Tips agar Anda Tidak Berteriak atau Membentak Si Kecil

    Raka Lestari - 17 Februari 2020 18:30 WIB
    Tips agar Anda Tidak Berteriak atau Membentak Si Kecil
    American Academy of Pediatrics mengatakan bahwa berteriak dapat meningkatkan hormon stres anak-anak. (Foto: Pexels.com)
    Jakarta: Sebagai orang tua pasti pernah merasa kesal terhadap anak Anda bahkan sampai ingin membentak mereka. Akan tetapi, membentak atau berteriak kepada anak Anda bisa berdampak sangat buruk.

    Dilansir dari Huffpost, American Academy of Pediatrics mengatakan bahwa berteriak dapat meningkatkan hormon stres anak-anak dan menyebabkan perubahan dalam otak kecil mereka.

    Dan mungkin Anda bertanya-tanya, apa yang harus dilakukan untuk mencegah hal tersebut? Berikut ini adalah tips yang bisa dilakukan untuk berhenti berteriak atau membentak anak-anak:

    Perbedaan antara membentak untuk melindungi dan marah

    "Kemarahan itu sendiri adalah emosi yang dirancang untuk mengubah perilaku," kata Dr Joseph Shrand, seorang psikiater dan kepala medis dari Riverside Community Care di Massachusetts.

    "Kadang-kadang kita berteriak untuk melindungi anak dan itu adalah jenis teriakan yang berbeda. Anda meninggikan suara untuk memberitahu anak Anda bahwa ada bahaya." Jika Anda meneriaki anak Anda karena dia akan melakukan sesuatu yang berbahaya, itu boleh-boleh saja dilakukan.

    Ketika akan marah, sentuhlah dahi Anda

    "Kemarahan berasal dari sistem limbik, yang merupakan bagian dari emosional dari otak," kata Shrand. Bagian otak yang lebih berpikir dan rasional adalah korteks prefrontal yang berada di dahi Anda.

    Untuk mencegah Anda berteriak kepada anak Anda, Shrand menyarankan untuk meletakkan tangan Anda di dahi Anda dan menarik napas dalam-dalam ketika Anda merasakan dorongan untuk berteriak.

    Mengalihkannya dengan melakukan sesuatu

    Carla Naumburg, seorang pekerja sosial klinis menyarankan untuk Anda berhenti dan melakukan hal lain. Misalnya saja dengan ambil napas dalam-dalam, tetap diam, kemudian bisa melompat atau melakukan hal lain untuk mendistraksi.

    Menurutnya, dengan melakukan kegiatan lain maka itu dapat membantu mengeluarkan energi sehingga Anda dapat berpikir jernih untuk tidak berteriak kepada anak Anda.

    Tidak apa-apa mengingatkan si kecil berulang kali

    Banyak orang tua yang kesal ketika anak mereka tidak mendengarkan nasihat. Padahal menurut Jennifer Kolari, seorang terapis anak dan keluarga, lobus frontal anak-anak belum berkembang sepenuhnya sampai mereka berusia 20-an.

    Mereka perlu mendengar beberapa hal berulang-ulang sampai mereka benar-benar memahaminya. Jadi, pengulangan tidak selalu berarti Anda gagal atau tidak disiplin. Ini berarti Anda melakukan pekerjaan Anda sebagai orang tua dan mengulang pelajaran yang perlu mereka dengar saat mereka berkemban



    (TIN)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id