makan nasi tetap banyak. gorengan juga makan, nasi padang juga dimakan, namun semuanya diimbangi buah dan sayur,” bebernya.

    Wahyu juga tidak rutin berolahraga. Kalau pun dia berolahraga, biasanya wahyu jogging bersama keluarga tercinta. Tepatnya saat Car Free Day.

    “Olahraga seminggu sekali sudah bagus, itu jogging. Hari minggu dimanfaatin karena pagi-pagi ada momen car free day ya sudah,” jelasnya.

    Untuk perawatan muka, Wahyu juga hanya menggunakan sabun pencuci muka saja. Dia pun bergurau menyebutkan bahwa sebelumnya kulitnya bahkan terbakar karena sedang meliput di Palu tanpa menggunakan tabir surya.

    Saat waktu senggang, Wahyu menyempatkan diri untuk mengajar public speaking. Selain itu, terkadang ia masih suka memainkan kameranya untuk foto-foto hal yang menurutnya menarik, khususnya saat dia sedang traveling.

    Traveling adalah salah satu momen yang disukai Wahyu. Namun sayangnya akhir-akhir ini kesenangannya tidak bisa sering tersalurkan.

    “Traveling, senang namun karena berkeluarga jadi tidak sefleksibel dulu. Jadi kalau travel tunggu anak-anak libur sekolah. Kalau tidak yang dekat-dekat sekitar Jakarta. Kalau pun travel sama keluarga,” jelasnya.

    Traveling digemari olehnya bukan karena ikut-ikut tren semata. Wahyu merasa, setiap dia ke suatu tempat baru, dia bisa membaca manusia-manusia yang ada di tempat itu. Hal ini memberikan perspketif tersendiri baginya.

    “Travel yang saya suka ada dua hal, kuliner dan sejarah. Jadi kalau jalan ke suatu tempat harus wajib untuk nyobain segala jenis makanan atau minuman di sana dan sejarah yang otomatis berhubungan dengan budaya. Saya senang mempelajari orangnya, ada istiadat, suatu daerah yang jarang kita datangkan,” ujarnya.

    “Harus datang ke pasar juga karena dari sana kita bisa lihat aktivitas asli penduduk lokal. Termasuk denyut ekonominya, kebiasaanya, dan adat istiadat,” pungkas Wahyu.


    (FIR)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id