Kenali Penyebab Sembelit pada Bayi

    Torie Natalova - 04 November 2019 11:29 WIB
    Kenali Penyebab Sembelit pada Bayi
    Untuk mencegah bayi mengalami sembelit, setelah berusia enam bulan bayi dapat mulai mengonsumsi lebih banyak bubur dan buah-buahan atau sayuran. (Foto: Life is Fantastic/Unsplash)
    Jakarta: Masalah pencernaan seperti konstipasi atau sembelit tak hanya dialami oleh orang dewasa, tetapi juga bayi. Meski sembelit bayi biasanya tidak serius, masalah ini dapat membuat bayi tidak nyaman sehingga bayi membuatnya rewel.

    Sembelit merupakan kondisi di mana tinja menjadi lebih kencang dan lebih keras, sehingga sulit dikeluarkan dari tubuh. Anak biasanya akan merasa kesakitan ketika mereka perlu mengosongkan isi perut.

    Untuk menghindari rasa sakit, tanpa disadari anak akan mulai menahan tinja untuk keluar. Tak ayal itu membuat kotoran lebih lama tinggal dalam usus besar.

    Akibatnya, tubuh bayi akan menyerap lebih banyak air dari kotoran dan membuatnya lebih sulit untuk keluar. Inilah yang bisa menyebabkan bayi Anda tetap kesulitan buang air besar.

    Banyaknya tinja di usus membuat usus membesar dan lebih aktif mencoba membersihkan isinya. Dalam beberapa kasus, anak mungkin tidak mau makan dan bahkan mungkin sedikit muntah.

    Ada sejumlah penyebab bayi mengalami sembelit, yang mungkin berkaitan dengan bagaimana cara Anda memberinya makan. Sembelit dapat terjadi pada bayi yang minum susu formula. Pada bayi yang diberikan ASI, sembelit jarang terjadi karena ASI lebih mudah dicerna.

    ASI juga mengandung hormon yang disebut motilin. Tugasnya meningkatkan pergerakan usus bayi, sehingga membantu mengosongkan isi perut. Bayi yang minum susu formula biasanya memiliki kotoran yang lebih tebal. Dehidrasi di cuaca panas juga bisa menyebabkan bayi sembelit.

    Tetapi, dalam beberapa kasus sembelit bisa menjadi gejala dari penyakit yang lebih serius. Jika bayi mengalami sembelit diikuti tidak mengalami kenaikan berat badan atau menunjukkan gejala yang tidak biasa, segera periksa ke dokter.

    Pergerakan usus bayi berbeda-beda berdasarkan usianya. Jumlah buang air besar yang dialami bayi muda sangat bervariasi. Bayi yang disusui biasanya sering buang air besar sampai mereka berusia 2-3 bulan, dan kotoran biasanya berwarna kuning. Namun, mereka juga bisa berhari-hari tidak buang air besar.

    Sedangkan pada bayi di atas usia empat bulan atau begitu mulai makan makanan padat, frekuensi buang air besar dan konsistensinya akan tergantung pada makanan yang dimakan. Kotoran akan terlihat sedikit seperti kotoran biasa dalam konsistensi dan berbau.

    Setelah mulai mengonsumsi makanan padat, bayi mungkin mengalami sedikit sembelit karena usus harus terbiasa dengan komposisi nutrisi yang baru dan mungkin memerlukan asupan cairan yang lebih tinggi untuk menangani beberapa makanan seperti sayuran berserat.

    Untuk mencegah bayi mengalami sembelit, setelah berusia enam bulan bayi dapat mulai mengonsumsi lebih banyak bubur dan buah-buahan atau sayuran dalam makanannya. Ini karena makanan tersebut kaya serat dan membantu mencegah sembelit. Bayi Anda membutuhkan lebih banyak air untuk mencerna serat dengan benar.



    (FIR)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id