Perjalanan Meutia Hatta, Cintai Antropologi dari Akademisi Sampai Jadi Menteri

    Kumara Anggita - 23 April 2019 20:56 WIB
    Perjalanan Meutia Hatta, Cintai Antropologi dari Akademisi Sampai Jadi Menteri
    Prof. Dr. Meutia Farida Hatta Swasono, merupakan sosok yang pernah menjabat sebagai Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan dalam Kabinet Indonesia Bersatu (2004 hingga 2009). (Foto: Dok. Medcom.id/Kumara Anggita)
    Jakarta: Senyum lembut menyapa dari sudut pintu, membawa suasana hangat di ruang temaram rumahnya. Bagaikan di kelas pagi, wanita berkacamata ini dengan antusias membekali cerita-cerita yang bisa dibawa pulang.

    Satu kata terus terucap olehnya yaitu Antropologi. Antropologi adalah suatu studi ilmu yang memelajari tentang manusia baik dari segi budaya, perilaku, keanekaragaman, dan lain sebagainya.
    Sebuah studi yang ternyata mewarnai kehidupannya dari dulu hingga saat ini.

    Prof. Dr. Meutia Farida Hatta Swasono, merupakan sosok yang pernah menjabat sebagai Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan dalam Kabinet Indonesia Bersatu (2004 hingga 2009).

    Dikenal sebagai pribadi yang murah senyum serta ramah, putri mantan wakil presiden dan proklamator Indonesia, Mohammad Hatta ini juga mendapatkan gelar doktor dalam bidang antropologi dari Universitas Indonesia pada tahun 1991.

    Awal mula cinta antropologi

    Semua bermula dengan sederhana. Saat ia duduk di bangku SMA, ia mendapatkan berbagai tugas yang perlu dikaitkan dengan perspektif budaya. Dari sana, ia tahu bahwa dirinya tertarik untuk mendalami ilmu semacam ini. Kemudian masuklah ke dalam jurusan antropologi.

    “Kami ditugaskan macam-macam kegiatan, seperti adat perkawinan, cerita rakyat dan lain-lain. Saya mulai tertarik. Saya diminta mulai meliput juga, tapi belum ada video. Di situlah diajak teman untuk masuk ke antropologi dan saya masuk ke Fakultas Sastra Universitas Indonesia (UI),” tutur akademisi sekaligus politikus Indonesia ini pada Medcom.is di kediamannya.

    Semakin mengenali ilmu ini, wanita yang pada tahun 2002–2005 merupakan Ketua Umum Yayasan Hatta ini merasa semakin terpanggil untuk mendalaminya. Ilmu ini dapat menjadi dasar untuk menganalisis segala fenomena yang terjadi.

    “Saya merasa cocok di sana karena antropologi memelajari manusia dan budaya dalam arti fisik, psikologis, dan sosial budaya. Semua itu komperensif. Misalnya jadi tahu bagaimana orang mengalami gangguan jiwa,” tuturnya.

    Tak berhenti di situ, kariernya mengarah ke tempat lain lagi. Ia menjadi menteri di Kabinet Indonesia Bersatu.

    Perjalanan Meutia Hatta, Cintai Antropologi dari Akademisi Sampai Jadi Menteri(Bersama beberapa mahasiswa yang melakukan pemberdayaan masyarakat di sebuah desa. Foto: Dok. Instagram Meutia Hatta/@meutiahatta)
     

    “Ini (mengajar) adalah suatu sumbangan dalam hidup. Membuat orang menerima pengetahuan. Ini adalah salah satu bentuk menjalankan perintah Tuhan,” Prof. Meutia Hatta.


    Dari akademisi sampai ke menteri

    Saat Prof. Meutia menjadi Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan dalam Kabinet Indonesia Bersatu (2004 hingga 2009), baginya ini merupakan tantangan dalam memulai sesuatu di luar kebiasaanya.

    “Saya direkrut oleh menteri yang membutuhkan eselon satu untuk menggantikan yang pensiun. Beliau mengenal saya karena saya memimpin pariwisata. Saya diminta jadi deputi satu 11 bulan di sana, mungkin pak Susilo Bambang Yudhoyono membaca statement saya,” tuturnya.

    “Tahunya saya ada namanya dan dipanggil. Saya menerima untuk mengelola negara,” tuturnya.

    Kali ini Prof. Meutia tidak belajar dalam lingkup antropologi saja. Ia mendalami studi mengenai perempuan.

    “Di situ saya baca-baca buku tentang perempuan. Misalnya pandangan budaya mengenai kekerasan, sika-sikap budaya terhadap perempuan. Bagaimana perempuan punya naluri untuk maju, bagaimana orang lihat perempuan dan lansia perempuan,” tuturnya.

    “Saya baca juga menteri-menteri punya program dan saya lihat itu program pemberdayaan dunia,” tuturnya.

    Namun, kembali lagi. Mengingat antropologi adalah ilmu yang komperhensif, Prof. Meutia dapat menerapkan ilmunya langsung dalam pengelolaan negara. “Jadi saya menggunakan ilmu antropologi juga di sini,” jelasnya lagi.

    Walaupun ilmunya berkaitan profesi ini dimaknai berbeda oleh Prof. Meutia. Menjadi menteri merupakan salah satu bentuk tugas buatnya. Sementara, mengajar merupakan kegiatan kebalikannya.

    “Akademisi itu seumur hidup, mengajar terus, ganti-ganti mahasiwa, tapi kalau jadi menteri lebih ke tugas. Tantangannya bagaimana saya bisa memberdayakan. Bagaimana program saya bisa diterapkan oleh semua orang indonesia dengan memperhitungkan kultur dan tingkat kemajuan mereka,” tuturnya.

    (Baca juga: Semangat Monik Menjaga Perbatasan RI dan Malaysia)

    Mengajar adalah bentuk ketaatan perintah Tuhan

    Bagi perempuan yang pernah mendapatkan gelar doktor dalam bidang antropologi dari Universitas Indonesia pada tahun 1991 ini, mengajar memiliki makna yang mendalam bagi kehidupan.

    Mengajar artinya menyumbangkan sesuatu pada orang lain. Dengan seperti itu, apa yang dilakukannya bersesuaian dengan kepercayaannya.

    “Ini (mengajar) adalah suatu sumbangan dalam hidup. Membuat orang menerima pengetahuan. Ini adalah salah satu bentuk menjalankan perintah Tuhan,” ujar Prof. Meutia.

    “Kalau dalam agama islam kan menjalankan perintah Tuhan untuk menolong manusia,” tuturnya.

    Tak hanya itu, dia juga mensyukuri dengan profesinya ini, dia pun jadi tak berhenti untuk belajar.

    “Saya bisa saling belajar. Sampai saat ini saya bisa belajar banyak dari muda-muda dan menolong masyarakat yang bisa jadi bisa,” tuturnya.

    Perjalanan Meutia Hatta, Cintai Antropologi dari Akademisi Sampai Jadi Menteri
    (Momen spesial: Bersama dengan tujuh wakil presiden dan Presiden Republik Indonesia ketiga. Di depan presiden-presiden dan wakil presiden sebelumnya dari negaraku tercinta. Foto: Dok. Instagram Meutia Hatta/@meutiahatta)
     

    Mengajar artinya menyumbangkan sesuatu pada orang lain.


    Perasaan jadi anak proklamator, Mohammad Hatta

    Menjadi anak proklamator, Dr.(HC) Drs. H. Mohammad Hatta menjadi kebangaan buatnya. Sosok sang ayah merupakan tokoh pejuang, negarawan, ekonom, dan juga Wakil Presiden Indonesia yang pertama, yang juga ikut memproklamirkannya kemerdekaan Republik Indonesia pada 17 Agustus 1945.

    Bagi Prof. Meutia adalah sosok yang memiliki nilai yang baik dan amat cinta pada negara Indonesia. Nilai kebaikan yang diajarkan Bapak Hatta begitu beragam.

    Pertama, sang ayah selalu mengajarkan ia dan saudara-saudaranya untuk tidak membeda-bedakan orang.

    “Saya lahir langsung jadi anak wakil presiden, saya sudah lihat banyak orang di rumah, ada paswal, pembantu. Dari kecil saya tahu cara bersikap dengan orang. Ayah saya tidak mengajarkan untuk membedakan kelas. Tiap Sabtu Minggu saya ke desa, ketemu orang desa. Pengalaman itu sangat berkesan,” tuturnya.

    Kedua, sang ayah juga mengajarkan untuk hidup sederhana dan tidak kikir pada penjual. Bapak Hatta selalu beli buah di pinggir jalan dan tak pernah sekalipun menawar harga.

    “Itu dia juga selalu baik dengan orang. Walaupun dia bekas wakil presiden, dia kalau beli buah di pinggir jalan, dia tidak pernah nawar. Saya jadi terbiasa untuk tidak nawar dengan penjual,” tuturnya.

    Ketiga, sang ayah mengajarkan anak-anaknya untuk hidup dengan jujur. Hidup mewah tidaklah menjadi orientasi keluarganya.

    “Melihat orang lain memiliki sesuatu yang kita inginkan adalah hal yang tidak enak. Namun, bapak Mohammad Hatta mengajarkan kami untuk menjalaninya saja. Di balik itu, ada kebangaan sendiri karena saya tidak korupsi," tuturnya.

    “Itu yang saya terima, saya pakai baju bertahun-tahun tidak apa. Saya tidak terlalu into sama fashion harus baru. Saya memadukan yang lama dengan yang baru,” tuturnya.

    Tiga hal tersebut pun terserap dalam benak Prof. Meutia. Tak lupa dia mengajarkan hal ini pada orang di sekitarnya pula.

    Perjalanan Meutia Hatta, Cintai Antropologi dari Akademisi Sampai Jadi Menteri
    (Pesanggrahan Menumbing, tempat di mana Mohammad Hatta diasingkan di Bangka, Desember 1948 - Juli 1949. Foto: Dok. Instagram Meutia Hatta/@meutiahatta)

    Pernah menjadi korban bully atau perundungan

    Walaupun menjadi anak proklamator secara garis besar merupakan hal yang membanggakan dan menyenangkan, di sisi lain, ia juga pernah mengalami kendala akibat hak istimewa yang dia terima.

    Sewaktu dirinya duduk di bangku Sekolah Dasar (SD), dia menjadi korban bully atau perundungan karena ia selalu dikawal.

    “Teman saya satu kelas mungkin ada yang jealous juga karena saya protokol, kemanapun satu pengawal dan satu pembantu,” tuturnya.

    Ia sampai kehilangan teman-teman dan merasa tertekan. Ia sampai dipindahkan ke kelas lain untuk melewati masa-masa pahit ini.

    “Dia cari kesempatan untuk marah sama saya. Bertengkar biasa. Dia merekrut semua teman perempuan untuk tidak berteman dengan saya. Ada sisa dua yang mau temanan,” tuturnya.

    “Ibu saya memindahkan di kelas sebelah dan saya dapat teman baru, akhirnya dia hilang. Waktu itu saya sedih, saya dikasari. Namun ibu memilih itu, saya senang di situ (kelas baru),” tuturnya.

    Baginya, kasus perundungan memang sangat menganggu dan harus diatasi. Dia berharap di luar sana guru bisa bekerja sama dalam kasus semacam ini.

    Terus mengajar

    Saat ini Prof. Meutia berusia 72 tahun. Banyak undangan untuk ceramah dan undangan pameran. Namun secara garis besar kegiatannya tidak terlepas dari mengajar.

    Walaupun sudah pensiun, ia masih mengajar mahasiwa dan mahasiswi. Seperti yang dikatakan sebelumnya, profesi ini akan terus dilanjutkannya.

    Dia juga meneruskan hobinya di bidang fotografi. Namun kembali lagi mengingat kecintaannya terhadap ilmu antropologi begitu dalam, tipe foto Prof. Meutia adalah hal-hal yang bisa dikaitkannya dengan kuliahnya.

    “Fotografi hobi saya dari remaja. Dulu juga tak seperti sekarang. Kamera masih harus digulung. Satu roll 12 naik 25, 36. Saya bikin foto-foto banyak,” tuturnya.

    “Saya mengombinasikan fotografi, saya berpikir juga tentang kuliah saya. Misalnya menumbuk padi, saya suru supir berhenti. Saya potret. Ini dipakai buat mahasiwa. Jadi mereka tahu perubahan kebudayaan. Rumah-rumah daerah. Sedikitnya mereka tahu. Semua foto saya suka tapi aspek antropologinya keluar,” tuturnya.

    Kecintaan Prof. Meutia terhadap ilmu dan profesinya membawanya pada ruang yang beragam. Ini menjadi langkah yang bisa Anda ikuti untuk mulai mencintai apa yang sedang Anda kerjakan.





    (TIN)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id